Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Banyak Anak Muda Ingin Resign Padahal Baru Beberapa Bulan Kerja?

6 min read
Kenapa Banyak Anak Muda Ingin Resign Padahal Baru Beberapa Bulan Kerja?
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool)
  • Ekspektasi kerja yang berbeda dari realitas dapat menurunkan kepuasan karyawan baru, terutama saat tugas terasa rutin dan tidak sesuai gambaran awal.
  • Beban kerja, jam panjang, minimnya kendali, serta lingkungan dan atasan yang buruk bisa memicu kelelahan mental atau burnout dalam beberapa bulan pertama.
  • Keinginan resign juga muncul saat pekerja tidak melihat peluang belajar, feedback, atau jenjang karier; namun niat keluar perlu dibedakan dari frustrasi adaptasi sementara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hari pertama kerja biasanya terasa seperti awal dari sesuatu yang besar. Setelah berbulan-bulan mencari lowongan, mengirim CV, mengikuti interview, dan menunggu kabar HR, akhirnya ada juga tulisan “selamat bergabung” di email. Rasanya lega. Ada gaji yang akan diterima setiap bulan, pengalaman yang bisa ditambahkan ke CV, dan bayangan bahwa hidup mulai masuk ke fase yang lebih dewasa.

Namun, beberapa bulan kemudian, cerita itu bisa berubah. Alarm pagi mulai terasa seperti musuh, membuka laptop terasa berat, dan Minggu malam justru dihabiskan dengan menghitung berapa jam lagi sebelum Senin datang, hingga mungkin ada pikiran, “Kayaknya mau resign deh.” Lantas, kenapa keinginan untuk resign bisa muncul begitu cepat, bahkan ketika seseorang baru beberapa bulan bekerja?

  1. 1. Ekspektasi sebelum masuk kerja ternyata berbeda dengan kenyataan

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)

    Sebelum mendapatkan pekerjaan, kamu mungkin membayangkan akan mengerjakan proyek menarik, bertemu orang-orang profesional, belajar banyak hal, dan perlahan membangun karier. Apalagi setelah melihat deskripsi lowongan yang terdengar menjanjikan. Ada kata-kata seperti “dynamic environment”, “growth opportunity”, dan “career development” yang membuat pekerjaan terlihat seperti pintu menuju masa depan.

    Begitu masuk, realitasnya bisa berbeda. Ternyata sebagian besar waktu justru dihabiskan untuk membuat laporan, memperbaiki spreadsheet, mengejar revisi, mengikuti rapat, atau mengerjakan tugas berulang. Penelitian terhadap pekerja baru bahkan menemukan adanya “newcomer hangover effect, yaitu kondisi ketika kepuasan kerja menurun setelah karyawan semakin mengenal pekerjaan yang sebenarnya.

    "Karyawan baru sering kali mengalami "hangover effect" (efek penurunan pasca-antusiasme awal), di mana kepuasan kerja mereka menurun seiring mereka semakin mengenal pekerjaan tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kepuasan kerja berujung pada lintasan peningkatan niat untuk keluar dan pada akhirnya, tingkat pergantian karyawan yang lebih tinggi," demikian dikutip dari studi Coping with newcomer “Hangover”: How socialization tactics affect declining job satisfaction during early employment dalam ScienceDirect.

    Jadi, penurunan kepuasan tersebut kemudian berkaitan dengan meningkatnya keinginan untuk keluar. Masalahnya bukan selalu karena anak muda tidak tahan banting. Kadang, mereka baru saja menemukan bahwa pekerjaan yang mereka bayangkan sebelum masuk ternyata berbeda dengan pekerjaan yang benar-benar mereka jalani.

  2. 2. Baru beberapa bulan, tapi rasanya sudah kehabisan energi

    Ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
    Ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Ada pekerja yang awalnya menganggap lembur sebagai bagian dari proses belajar. “Namanya juga anak baru,” pikirnya. Ketika pulang lebih malam beberapa kali, ia masih bisa menghibur diri dengan kopi dan kalimat, “Nanti juga terbiasa.”

    Tetapi ketika pola tersebut menjadi rutinitas, tubuh mulai memberikan sinyal yang berbeda. Kelelahan akibat pekerjaan juga tidak selalu muncul dalam bentuk tidur seharian. Seseorang bisa tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, bahkan tersenyum ketika diajak bercanda, tetapi secara mental sudah merasa jauh dari pekerjaannya.

    "Job burnout adalah topik yang menjadi fokus penelitian saya dan telah diakui secara resmi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2019. Pada dasarnya, ini merupakan respons terhadap faktor pemicu stres kronis di tempat kerja yang tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini memiliki banyak kesamaan dengan stres biasa, namun dampaknya melampaui hal tersebut. Saat orang membicarakan burnout, itulah sebenarnya yang menjadi fokus perhatian kami," kata Christina Maslach, PhD, psikolog dan profesor emerita di University of California, yang dikenal luas melalui riset tentang burnout, dikutip dari Berkeley News.

    Jadi, ketika anak muda baru bekerja beberapa bulan tetapi sudah merasa ingin kabur, pertanyaannya tidak selalu harus, “Kenapa kamu tidak kuat?” Pertanyaan yang lebih masuk akal adalah, “Apa yang sebenarnya menguras energimu?” Bisa jadi masalahnya adalah beban kerja, jam kerja, kurangnya kendali, atau lingkungan yang membuat seseorang terus-menerus berada dalam tekanan.

  3. 3. Mereka tidak melihat ruang untuk bertumbuh

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by CRYSTALWEED cannabis)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by CRYSTALWEED cannabis)

    Bayangkan seseorang menerima pekerjaan pertamanya karena ingin belajar. Ia membayangkan enam bulan pertama sebagai masa untuk mengumpulkan kemampuan baru. Tetapi setelah tiga bulan, pekerjaannya masih sama. Setelah enam bulan, tugasnya masih sama.

    Ketika bertanya tentang jenjang karier, jawabannya hanya, “Jalani dulu saja.” Pada titik tertentu, rasa bosan bisa berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar: “Kalau aku bertahan di sini, aku akan menjadi apa?” Bagi banyak pekerja muda, pekerjaan bukan hanya tempat mendapatkan gaji, tetapi juga tempat membangun kemampuan dan identitas profesional.

    Karena itu, anak muda yang mulai mencari lowongan lain setelah beberapa bulan, belum tentu sedang mengejar gaji lebih tinggi semata. Bisa jadi ia sedang mencari tempat yang memberikan kesempatan untuk berkembang. Ketika seseorang merasa tidak belajar apa-apa, tidak mendapat feedback, dan tidak melihat kemungkinan dirinya tumbuh, pekerjaan yang awalnya terasa seperti kesempatan, bisa perlahan berubah menjadi jalan buntu.

  4. 4. Atasan dan lingkungan kerja bisa membuat orang ingin pergi

    Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)
    Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)

    Ada kantor yang membuat seseorang pulang dengan perasaan, “Capek, tapi gue belajar banyak.” Ada pula kantor yang membuat seseorang pulang sambil berkata, “Hari ini sebenarnya gue salah apa?” Perbedaannya terkadang bukan pada jenis pekerjaannya, melainkan pada bagaimana orang-orang di dalamnya saling memperlakukan.

    Atasan yang tidak pernah memberi arahan tetapi marah ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, rekan kerja yang gemar menyalahkan, komunikasi yang buruk, atau budaya lembur yang dianggap sebagai ukuran loyalitas, dapat membuat pekerjaan terasa jauh lebih berat. Jeffrey Pfeffer, PhD, Thomas D. Dee II Professor of Organizational Behavior di Stanford Graduate School of Business, menyoroti pentingnya kondisi lingkungan kerja, termasuk kontrol terhadap pekerjaan dan dukungan sosial, terhadap kesehatan serta kesejahteraan karyawan.

    "Tidak ada yang lebih membuat stres daripada berada di lingkungan di mana Anda memiliki banyak tekanan, tetapi relatif sedikit kekuasaan," jelasnya dalam Stanford Graduate School of Business.

    Dengan kata lain, tekanan menjadi semakin berat ketika seseorang dituntut untuk menghasilkan banyak hal, tetapi memiliki sedikit kendali atas bagaimana pekerjaan itu dilakukan. Ini juga menjelaskan mengapa dua orang dengan jabatan yang sama, bisa memiliki pengalaman kerja yang sangat berbeda. Jadi, sebelum menyimpulkan resign, ada baiknya melihat lingkungan tempat ia bekerja.

  5. 5. Ingin resign tidak selalu berarti harus langsung keluar

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool)

    Keinginan untuk resign sebenarnya bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa. Bisa jadi seseorang memang salah memilih pekerjaan. Bisa juga masalahnya hanya berada pada satu aspek yang masih mungkin diperbaiki, seperti pembagian tugas, komunikasi dengan atasan, jam kerja, atau kurangnya kejelasan mengenai ekspektasi.

    Menariknya, niat untuk resign juga tidak selalu berarti seseorang benar-benar akan keluar. Sebuah studi yang terbit pada 2026 terhadap pekerja kesehatan di Amerika Serikat, menemukan bahwa burnout berkaitan dengan niat keluar dan turnover aktual, tetapi turnover intention sendiri tidak selalu menjadi prediktor sempurna bahwa seseorang benar-benar akan meninggalkan pekerjaannya.

    "Burnout memengaruhi baik niat untuk keluar maupun tindakan keluar yang sesungguhnya. Thriving memengaruhi niat untuk keluar, namun tidak meningkatkan tindakan keluar yang sesungguhnya. Penggunaan niat untuk keluar sebagai proksi bagi tindakan keluar yang sesungguhnya, dapat menyesatkan," demikian laporan studi Work-related Well-Being, Turnover Intention, and Completed Turnover in a Cohort of US Patient Care Workers dalam PubMed Central.

    Jika dalam bahasa sederhana, keinginan “aku mau resign” bisa berada di antara sekadar luapan frustrasi dan keputusan yang benar-benar sudah matang. Karena itu, anak muda yang baru beberapa bulan bekerja dan sudah ingin resign, sebaiknya tidak buru-buru merasa gagal. Coba bedakan: apakah kamu hanya sedang lelah karena fase adaptasi atau memang ada masalah mendasar yang terus berulang.

     

    Bekerja memang membutuhkan proses adaptasi. Tidak semua pekerjaan akan menyenangkan setiap hari dan tidak semua rasa lelah berarti seseorang harus segera pergi. Tetapi jika setelah berbulan-bulan seseorang terus merasa tertekan, tidak berkembang, tidak dihargai, dan tidak melihat adanya perubahan, keinginan resign bisa menjadi sinyal yang layak didengarkan.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More