7 Sisi Kelam Era Pendudukan Jepang di 100 Days of Deception

Suara derap sepatu tentara Jepang merupakan mimpi buruk bagi penduduk Joseon kala itu. Mereka sebenarnya tidak mempunyai keinginan yang muluk-muluk selain hidup dengan damai. Akan tetapi, jika melihat perilaku tentara Jepang saat itu, impian sederhana tersebut seolah-olah mustahil menjadi kenyataan.
Meski hari-hari terasa sangat berat, mereka tidak memiliki pilihan lain selain menjalani kehidupan dengan sisa-sisa kekuatan. Setiap melangkahkan kali keluar rumah, mereka disuguhi tindakan kejam tentara Jepang yang sangat tidak manusiawi. Berikut 7 sisi kelam pendudukan Jepang dalam drakor 100 Days of Deception.
1. Tokoh pergerakan kemerdekaan dan keluarganya dikejar oleh tentara Jepang kemudian disiksa habis-habisan

cuplikan drama 100 Days of Deception (dok.tvn/100 Days of Deception) 2. Rakyat biasa yang tidak mengetahui apa-apa juga ikut dibombardir oleh tentara Jepang

cuplikan drama 100 Days of Deception (dok.tvn/100 Days of Deception) 3. Desa-desa yang dicurigai sebagai markas pejuang kemerdekaan dibumihanguskan oleh tentara Jepang

cuplikan drama 100 Days of Deception (dok.tvn/100 Days of Deception) 4. Sebagian besar penduduk Joseon kala itu mengalami kelaparan. Makanan menjadi hal yang sangat sulit didapatkan

cuplikan drama 100 Days of Deception (dok.tvn/100 Days of Deception) 5. Lapangan pekerjaan juga sangat terbatas, terutama bagi masyarakat yang berasal dari kalangan bawah

cuplikan drama 100 Days of Deception (instagram.com/tvn_drama) 6. Terbatasnya lapangan pekerjaan, mengakibatkan banyak penduduk Joseon hidup di bawah garis kemiskinan

cuplikan drama 100 Days of Deception (dok.tvn/100 Days of Deception) 7. Fenomena lain yang terjadi yakni kesenjangan sosial penduduk kaya dan miskin semakin melebar

cuplikan drama 100 Days of Deception (dok.tvn/100 Days of Deception) Jika dilihat dari dua episode awal, maka bisa dikatakan bahwa drakor 100 Days of Deception berhasil menggambarkan suasana era pendudukan Jepang dengan sangat nyata. Beragam penderitaan yang dialami penduduk Joseon juga ditampilkan secara jelas.






















