Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Kebiasaan yang Bisa Membuat Seseorang Menjadi Chronically Online

5 Kebiasaan yang Bisa Membuat Seseorang Menjadi Chronically Online
Ilustrasi scrolling handphone (magnific.com/benzoix)
Intinya Sih
  • Artikel membahas fenomena 'chronically online', yaitu kondisi ketika dunia digital mengambil porsi berlebihan dalam kehidupan sehari-hari hingga memengaruhi kebiasaan dan interaksi sosial seseorang.
  • Dijelaskan lima kebiasaan yang menandakan seseorang terlalu terikat dengan internet, seperti terus membuka media sosial, sulit berhenti scrolling, dan lebih aktif berinteraksi di dunia maya daripada nyata.
  • Teks menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline agar hubungan sosial tetap sehat serta waktu pribadi tidak tersita oleh penggunaan internet berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Internet telah menjadi bagian yang gak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, mencari hiburan, hingga berkomunikasi dengan orang lain, hampir semua aktivitas kini dapat dilakukan secara online. Meski menawarkan banyak kemudahan, penggunaan internet yang berlebihan juga dapat memengaruhi kebiasaan, cara berpikir, hingga interaksi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Belakangan ini, istilah chronically online semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika dunia digital mulai mengambil porsi yang terlalu besar dalam keseharian. Kebiasaan ini biasanya berkembang secara perlahan sehingga gak selalu mudah disadari. Kalau kamu merasa semakin sulit lepas dari internet atau hampir selalu terhubung dengan dunia maya, coba perhatikan beberapa kebiasaan berikut. Siapa tahu, salah satunya sudah mulai menjadi bagian dari rutinitasmu.

1. Terus membuka media sosial setiap ada waktu luang

Seorang wanita mengenakan kemeja putih sedang memeriksa ponsel merah di meja kerja dengan laptop dan tanaman hias di kantor modern.
Ilustrasi cek handphone (magnific.com/DC Studio)

Setiap kali memiliki waktu kosong, tanganmu mungkin langsung mencari ponsel untuk membuka media sosial. Entah saat menunggu antrean, berada di kendaraan umum, menunggu makanan datang, atau bahkan ketika sedang makan, rasanya selalu ada dorongan untuk melihat unggahan terbaru. Kebiasaan ini sering terjadi secara otomatis tanpa benar-benar disadari.

Lama-kelamaan, otak menjadi terbiasa mencari stimulasi dari layar setiap kali ada jeda dalam aktivitas. Akibatnya, kamu bisa merasa gelisah atau bosan ketika gak memiliki akses ke media sosial meski hanya beberapa menit. Padahal, momen-momen singkat tersebut sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat sejenak dari derasnya arus informasi.

Sesekali, cobalah menikmati waktu tanpa membuka ponsel. Perhatikan suasana di sekitarmu, mengobrol dengan orang yang sedang bersama, atau sekadar duduk menikmati momen tanpa distraksi. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi sekaligus memberi ruang bagi pikiran untuk benar-benar beristirahat.

2. Selalu mengikuti setiap tren yang muncul di internet

Seorang perempuan duduk di sofa sambil memegang ponsel dan mengenakan headphone besar di lehernya dengan jaket oranye di bahu.
Ilustrasi scroll ponsel (pexels.com/SHVETS production)

Tren di internet datang dan pergi dengan sangat cepat. Kalau kamu merasa harus selalu mengetahui semua topik yang sedang viral agar gak ketinggalan, kebiasaan ini bisa membuat waktu online terus bertambah. Rasa takut melewatkan informasi sering mendorong seseorang membuka media sosial berkali-kali sepanjang hari, meski sebenarnya gak ada kebutuhan yang mendesak.

Keinginan untuk terus mengikuti perkembangan membuat perhatian mudah terpecah. Tanpa disadari, kamu jadi lebih sering memeriksa media sosial di sela-sela bekerja, belajar, atau beristirahat hanya untuk memastikan gak ada tren baru yang terlewat. Akibatnya, fokus terhadap aktivitas lain dapat berkurang dan waktu yang dimiliki terasa cepat habis.

Mengikuti tren memang gak ada salahnya, apalagi jika berkaitan dengan pekerjaan atau minatmu. Namun, kamu tetap bisa memilih informasi yang benar-benar relevan tanpa merasa harus mengetahui semua hal yang sedang ramai dibicarakan. Dengan begitu, hubunganmu dengan dunia digital tetap terasa sehat tanpa mengorbankan waktu dan perhatian untuk kehidupan sehari-hari.

3. Lebih sering berinteraksi di dunia maya daripada kehidupan nyata

Seorang perempuan duduk santai di sofa sambil menggulir layar ponsel di ruang tamu dengan cahaya alami dari jendela.
Ilustrasi scroll HP (pexels.com/www.kaboompics.com)

Komunikasi melalui media sosial atau aplikasi pesan memang membuat banyak hal menjadi lebih mudah dan praktis. Namun, kalau hampir seluruh interaksi dilakukan secara online, hubungan di kehidupan nyata bisa mulai terabaikan tanpa disadari. Kehadiran teknologi seharusnya membantu komunikasi, bukan menggantikan sepenuhnya interaksi secara langsung.

Misalnya, kamu lebih sering membalas komentar di media sosial daripada mengobrol dengan keluarga saat sedang berkumpul. Atau, kamu merasa lebih nyaman berdiskusi di internet dibanding berbicara langsung dengan teman. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat bisa ikut berkurang karena momen kebersamaan gak lagi dimanfaatkan secara maksimal.

Menjaga keseimbangan antara interaksi online dan offline dapat membantu hubungan sosial tetap terjalin dengan baik. Luangkan waktu untuk benar-benar hadir saat bersama keluarga, teman, atau pasangan tanpa terus terdistraksi oleh layar ponsel. Dengan begitu, kebersamaan terasa lebih hangat, percakapan menjadi lebih bermakna, dan hubungan dengan orang-orang terdekat pun bisa semakin erat.

4. Sulit berhenti scrolling meski sebenarnya sudah lelah

Seorang perempuan berbaring di tempat tidur sambil menggunakan ponsel di bawah cahaya lampu meja yang hangat di malam hari.
Ilustrasi scroll ponsel (pexels.com/Ron Lach)

Kamu mungkin pernah berniat membuka media sosial hanya selama lima menit, tetapi tanpa disadari akhirnya menghabiskan waktu hampir satu jam untuk terus scrolling. Setelah selesai, tubuh terasa lelah, tetapi muncul keinginan untuk terus melihat unggahan berikutnya. Kebiasaan seperti ini sering terjadi karena aliran konten yang seolah gak ada habisnya membuatmu sulit berhenti.

Akibatnya, waktu untuk beristirahat, belajar, bekerja, atau melakukan aktivitas lain perlahan berkurang. Tanpa disadari, berbagai tugas penting bisa terus tertunda karena perhatian lebih banyak tersita oleh media sosial. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini juga dapat membuatmu merasa waktu sehari terasa cepat habis tanpa benar-benar melakukan hal yang direncanakan.

Kalau mulai menyadari pola tersebut, cobalah menetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari atau memanfaatkan fitur pengingat durasi layar di ponsel. Kebiasaan sederhana ini dapat membantumu lebih mudah mengendalikan waktu online sekaligus memberi ruang yang lebih besar untuk aktivitas lain yang menjadi prioritas.

5. Membawa topik internet ke hampir setiap percakapan

Dua wanita duduk dan berbincang di area luar ruangan dengan latar tanaman hijau dan kolam air yang tenang.
Ilustrasi berbicara dengan teman (pexels.com/ Nowrin Sanjana)

Orang yang sering menghabiskan waktu di internet biasanya sangat akrab dengan meme, istilah, atau candaan yang sedang viral. Gak jarang, hampir setiap percakapan selalu dikaitkan dengan konten yang baru saja dilihat di media sosial. Selama masih sesuai dengan situasi dan lawan bicara, kebiasaan ini tentu bukan masalah. Namun, kalau hampir semua topik pembicaraan selalu berpusat pada dunia maya, bisa jadi internet sudah mengambil porsi yang terlalu besar dalam keseharianmu.

Cobalah memperbanyak aktivitas di luar dunia digital agar pengalaman yang kamu miliki gak hanya berasal dari layar. Menghabiskan waktu bersama teman, mencoba hobi baru, membaca buku, atau berolahraga dapat memberikan pengalaman yang berbeda sekaligus memperkaya sudut pandang. Dengan begitu, bahan obrolanmu pun menjadi lebih beragam dan gak selalu bergantung pada tren yang sedang viral.

Pada akhirnya, menjadi chronically online bukan sekadar sering menggunakan internet, melainkan ketika dunia digital mulai mendominasi kehidupan sehari-hari. Internet tetap memberikan banyak manfaat jika digunakan secara bijak. Karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan kehidupan nyata agar keduanya bisa berjalan berdampingan. Kalau kamu mulai merasa sulit lepas dari layar, gak ada salahnya mengevaluasi kembali kebiasaan sehari-hari dan mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya

Related Articles

See More