Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Risiko Resign tanpa Back Up Plan yang Sering Terabaikan

5 Risiko Resign tanpa Back Up Plan yang Sering Terabaikan
Ilustrasi stres melamar kerja (pexels.com/Anna Shvets)
Intinya Sih
  • Resign tanpa rencana cadangan bisa menimbulkan tekanan finansial karena penghasilan berhenti sementara kebutuhan tetap berjalan, sehingga penting memiliki dana darurat sebelum mengambil keputusan.
  • Proses mencari pekerjaan baru sering memakan waktu lebih lama dari perkiraan, membuat masa transisi menjadi tantangan jika tidak disiapkan secara matang sejak awal.
  • Tanpa perencanaan jelas, mantan karyawan berisiko kehilangan arah, menerima pekerjaan yang tidak sesuai, dan tetap mengalami stres meski sudah keluar dari tempat kerja sebelumnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Keinginan untuk resign bisa muncul karena berbagai alasan. Ada yang merasa kelelahan dengan beban kerja, ingin mencari tantangan baru, atau merasa pekerjaannya sudah gak lagi sejalan dengan tujuan karier. Apa pun alasannya, mengundurkan diri merupakan keputusan besar yang dapat memengaruhi kondisi finansial, rutinitas, hingga rencana jangka panjang.

Karena itu, penting untuk mempertimbangkan keputusan resign dengan matang, terutama jika kamu belum memiliki pekerjaan baru atau rencana yang jelas setelah keluar dari perusahaan. Memahami berbagai kemungkinan yang akan dihadapi dapat membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih tenang dan realistis.

Resign tanpa back up plan gak selalu berakhir buruk. Namun, ada beberapa tantangan yang sebaiknya dipersiapkan sejak awal agar masa transisi berjalan lebih lancar. Berikut beberapa risiko yang perlu kamu ketahui sebelum memutuskan resign.

1. Tekanan finansial yang lebih besar

Seorang pria mengenakan topi rajut dan kemeja bergaris sedang menghitung uang tunai sambil mencatat di buku di atas meja di ruang tamu.
pexels menghitung anggaran (magnific.com/www.kaboompics.com)

Setelah resign, penghasilan rutin akan berhenti, sementara kebutuhan sehari-hari tetap berjalan seperti biasa. Biaya makan, tempat tinggal, transportasi, tagihan, hingga kebutuhan lainnya tetap harus dipenuhi. Jika belum memiliki sumber penghasilan baru atau dana darurat yang memadai, kondisi ini dapat menimbulkan tekanan finansial.

Tekanan tersebut biasanya akan semakin terasa apabila proses mencari pekerjaan baru memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Tabungan yang terus berkurang bisa memunculkan rasa khawatir dan membuat kamu merasa terburu-buru untuk segera mendapatkan penghasilan.

Karena itu, penting untuk menghitung kondisi keuangan sebelum memutuskan resign. Memiliki dana darurat atau rencana finansial yang jelas dapat membantu kamu melewati masa transisi dengan lebih tenang. Dengan begitu, kamu memiliki waktu untuk mencari pekerjaan yang sesuai tanpa dibebani kekhawatiran terhadap kebutuhan sehari-hari.

2. Proses mencari kerja bisa lebih lama

Seorang wanita berpakaian formal tersenyum saat menjalani wawancara kerja di ruang kantor modern dengan dinding bermotif garis.
Ilustrasi wawancara (pexels.com/Resume Genius)

Banyak orang berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan baru setelah resign. Namun, kenyataannya proses mencari kerja sering kali membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraan. Setiap perusahaan memiliki tahapan rekrutmen yang berbeda, mulai dari seleksi administrasi, tes, wawancara, hingga proses penawaran kerja.

Selama masa tersebut, belum tentu setiap lamaran langsung mendapatkan respons atau berujung pada penerimaan. Ada kalanya kamu perlu mengirim banyak lamaran dan mengikuti beberapa proses seleksi sebelum menemukan pekerjaan yang sesuai.

Karena itu, penting untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya jeda antara resign dan mendapatkan pekerjaan baru. Dengan memahami bahwa proses rekrutmen membutuhkan waktu, kamu bisa menyiapkan kondisi keuangan dan rencana selama masa transisi agar tidak merasa terlalu tertekan ketika pencarian kerja berlangsung lebih lama dari yang diharapkan.

3. Lebih mudah menerima pekerjaan yang tidak sesuai

Seorang wanita duduk di kursi kantor dengan tangan di kepala, tampak stres di depan meja kerja dengan laptop dan secangkir kopi.
Ilustrasi stres (magnific.com/freepik)

Ketika tabungan mulai menipis sementara kebutuhan hidup tetap berjalan, tekanan untuk segera mendapatkan penghasilan bisa semakin besar. Kondisi ini membuat sebagian orang merasa harus secepat mungkin kembali bekerja, meski pekerjaan yang tersedia belum tentu sesuai dengan minat, kemampuan, atau tujuan karier yang diinginkan.

Keputusan yang diambil dalam kondisi tertekan sering kali kurang dipertimbangkan secara matang. Akibatnya, kamu berisiko menerima pekerjaan yang sebenarnya kurang sesuai dengan harapan, baik dari segi lingkungan kerja, tanggung jawab, maupun peluang berkembang. Dalam beberapa kasus, situasi ini justru membuatmu kembali menghadapi masalah yang sama seperti di pekerjaan sebelumnya.

Karena itu, penting untuk mempersiapkan kondisi keuangan sebelum memutuskan resign. Dengan memiliki ruang finansial yang lebih aman, kamu bisa memiliki waktu untuk mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai tanpa harus terburu-buru mengambil keputusan.

4. Kehilangan arah setelah resign

Seorang wanita mengenakan kacamata dan kaus hijau tertidur di sofa abu-abu dengan bantal kuning, dikelilingi buku dan laptop terbuka.
Ilustrasi bosan (freepik.com/ tonodiaz)

Setelah resign, kamu akan memiliki lebih banyak waktu yang sebelumnya dihabiskan untuk bekerja. Jika belum memiliki rencana atau tujuan yang jelas, masa transisi ini bisa terasa membingungkan. Hari-hari yang awalnya terasa seperti waktu istirahat perlahan dapat berubah menjadi rasa bingung karena gak ada rutinitas yang dijalani.

Kondisi ini juga dapat memengaruhi motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tanpa target atau kegiatan yang ingin dicapai, kamu mungkin merasa kehilangan arah dan kesulitan mengatur waktu dengan baik. Akibatnya, masa setelah resign terasa kurang produktif dan gak memberikan kepuasan seperti yang diharapkan.

Karena itu, ada baiknya mulai menyusun gambaran tentang apa yang ingin kamu lakukan setelah resign. Rencana tersebut gak harus selalu berkaitan dengan pekerjaan baru. Kamu bisa mengisi waktu dengan belajar keterampilan baru, membangun kebiasaan yang lebih sehat, atau mengeksplorasi minat yang selama ini tertunda agar keseharian tetap terasa terarah.

5. Stres tidak selalu langsung hilang

Seorang wanita duduk di sofa dengan ekspresi murung sambil menatap ke bawah di ruang tamu yang terang dan rapi.
Ilustrasi overthinking (pexels.com/MART PRODUCTION)

Banyak orang berharap resign dapat menjadi jalan keluar dari tekanan yang dirasakan di tempat kerja. Memang, meninggalkan lingkungan kerja yang sudah tidak sehat bisa memberikan rasa lega. Namun, bukan berarti semua beban akan langsung hilang begitu saja. Kekhawatiran tentang kondisi keuangan, mencari pekerjaan baru, atau menghadapi masa transisi juga dapat memicu stres jika belum dipersiapkan dengan baik.

Karena itu, penting untuk melihat keputusan resign secara menyeluruh. Selain mempertimbangkan alasan untuk keluar dari pekerjaan, pikirkan juga langkah yang akan kamu ambil setelahnya. Persiapan sederhana seperti menyusun anggaran, menyiapkan dana darurat, atau mulai mencari peluang kerja baru dapat membantu proses transisi terasa lebih terarah.

Pada akhirnya, resign merupakan keputusan yang sangat personal dan setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda. Jika memungkinkan, luangkan waktu untuk mempersiapkan diri sebelum benar-benar mengundurkan diri. Dengan perencanaan yang lebih matang, kamu bisa menjalani masa transisi karier dengan lebih tenang dan siap menghadapi tantangan berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya

Related Articles

See More