Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Kesalahan Networking yang Bikin Kariermu Stuck, Yuk Evaluasi!

5 Kesalahan Networking yang Bikin Kariermu Stuck, Yuk Evaluasi!
ilustrasi networking (magnific.com/rawpixel-com)
Intinya Sih
  • Banyak profesional mengalami karier mandek bukan karena kurang kemampuan, tapi karena salah memahami arti networking yang sebenarnya.

  • Kesalahan umum meliputi hanya menghubungi saat butuh, fokus pada orang berjabatan tinggi, dan menambah koneksi tanpa interaksi nyata.

  • Networking efektif dibangun lewat komunikasi konsisten, saling memberi nilai, serta menjaga hubungan tulus bahkan ketika belum membutuhkan bantuan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Banyak orang merasa sudah bekerja keras setiap hari, tetapi kariernya tetap berjalan di tempat. Kamu mungkin rajin lembur, punya kemampuan yang terus berkembang, dan selalu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Namun anehnya, kesempatan besar justru datang ke orang lain yang terlihat “punya koneksi”.

Padahal, penyebab karier stuck gak selalu soal kemampuan kerja yang kurang. Banyak orang salah memahami networking dan menganggapnya cuma formalitas untuk cari lowongan atau kenalan baru. Yuk simak beberapa kesalahan networking yang diam-diam bikin perkembangan kariermu mandek tanpa sadar.

1. Menghubungi orang hanya saat sedang butuh

ilustrasi perempuan menelepon
ilustrasi perempuan menelepon (freepik.com/freepik)

Kamu mungkin pernah tiba-tiba menghubungi mantan rekan kerja setelah berbulan-bulan menghilang. Obrolannya pun langsung berubah jadi pertanyaan soal lowongan atau permintaan rekomendasi kerja. Tanpa sadar, pola seperti ini membuat hubungan terasa sangat transaksional.

Dalam dunia profesional, orang biasanya bisa merasakan siapa yang benar-benar ingin membangun koneksi dan siapa yang hanya datang saat butuh bantuan. Professional connection yang sehat dibangun lewat komunikasi kecil yang konsisten, bukan muncul mendadak ketika keadaan sedang genting. Itulah kenapa pendekatan seperti ini sering menjadi penyebab karier stuck tanpa disadari.

2. Terlalu fokus mendekati orang “penting”

ilustrasi orang mengobrol
ilustrasi orang mengobrol (magnific.com/freepik)

Ada orang yang hanya semangat mendekati atasan, direktur, atau orang dengan jabatan tinggi. Sementara rekan kerja setingkat atau junior justru dianggap tidak terlalu penting untuk dijaga hubungannya. Padahal, orang-orang yang bekerja langsung bersamamu sering kali paling tahu kualitas kerjamu yang sebenarnya.

Dalam beberapa tahun ke depan, posisi mereka bisa berubah jauh lebih cepat dari yang kamu bayangkan. Dunia kerja bergerak dinamis, dan rekomendasi terbaik sering datang dari orang yang pernah tumbuh bersamamu. Karena itu, career development bukan cuma soal siapa bos yang kamu kenal, tetapi juga siapa yang percaya pada kualitas dirimu.

3. Sibuk menambah koneksi, tapi tidak pernah membangun interaksi

ilustrasi mengakses linkedin
ilustrasi mengakses linkedin (freepik.com/ijeab)

Punya ribuan koneksi di LinkedIn memang terlihat mengesankan di permukaan. Namun setelah diperhatikan lagi, mungkin tidak banyak orang yang benar-benar mengenal dirimu atau memahami kemampuanmu. Koneksi akhirnya hanya menjadi angka yang sepi interaksi.

Banyak orang lupa bahwa cara networking yang benar bukan sekadar menekan tombol “connect”. Hubungan profesional juga butuh percakapan kecil, apresiasi sederhana, atau komentar yang tulus terhadap pencapaian orang lain. Tanpa engagement yang nyata, koneksi hanya menjadi daftar nama yang mudah dilupakan.

4. Terlalu sibuk menjual diri sendiri

ilustrasi networking yang bermakna
ilustrasi networking yang bermakna (magnific.com/rawpixel-com)

Saat mendapat kesempatan berbicara di acara profesional, kamu mungkin langsung menjelaskan semua pencapaianmu tanpa jeda. Kamu terus membicarakan proyek, pengalaman kerja, dan target karier seolah sedang membaca isi CV sendiri. Padahal lawan bicaramu belum tentu nyaman mendengarkan monolog panjang seperti itu.

Networking yang sehat sebenarnya lebih mirip percakapan daripada presentasi pribadi. Orang biasanya lebih nyaman dengan sosok yang mau mendengar dan menunjukkan rasa penasaran yang tulus. Ketika kamu terlalu fokus membicarakan diri sendiri, orang bisa merasa lelah bahkan sebelum hubungan profesional itu berkembang lebih jauh.

5. Selalu meminta tanpa pernah memberi nilai

ilustrasi laki-laki menggunakan handphone
ilustrasi laki-laki menggunakan handphone (magnific.com/wirestock)

Ada orang yang hanya muncul untuk meminta bantuan, meminta koneksi, atau meminta rekomendasi kerja gratis. Namun ketika orang lain membutuhkan dukungan kecil, mereka justru menghilang dan sulit dihubungi. Lama-lama, hubungan profesional terasa berat sebelah dan melelahkan.

Padahal, memberi nilai tidak selalu harus besar atau mahal. Membagikan informasi bermanfaat, membantu menyebarkan acara, atau sekadar memberi dukungan kecil juga termasuk bentuk kontribusi dalam hubungan profesional. Orang biasanya lebih nyaman menjaga koneksi dengan seseorang yang membuat hubungan terasa saling menguntungkan, bukan sekadar dimanfaatkan.

Kerja keras memang penting, tetapi dunia kerja juga berjalan lewat hubungan yang sehat dan tulus. Kadang penyebab karier stuck bukan karena kamu kurang pintar, melainkan karena cara membangun koneksi yang masih keliru. Mulailah menjaga hubungan profesional dari sekarang, bahkan ketika kamu belum membutuhkan apa pun dari mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More