Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menghadapi Guilt-Tripping dari Rekan Kerja
ilustrasi seorang rekan kerja memberikan tugas tambahan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Guilt-tripping di tempat kerja terjadi ketika rasa bersalah dipakai untuk menekan seseorang agar memenuhi permintaan, misalnya lewat solidaritas tim atau ungkitan bantuan sebelumnya.
  • Sebelum membantu, pekerja perlu mengecek kapasitas dan tanggung jawab sendiri, lalu menyampaikan penolakan secara singkat, tenang, sopan, serta tanpa penjelasan berlebihan.
  • Jika pola tekanan berulang hingga mengganggu pekerjaan, bicarakan perilakunya secara profesional; bila berlanjut, libatkan atasan atau HR sesuai prosedur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tempat kerja, rasa tidak enak sering membuat seseorang sulit berkata “tidak”. Apalagi kalau ada rekan kerja yang pandai membuat permintaan terdengar seperti kewajiban. Mulai dari membawa-bawa solidaritas tim, mengungkit bantuan sebelumnya, sampai membuatmu merasa egois ketika tidak bisa membantu.

Pola seperti ini dikenal sebagai guilt-tripping, yaitu cara membuat seseorang merasa bersalah agar mengikuti keinginan tertentu. Tidak semua permintaan bantuan adalah guilt-tripping, tetapi kalau rasa bersalah terus digunakan untuk menekanmu, kamu perlu mulai memasang batas yang lebih sehat. Berikut tujuh cara menghadapinya!

1. Kenali kapan rasa bersalah mulai dimainkan

ilustrasi seorang wanita meminta bantuan kepada rekan kerjanya (pexels.com/Mikhail Nilov)

Langkah pertama adalah menyadari polanya. Perhatikan apakah rekan kerja sering membuatmu merasa bersalah setiap kali kamu menolak permintaan, bahkan ketika alasanmu sebenarnya masuk akal.

Misalnya, kamu sedang mengejar deadline sendiri, tetapi justru dibuat merasa tidak peduli karena tidak bisa mengambil pekerjaan mereka. Kalau pola seperti ini terus berulang, masalahnya mungkin bukan sekadar permintaan bantuan, tetapi cara permintaan tersebut disampaikan.

2. Jangan langsung merasa wajib membantu

ilustrasi seorang wanita meminta bantuan kepada rekan kerjanya (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang kesulitan, refleks pertama kita mungkin ingin membantu. Namun, rasa kasihan tidak otomatis membuat sebuah tugas menjadi tanggung jawabmu.

Sebelum mengatakan iya, cek dulu pekerjaan dan kapasitasmu sendiri. Membantu ketika memang mampu adalah bentuk kerja sama, sedangkan memaksakan diri karena takut dianggap buruk justru bisa membuatmu kewalahan.

3. Jawab dengan singkat dan tetap tenang

ilustrasi seorang rekan kerja yang berdiskusi pekerjaan (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Guilt-tripping sering menjadi lebih kuat ketika kita terlalu banyak menjelaskan alasan. Semakin panjang penjelasan yang diberikan, semakin banyak celah untuk diperdebatkan atau dibalas dengan rasa bersalah.

Cukup sampaikan kondisi secara jelas, misalnya, “Aku belum bisa bantu sekarang karena masih menyelesaikan tugas ini.” Tidak perlu membuat pembelaan panjang. Batas yang disampaikan dengan tenang tetap merupakan batas.

4. Pisahkan rasa bersalah dari tanggung jawab

ilustrasi dua rekan kerja yang saling berdiskusi pekerjaan (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Merasa tidak enak bukan berarti kamu melakukan sesuatu yang salah. Ini penting karena rasa bersalah sering membuat seseorang buru-buru mengubah keputusan meski sebenarnya tidak ada kewajiban yang dilanggar.

Kalau pekerjaan tersebut bukan tanggung jawabmu atau kamu memang sedang tidak punya kapasitas, menolak bukan berarti tidak peduli. Kamu hanya sedang mengatur prioritas agar pekerjaan sendiri tetap berjalan dengan baik.

5. Jangan terpancing untuk membalas secara emosional

ilustrasi seorang wanita yang bekerja di kantor (pexels.com/Alena Darmel)

Ketika terus ditekan, rasanya memang mudah ingin membalas dengan nada yang sama. Namun, respons emosional justru bisa membuat situasi semakin panjang dan melelahkan.

Cobalah tetap fokus pada fakta dan pekerjaan yang sedang dibahas. Hindari berdebat soal siapa yang paling berkorban. Semakin tenang responsmu, semakin sulit percakapan bergeser menjadi permainan rasa bersalah.

6. Tetapkan batas tanpa merasa bersalah

ilustrasi seroang wanita yang fokus menyelesaikan pekerjaannya (pexels.com/cottonbro studio)

Belajar mengatakan tidak merupakan salah satu cara penting untuk menghadapi guilt-tripping di tempat kerja. Ketika kamu memang tidak memiliki kapasitas, sedang mengejar deadline, atau tugas tersebut bukan bagian dari tanggung jawabmu, kamu berhak menolak tanpa harus merasa menjadi rekan kerja yang buruk.

Sampaikan penolakan secara singkat, sopan, dan tegas tanpa memberikan terlalu banyak alasan. Kamu tidak perlu terus meminta maaf atau berusaha membuat orang lain merasa senang dengan keputusanmu. Menetapkan batas bukan berarti menolak kerja sama, tetapi memastikan bahwa bantuan yang diberikan tetap sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang kamu miliki.

7. Bicarakan jika polanya sudah mengganggu pekerjaan

ilustrasi seorang wanita yang merasa kelelahan bekerja (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Kalau guilt-tripping terjadi berulang kali dan mulai memengaruhi pekerjaan atau hubungan profesional, jangan hanya dipendam. Cobalah membicarakannya secara langsung ketika situasinya sedang tenang.

Sampaikan perilaku yang kamu alami, bukan langsung memberi label pada orangnya. Jika pola tersebut tetap berlanjut dan sudah mengganggu pekerjaan, kamu bisa mempertimbangkan untuk melibatkan atasan atau pihak HR sesuai prosedur di tempat kerja.

Menghadapi rekan kerja yang sering melakukan guilt-tripping bukan berarti harus menjadi cuek atau berhenti membantu orang lain. Intinya adalah membedakan antara membantu karena memang mampu dan membantu karena dibuat merasa bersalah.

Kamu tetap bisa menjadi rekan kerja yang suportif tanpa harus selalu mengatakan "iya". Dalam lingkungan kerja yang sehat, kerja sama seharusnya lahir dari komunikasi dan pembagian tanggung jawab yang jelas, bukan dari rasa bersalah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article