Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 MBTI yang Paling Cocok Jadi Auditor, Instingnya Tajam!

5 MBTI yang Paling Cocok Jadi Auditor, Instingnya Tajam!
ilustrasi melakukan pemeriksaan data (pexels.com/Mikhail Nilov)
Intinya Sih
  • Profesi auditor menuntut independensi, objektivitas, serta kemampuan menemukan bukti nyata tanpa bergantung pada asumsi atau tekanan pihak lain.
  • Lima tipe MBTI yang dinilai paling cocok jadi auditor adalah ISTJ, INTJ, INTP, ISTP, dan ESTJ karena ketelitian serta insting tajam mereka dalam mendeteksi ketidaksesuaian.
  • Setiap tipe MBTI memiliki keunggulan unik seperti kepatuhan aturan, rasa ingin tahu tinggi, hingga keberanian menghadapi tekanan demi menjaga integritas hasil audit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Setiap perusahaan biasanya memiliki tim audit yang posisinya independen untuk memastikan pekerjaan mereka tidak diintervensi oleh pihak mana pun. Tim ini umumnya melaporkan progres dan hasil kerja langsung kepada Direktur Utama atau Komite Audit. Dengan struktur seperti ini, auditor dapat menjaga objektivitas dalam setiap penilaian yang diberikan.

Setiap temuan dalam audit, harus memiliki bukti yang jelas, bukan asumsi atau penilaian sepihak. Kondisi ini membuat auditor tidak hanya dituntut teliti, tetapi juga harus memiliki insting tajam dalam menangkap ketidaksesuaian yang tersembunyi. Beberapa MBTI memiliki karakteristik yang cocok untuk kebutuhan di bidang ini, di samping latar belakang pendidikan yang relevan. Yuk, simak tipe MBTI apa saja yang memiliki karakter tersebut.

1. ISTJ

Melakukan pengecekan dokumen
ilustrasi melakukan pengecekan dokumen (pexels.com/Mikhail Nilov)

Tipe ISTJ terbiasa bekerja dengan alur yang rapi dan tidak melewatkan satu detail pun tanpa bukti yang jelas. Mereka akan membandingkan laporan dengan dokumen pendukung satu per satu, bahkan ketika data awal sudah terlihat meyakinkan. ISTJ tidak akan ragu menelusuri ulang jika ada selisih kecil daripada langsung menganggapnya wajar.

Sikap skeptis mereka muncul ketika menemukan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tidak dijalankan secara konsisten. Mereka tidak akan menerima alasan “biasanya memang begitu” jika perusahaan memiliki aturan yang wajib dipatuhi. Bagi ISTJ, kepatuhan terhadap aturan adalah hal yang tidak bisa ditawar.

2. INTJ

Melakukan audit
ilustrasi melakukan audit (pexels.com/MART PRODUCTION)

Apabila ada angka yang melonjak dalam laporan, INTJ biasanya tetap menangkap adanya sesuatu yang perlu ditelusuri, meski rasa curiganya masih tipis. Mereka akan membandingkannya dengan periode sebelumnya untuk melihat apakah ada perbedaan yang tidak wajar. Penjelasan secara lisan saja tanpa bukti pendukung jarang membuat mereka berhenti menelusuri.

Misalnya, saat memeriksa laporan biaya lembur yang tiba-tiba membengkak di satu departemen, INTJ akan menelusuri log jam masuk dan keluar karyawan, lalu mencocokkannya dengan output pekerjaan mereka hari itu, serta perhitungan dari tim payroll. Pemeriksaan ini tidak jarang melibatkan data dari lintas departemen karena setiap bagian bisa saling berkaitan. Jika ditemukan ketidaksesuaian, mereka tidak ragu mempertanyakannya meskipun harus berhadapan dengan pihak yang lebih senior.

3. INTP

Menangkap informasi penting
ilustrasi menangkap informasi penting (pexels.com/Vitaly Gariev)

INTP punya rasa ingin tahu yang kuat terhadap hal-hal kecil yang sering terlewat dalam proses pemeriksaan. Mereka tidak mudah puas hanya karena data terlihat rapi, terutama jika ada bagian yang terasa tidak sepenuhnya nyambung. Bahkan sistem yang tampak terlalu sempurna justru bisa membuat mereka mulai mempertanyakan bagaimana semuanya bekerja.

Sebagai contoh, saat memeriksa daftar vendor baru, INTP menelusuri alamat kantor atau data pemilik perusahaan tersebut berdasarkan informasi yang tersedia di internet. Dari penelusuran itu, mereka bisa saja menemukan hubungan tersembunyi antara pihak ketiga dengan karyawan internal hanya dengan menghubungkan detail kecil seperti nomor telepon atau kesamaan alamat. Ketajaman mereka dalam memecahkan teka-teki data membuat INTP sangat handal dalam audit investigatif yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

4. ISTP

Melakukan pemeriksaan ke lapangan
ilustrasi melakukan pemeriksaan ke lapangan (pexels.com/Jack Sparrow)

ISTP memiliki kemampuan kuat dalam menangkap ketidaksesuaian antara laporan tertulis dengan kondisi nyata yang mereka temui di lapangan. Mereka cenderung skeptis dan tidak mudah percaya hanya pada data sebelum melakukan pengecekan langsung secara fisik. Ketajaman saat melakukan pemeriksaan membuat ISTP sangat peka terhadap perubahan kecil yang sering kali luput dari pengawasan.

Misalnya, saat melakukan audit aset kendaraan atau mesin produksi, ISTP akan memeriksa kondisi fisik dan catatan penggunaan secara mendetail. Jika laporan menyebutkan adanya biaya perawatan besar, tetapi kondisi mesin terlihat tidak sesuai dengan tingkat pemakaian yang tercatat, mereka akan langsung menelusuri lebih jauh. Sikap mereka tetap objektif karena lebih percaya pada bukti fisik yang ditemukan sendiri dibanding sekadar penjelasan lisan.

5. ESTJ

Menjelaskan temuan audit
ilustrasi menjelaskan temuan audit (pexels.com/Los Muertos Crew)

Tipe ESTJ dikenal tegas, berorientasi pada aturan, dan tidak menunda keputusan ketika temuan sudah jelas. Sifat ini membuat mereka berani menyampaikan hasil audit meskipun harus berhadapan dengan pihak yang memiliki posisi lebih tinggi. Bagi mereka, ketegasan dalam memastikan fakta jauh lebih penting daripada menjaga kenyamanan relasi kerja.

Ketika menemukan pelanggaran kontrak oleh vendor besar yang memiliki kedekatan dengan pihak internal, ESTJ tetap akan mendorong tindak lanjut sesuai prosedur yang berlaku. Mereka memastikan setiap temuan masuk ke laporan resmi, bukan berhenti di pembahasan tidak formal. Dalam prosesnya, mereka tetap berpegang pada aturan meskipun ada tekanan dari relasi maupun posisi yang terlibat.

Bidang kerja audit memang membutuhkan orang-orang yang tidak mudah goyah oleh tekanan di lingkungan kerja. Bakat alami yang ditunjukkan oleh lima tipe MBTI di atas, sudah jadi modal besar untuk bisa berkarier menjadi auditor. Insting yang tajam dalam membaca ketidaksesuaian, ditambah ketelitian dalam menelusuri detail kecil, menjadi bekal penting untuk bertahan di bidang ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More