Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Karyawan Berkinerja Baik Tetap Bisa Kena PHK
Mengajukan Resign (freepik.com/freepik)
  • PHK dapat menimpa karyawan berprestasi saat perusahaan menghadapi tekanan keuangan, karena pengurangan biaya tenaga kerja ditentukan kebutuhan anggaran, bukan hanya pencapaian individu.
  • Otomatisasi teknologi dan perubahan kebutuhan bisnis dapat mengurangi relevansi posisi atau keahlian tertentu, meski perusahaan juga dapat memilih pelatihan ulang maupun pemindahan peran.
  • Efisiensi organisasi serta merger atau akuisisi bisa memangkas posisi dan fungsi yang tumpang tindih; karyawan disarankan memperbarui keterampilan, CV, jaringan, dan dana darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Layoff atau pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi salah satu risiko yang dapat terjadi di dunia kerja, bahkan bagi karyawan yang memiliki kinerja baik. Selama ini, karyawan yang mampu mencapai target, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan memperoleh penilaian positif dari atasan mungkin merasa posisinya relatif aman. Namun, kenyataannya, kinerja individu bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah seseorang akan tetap bekerja di sebuah perusahaan.

Keputusan layoff sering kali berkaitan dengan kondisi keuangan perusahaan, perubahan strategi bisnis, hingga kebutuhan untuk menyesuaikan jumlah tenaga kerja. Artinya, karyawan yang kompeten dan berdedikasi pun bisa terdampak meskipun tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Lalu, apa saja alasan karyawan berkinerja baik tetap bisa terkena layoff? Scroll dibawah ini!

1. Perusahaan mengalami kesulitan keuangan

Ilustrasi menghitung uang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Salah satu alasan utama perusahaan melakukan layoff adalah tekanan keuangan. Ketika pendapatan menurun, biaya operasional meningkat, atau arus kas terganggu, perusahaan mungkin perlu mengurangi pengeluaran untuk mempertahankan kelangsungan bisnis. Dalam situasi tersebut, biaya tenaga kerja dapat menjadi salah satu komponen yang dievaluasi karena mencakup gaji, tunjangan, asuransi, dan berbagai fasilitas karyawan.

Kondisi ini membuat karyawan berkinerja baik tetap berisiko terkena layoff. Perusahaan bisa saja mengurangi jumlah tenaga kerja berdasarkan kebutuhan anggaran, bukan semata-mata berdasarkan pencapaian individu. Bahkan, karyawan yang selalu memenuhi target belum tentu dapat dipertahankan apabila perusahaan tidak lagi memiliki anggaran untuk membiayai seluruh posisi yang tersedia.

2. Pekerjaan mulai diotomatisasi oleh teknologi

Ilustrasi artificial intelligence (pexels.com/Sanket Mishra)

Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan sistem otomatisasi, mengubah cara perusahaan menyelesaikan berbagai pekerjaan. Tugas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu oleh perangkat lunak, seperti pengolahan data rutin, administrasi, layanan pelanggan dasar, dan penyusunan laporan sederhana. Penggunaan teknologi dapat membantu perusahaan meningkatkan kecepatan kerja sekaligus mengurangi biaya operasional.

Ketika sebagian tugas berhasil diotomatisasi, perusahaan mungkin membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja untuk menjalankan fungsi tertentu. Karyawan yang sebelumnya bekerja secara efisien pun tetap berisiko terdampak apabila sebagian besar tanggung jawabnya dapat dialihkan ke sistem otomatis. Meski demikian, otomatisasi tidak selalu berujung pada PHK karena perusahaan juga dapat memilih untuk melatih ulang karyawan, memindahkan mereka ke posisi lain, atau mengembangkan tanggung jawab yang membutuhkan kemampuan manusia.

3. Perusahaan mulai mengurangi jumlah karyawan untuk efisiensi

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Ivan S)

Perusahaan terkadang melakukan pengurangan tenaga kerja sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi. Langkah ini dapat dilakukan ketika perusahaan menilai bahwa jumlah karyawan, pembagian tugas, atau biaya operasional sudah tidak sesuai dengan kebutuhan bisnis. Pengurangan tenaga kerja juga dapat terjadi ketika perusahaan ingin menyederhanakan proses kerja dan memusatkan sumber daya pada bagian yang dianggap lebih penting.

Dalam situasi tersebut, penilaian kinerja individu bukan satu-satunya pertimbangan. Perusahaan dapat mengevaluasi kebutuhan setiap departemen, jumlah posisi yang tersedia, serta fungsi pekerjaan yang dinilai paling relevan untuk operasional ke depan. Akibatnya, karyawan dengan catatan kerja yang baik tetap mungkin terkena layoff apabila posisi atau departemennya termasuk dalam bagian yang dikurangi. Namun, alasan efisiensi tidak berarti setiap keputusan layoff otomatis tepat; pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.

4. Posisi atau keahlian tidak lagi sesuai dengan kebutuhan perusahaan

Bekerja Di Kantor (freepik.com/pressfoto)

Karyawan yang berkinerja baik biasanya mampu menjalankan tanggung jawab sesuai standar pekerjaannya. Namun, kebutuhan perusahaan dapat berubah sehingga kemampuan yang sebelumnya sangat dibutuhkan menjadi kurang relevan. Perubahan teknologi, metode kerja, produk, atau target pasar dapat mendorong perusahaan mencari keahlian yang berbeda dari sebelumnya.

Sebagai contoh, seorang karyawan mungkin sangat terampil mengelola laporan secara manual, tetapi perusahaan mulai menggunakan sistem analisis data yang lebih kompleks. Apabila karyawan tersebut belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan dan perusahaan tidak menyediakan atau tidak dapat melakukan penyesuaian posisi, risiko terdampak layoff dapat meningkat. Meski begitu, hal ini bukan berarti karyawan harus menguasai semua teknologi baru sekaligus. Mengembangkan keterampilan secara bertahap, mengikuti pelatihan yang relevan, dan memahami perkembangan bidang pekerjaan dapat membantu meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan.

5. Terjadi penggabungan perusahaan atau akuisisi

Mengajukan Resign (freepik.com/freepik)

Penggabungan perusahaan atau merger dan akuisisi dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja secara signifikan. Setelah dua perusahaan bergabung, beberapa fungsi seperti sumber daya manusia, keuangan, pemasaran, dan administrasi mungkin memiliki tanggung jawab yang saling tumpang tindih. Perusahaan kemudian mengevaluasi struktur organisasi untuk menentukan pembagian tugas yang lebih efisien.

Dalam kondisi tersebut, karyawan berkinerja baik dari kedua perusahaan bisa menghadapi risiko layoff karena tidak semua posisi dapat dipertahankan. Sebagai contoh, dua perusahaan yang sebelumnya memiliki masing-masing satu tim administrasi dapat membentuk satu tim gabungan setelah merger. Keputusan mengenai posisi yang dipertahankan dapat dipengaruhi oleh kebutuhan organisasi, kesesuaian keahlian, struktur jabatan, dan pertimbangan bisnis lainnya. Karena itu, hasil kerja yang baik tidak selalu menjamin seseorang akan tetap berada di posisi yang sama setelah penggabungan perusahaan.

Meskipun tidak semua risiko layoff dapat dikendalikan, karyawan tetap bisa melakukan sejumlah persiapan untuk menghadapi ketidakpastian dunia kerja. Memperbarui keterampilan, membangun jaringan profesional, menyimpan catatan pencapaian kerja, memperbarui CV secara berkala, serta menyiapkan dana darurat dapat menjadi langkah yang bermanfaat. Memiliki sumber penghasilan tambahan juga dapat dipertimbangkan sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia. Pada akhirnya, kinerja yang baik tetap penting, tetapi kesiapan beradaptasi dan perencanaan karier juga berperan dalam membantu seseorang menghadapi perubahan di dunia kerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article