Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Baru Dapat Kerja? Ini Cara Membangun Kesan Pertama yang Profesional
ilustrasi rekan kerja saling support (freepik.com/ tirachardz)
  • Pekerja baru dianjurkan datang tepat waktu, mengamati lingkungan, mencatat informasi, mengenal rekan kerja, dan memahami budaya organisasi sejak masa awal kerja.
  • Bertanya saat belum memahami tugas merupakan bagian wajar dari onboarding; dengarkan penjelasan rekan, pahami konteks, lalu komunikasikan pertanyaan secara relevan dan profesional.
  • Kesan awal berkembang menjadi reputasi melalui sikap yang dapat dipercaya: tidak terburu-buru tampil paling pintar, membangun hubungan, menepati komitmen, serta mengakui dan memperbaiki kesalahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hari pertama kerja akhirnya tiba. Setelah berminggu-minggu mencari lowongan, mengirim CV, mengikuti interview, lalu menunggu kabar HRD, sekarang kamu benar-benar duduk di depan laptop sebagai karyawan baru. Masalahnya, setelah rasa senang karena akhirnya dapat kerja mulai reda, muncul pertanyaan lain: harus mulai dari mana? Haruskah banyak ngobrol biar dianggap ramah atau lebih baik diam agar tidak salah bicara?

Bayangkan saja kamu masuk ke ruangan yang semua orangnya sudah saling mengenal. Ada yang sedang bercanda di pantry, sibuk mengejar deadline, sementara kamu masih berusaha mengingat nama orang-orang tersebut. Lalu, bagaimana cara membangun kesan pertama kerja biar profesional?

1. Datang tepat waktu dan jangan meremehkan hal-hal kecil

ilustrasi berangkat kerja (freepik.com/freepik)

Pagi pertama kerja sering terasa seperti hari pertama sekolah. Alarm disetel lebih pagi, pakaian mungkin sudah disiapkan malam sebelumnya, bahkan rute menuju kantor sudah dicek berkali-kali. Namun begitu sampai, jangan buru-buru merasa bahwa tugas utama adalah membuat semua orang terkesan.

Untuk pekerja baru, kesan profesional justru bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: menunjukkan bahwa kamu menghargai waktu. Jadi, datanglah tepat waktu, perhatikan cara kerja lingkungan baru, buat catatan, pelajari nama rekan kerja, tanyakan, dan bangun hubungan. Lalu, perlahan mulailah memahami budaya organisasi selama masa awal bekerja.

2. Jangan takut bertanya dan belajarlah mendengarkan

ilustrasi rekan kerja yang melakukan diskusi (pexels.com/Yan Krukau)

Hari berikutnya bekerja, misalnya kamu mendapat tugas yang belum pernah dikerjakan. Kamu membaca instruksi dua kali, mencoba mencari jawabannya sendiri, lalu akhirnya tetap bingung. Di satu sisi ingin bertanya. Di sisi lain, ada suara kecil di kepala yang berkata, "Jangan-jangan dikira gak kompeten."

Padahal, bertanya justru merupakan bagian penting dari proses menjadi pekerja baru. Mengutip PubMed Central (PMC), penelitian systematic review tentang onboarding berjudul Effectiveness of formal onboarding for facilitating organizational socialization: A systematic review menemukan bahwa pelatihan langsung di tempat kerja yang terstruktur dan didukung, merupakan strategi onboarding dengan bukti paling kuat untuk membantu pekerja baru beradaptasi.

Artinya, pekerja baru memang tidak diharapkan mengetahui semuanya sejak hari pertama dan ini sangat wajar. Selain itu, dengarkan juga cara rekan kerja menjelaskan sesuatu, perhatikan istilah yang digunakan, lalu ajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa kamu sudah mencoba memahami persoalannya.

3. Jaga cara bicara karena profesional bukan berarti kaku

Ilustrasi rekan kerja (Pexels.com/Mikhail Nilov)

Ada pekerja baru yang terlalu takut salah bicara sampai akhirnya hampir tidak pernah membuka percakapan. Ada juga yang sebaliknya: baru beberapa hari bekerja tetapi sudah terlalu santai, bercanda dengan semua orang, atau mengomentari sesuatu yang sebenarnya belum ia pahami.

Keduanya bisa terjadi karena satu alasan yang sama: belum mengetahui batas komunikasi di lingkungan baru. Penelitian tentang first impressions di tempat kerja menemukan bahwa komunikasi termasuk jenis isyarat yang secara konsisten memiliki pengaruh kuat terhadap kesan awal seseorang.

"Kesan pertama memegang peranan krusial dalam membentuk hasil kerja dan penilaian sosial dalam konteks organisasi. Meskipun pihak penilai mengandalkan berbagai isyarat informasi untuk membentuk kesan pertama, jenis isyarat tertentu, yaitu isyarat komunikasi memberikan dampak yang lebih konsisten dibandingkan jenis lainnya," demikian dikutip dari studi First Impressions at Work: A Meta-Analytic Review dalam Wiley Online Library.

Matt Abrahams, dosen komunikasi strategis di Stanford Graduate School of Business, juga menjelaskan bahwa kesan pertama memang penting karena dapat menjadi 'anchor' bagi kesan-kesan berikutnya. Namun, ia juga menekankan bahwa cara terbaik untuk tampil tidak selalu sama karena harus menyesuaikan dengan audiens dan konteks.

"Banyak dari kita melakukan kesalahan saat berkomunikasi dengan memulai dari apa yang ingin kita sampaikan, alih-alih memikirkan apa yang perlu didengar oleh audiens kita," kata Abrahams dikutip dari Stanford Graduate School of Business.

"Jadi, sebelum melakukan apa pun dalam komunikasi, kita perlu melakukan semacam pengamatan, refleksi, dan riset. Kita harus memikirkan siapa audiens kita dan apa kebutuhan mereka. Jika kita bisa membuat pesan kita relevan dan bermakna bagi mereka, mereka akan menyimak, belajar, dan lebih cenderung untuk mengambil tindakan," tambahnya.

4. Jangan berusaha terlihat paling pintar di minggu pertama

ilustrasi rekan kerja yang malas (pexels.com/Canva Studio)

Ada satu godaan yang cukup umum ketika seseorang baru mendapatkan pekerjaan: ingin membuktikan bahwa perusahaan tidak salah merekrutnya. Akhirnya, setiap rapat menjadi kesempatan untuk bicara. Setiap masalah ingin langsung diberi solusi. Bahkan sebelum memahami bagaimana tim bekerja, ia sudah ingin mengubah banyak hal.

Padahal, pekerja baru masih berada dalam proses membaca situasi. Adaptasi bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana seseorang memahami peran, lingkungan sosial, dan budaya organisasi. Proses sosialisasi yang efektif berkaitan dengan penyesuaian, kinerja, dan keberlangsungan pekerja baru.

Russell Korte, profesor di bidang Human Resource Education di University of Illinois Urbana-Champaign, menjelaskan bahwa sosialisasi pekerja baru merupakan proses belajar yang tidak hanya bergantung pada pekerja baru, tetapi juga dipengaruhi oleh rekan kerja dan manajer. Ia menekankan pentingnya melihat proses tersebut sebagai sesuatu yang bersifat relasional, bukan sekadar kewajiban pekerja baru untuk menyesuaikan diri.

"Salah satu episode penting dalam pembelajaran di tempat kerja adalah sosialisasi karyawan baru ke dalam organisasi. Hasil studi kasus kualitatif ini mengeksplorasi dan menjelaskan proses sosialisasi dari perspektif relasional, serta memberikan bukti kuat bahwa pembangunan hubungan merupakan faktor pendorong utama dalam proses sosialisasi di dalam organisasi," jelas Russell dalam studinya ‘First, get to know them’: a relational view of organizational socialization dikutip dari Taylor & Francis Online.

5. Bangun kesan profesional dengan menjadi orang yang bisa dipercaya

ilustrasi rekan kerja saling support (freepik.com/ tirachardz)

Setelah satu atau dua minggu, mungkin tidak ada lagi yang bertanya, "Kamu anak baru, ya?" Orang mulai mengenal namamu. Mulai ada rekan yang mengirim pesan langsung. Atasan mulai memberikan pekerjaan tanpa menjelaskan setiap langkahnya. Pada titik ini, kesan pertama perlahan berubah menjadi reputasi.

Itulah mengapa kesan profesional sebenarnya tidak berhenti di hari pertama. Jadi, daripada berusaha menjadi orang yang paling menarik di kantor, lebih baik menjadi orang yang bisa dipercaya. Kalau bilang akan mengirim file pukul tiga, usahakan kirim tepat waktu. Kalau belum mengerti, katakan belum mengerti. Kalau melakukan kesalahan, akui dan cari cara memperbaikinya.

James Uleman, PhD, profesor psikologi di New York University yang meneliti impression management, mengingatkan bahwa "judgments are being made and impressions formed all the time." Namun, ia juga menekankan bahwa kesan yang terbentuk dapat memengaruhi peluang kerja, kolaborasi, dan berbagai hubungan profesional di masa depan.

"Meskipun banyak pertemuan profesional berlangsung dalam suasana yang ramah, penilaian dan kesan terhadap diri kamu akan tetap terus terbentuk sepanjang waktu," jelanya dalam American Psychological Association.

Mendapatkan pekerjaan memang sebuah pencapaian, tetapi membangun kepercayaan di tempat kerja adalah perjalanan berikutnya. Kesan profesional biasanya bukan tentang bagaimana kamu terlihat di lima menit pertama, melainkan tentang bagaimana orang mengingat sikapmu setelah bekerja bersama berhari-hari.

Curated For You

Editorial Team

Related Article