Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tipe Orang Paling Mungkin Resign Tanpa Backup Plan, Kamu Termasuk?
ilustrasi seorang pria resign dari pekerjaan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Keputusan resign tanpa pekerjaan pengganti sering dianggap nekat dan terlalu berisiko. Namun, belakangan ini semakin banyak orang yang berani mengambil langkah tersebut karena merasa kondisi kerja sudah tidak lagi sehat untuk dijalani. Bagi sebagian orang, berhenti bekerja justru dianggap sebagai cara untuk menyelamatkan diri dari tekanan yang terus menumpuk setiap hari.

Meski alasannya berbeda-beda, ada beberapa tipe orang yang cenderung lebih berani resign tanpa backup plan. Mulai dari pekerja yang mengalami burnout hingga mereka yang merasa kehilangan arah dalam kariernya. Kira-kira, kamu termasuk salah satunya?

1. Si burnout yang sudah kehabisan energi

ilustrasi burnout saat bekerja (pexels.com/Karola G)

Tipe ini biasanya sudah terlalu lelah secara fisik dan mental akibat pekerjaan yang terus menekan. Mereka tetap datang ke kantor setiap hari, tetapi semangat kerjanya perlahan hilang. Bahkan, tugas sederhana pun mulai terasa berat untuk diselesaikan karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu capek.

Karena kondisinya semakin menurun, resign sering dianggap sebagai satu-satunya cara untuk beristirahat. Mereka merasa tidak sanggup lagi bertahan sambil mencari pekerjaan baru. Akibatnya, keputusan resign diambil lebih dulu demi memulihkan diri sebelum kembali memikirkan langkah karier berikutnya.

2. Si korban lingkungan kerja toxic

ilustrasi lingkungan kerja toxic (pexels.com/Yan Krukau)

Orang dengan tipe ini biasanya sudah terlalu lama berada di lingkungan kerja yang tidak sehat. Mulai dari atasan yang manipulatif, rekan kerja penuh drama, hingga budaya kantor yang melelahkan dapat membuat seseorang merasa stres setiap hari. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan rasa percaya diri karena tekanan tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, resign sering dilakukan demi menjaga kesehatan mental. Meski belum memiliki pekerjaan baru, mereka merasa keluar dari lingkungan toxic jauh lebih penting dibanding terus bertahan dalam situasi yang membuat hidup terasa berat setiap hari.

3. Si pencari makna hidup

ilustrasi seorang perempuan melamun (pexels.com/Liza Summer)

Tips ketiga adalah orang yang resign bukan karena membenci pekerjaannya, melainkan karena merasa hidupnya berjalan begitu saja tanpa arah yang jelas. Mereka mulai mempertanyakan tujuan karier, rutinitas kerja, hingga hal-hal yang sebenarnya ingin dicapai dalam hidup.

Biasanya, tipe ini memilih resign untuk mengambil jeda dan mengenal dirinya kembali. Ada yang ingin mencoba bidang baru, membangun usaha, atau sekadar beristirahat dari ritme hidup yang terlalu sibuk. Bagi mereka, resign menjadi titik awal untuk mencari kehidupan yang terasa lebih bermakna.

4. Si nekat yang sudah tidak tahan

ilustrasi seorang perempuan resign (freepik.com/freepik)

Tipe ini biasanya mengambil keputusan resign secara cepat karena merasa sudah tidak kuat lagi menghadapi pekerjaannya. Tekanan yang terus menumpuk membuat mereka ingin segera keluar tanpa terlalu memikirkan rencana jangka panjang terlebih dahulu.

Meski terlihat impulsif, keputusan tersebut sering kali muncul setelah seseorang memendam rasa lelah dalam waktu lama. Mereka merasa bertahan lebih lama justru akan memperburuk kondisi fisik maupun mental. Karena itu, resign dianggap sebagai bentuk penyelamatan diri sebelum semuanya terasa semakin berat.

5. Si yang punya tabungan atau support system

ilustrasi menabung uang (pexels.com/cottonbro studio)

Sebagian orang lebih berani resign tanpa pekerjaan baru karena merasa memiliki kondisi finansial yang cukup aman. Tabungan darurat, dukungan pasangan, atau bantuan keluarga membuat mereka memiliki ruang untuk berhenti bekerja sementara waktu tanpa tekanan ekonomi berlebihan.

Dengan adanya rasa aman tersebut, mereka bisa lebih fokus memikirkan langkah berikutnya tanpa terburu-buru menerima pekerjaan baru. Meski tetap ada rasa khawatir, keberadaan support system membuat proses setelah resign terasa sedikit lebih ringan untuk dijalani.

Setiap orang memiliki alasan, kondisi, dan batas kemampuan yang berbeda-beda. Namun, apa pun tipenya, keputusan tersebut biasanya muncul setelah seseorang merasa ada hal dalam hidup atau pekerjaannya yang sudah tidak bisa lagi dipertahankan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article