Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Menghadapi Rekan Kerja Cowok yang Cerewet
ilustrasi cowok ngobrol (pixabay.com/27707)
  • Artikel membahas dilema menghadapi rekan kerja cowok yang cerewet dan bagaimana hal itu bisa mengganggu waktu istirahat di kantor.
  • Dijelaskan lima cara efektif seperti menjawab singkat, tidak memberi pertanyaan balik, mengalihkan perhatian, pura-pura sibuk, hingga melibatkan rekan lain dalam obrolan.
  • Tujuan utama tips ini agar hubungan kerja tetap hangat tanpa kehilangan waktu pribadi dan energi akibat obrolan yang terlalu panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya rekan kerja cowok supercerewet emang kadang bikin dilema tersendiri. Di satu sisi, kita memang perlu berinteraksi, tapi di sisi lain, kita juga punya wilayah privasi. Apalagi pas lagi kurang mood buat ngobrol, si dia malah dengan entengnya ngajak cuap-cuap tanpa kontrol. Alhasil, kita yang tadinya pengin nikmatin me time saat jeda pekerjaan, malah disuguhi pertanyaan dan pernyataan yang seolah tak mengenal detik yang terus berjalan.

Selain itu, keberadaan mereka terkadang bikin suasana saat rehat kerja jadi sedikit terganggu. Biar gak ‘digentayangi’ terus, ada baiknya menerapkan cara menghadapi rekan kerja cowok yang cerewet berikut ini. Tujuannya agar waktu jeda kerjamu bisa diisi dengan kegiatan yang lebih santai.

1. Jawab dengan anggukan kepala, atau dengan satu kata pendek namun tegas

ilustrasi dunia kerja (instagram.com/techvaran)

Meski bagi sebagian orang dianggap kurang tepat, menjawab dengan anggukan kepala kadang jadi solusi efektif agar obrolan tidak berkepanjangan. Ketika dia terus mengajukan pertanyaan dan semangat sekali bercerita, mainkan kepala dengan sedikit anggukan, namun tegas. Apalagi kalau kamu bukan tipe orang yang kurang suka ngobrol, memberikan jawaban dengan anggukan bisa jadi kode bagi dia untuk berhenti berbicara dan bercerita.

Atau kalau mau menjawab, cukup keluarkan kalimat pendek—atau bahkan satu kata—agar dia segan melanjutkan pembicaraan. Kalau kamu bukan tipe orang yang mengutarakan langsung hal-hal yang gak disukai, menjawab singkat jadi salah satu pilihan—meski bukan yang terbaik. Yang lebih bijak, kamu bisa langsung berbicara jujur bahwa kamu tidak sedang mood berbincang karena ingin menikmati waktu dengan kegiatan yang santai.

2. Jangan tergoda untuk memberikannya pertanyaan balik, karena bisa melebar ke mana-mana

ilustrasi sendirian (pixabay.com/Locies)

Ketika dia gencar memberikan pertanyaan, jangan sekali-kali tergoda untuk mengajukan pertanyaan balik kepadanya. Satu pertanyaan yang dijawab dengan pernyataan biasanya akan melebar menjadi obrolan-obrolan lain yang lebih panjang. Kalau sudah begitu, akan sulit bagi kamu untuk keluar dari obrolan karena dia sedang semangat-semangatnya berbicara dan tidak enak jika dipotong di tengah jalan.

Kalau bisa, cukup dengarkan saja omongannya tanpa menyela, respons sekadarnya, lalu fokus saja pada waktu istirahat kamu. Biarkan dia berbicara panjang lebar, kamu tetap saja menikmati jeda kerja dengan wajar. Ada kalanya, rekan kerja cowok yang cerewet hanya ingin didengarkan saja tanpa sedikit pun mengharap pertanyaan balik.

3. Alihkan perhatiannya ke hal lain yang bisa membuatnya berhenti nyerocos

ilustrasi ngobrol (pixabay.com/sanuas)

Kalau dia masih saja ngomong ngalor-ngidul padahal kamu lagi pengin istirahat, coba alihkan perhatiannya ke hal lain selain ngobrol. Kamu bisa bawa dia ke kantin atau pantry, menunjuk rekan kerja cewek yang dia suka, memutar lagu kesukaannya, atau hal lain yang bisa membuatnya kehilangan fokus bercuap-cuap. Satu hal saja bisa membuat pikirannya teralihkan, dia pasti tidak akan lagi bernafsu menggerakkan mulutnya lagi bermain dengan kata dan kalimat denganmu.

Mungkin kesannya tidak sopan karena terkesan memotong pembicaraan, namun cara ini dianggap cukup efektif untuk menghentikan obrolan yang kurang menarik minat. Mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain merupakan cara yang sehat, cepat, tepat, dan aman tanpa perlu membuatnya merasa disepelekan. Dengan menerapkan pola seperti ini, hubungan kamu dan rekan kerja tetap terjalin dengan baik dan hangat tanpa harus menghabiskan energi untuk saling adu kalimat.

4. Pura-pura sibuk, entah memainkan HP atau fokus mengerjakan tugas kantor

ilustrasi kerja (pixabay.com/SnapwireSnaps)

Kalau dia termasuk tipe orang yang pantang menyerah mencari lawan bicara, tak ada salahnya pura-pura sibuk untuk menghindari obrolan lebih lanjut dengannya. Kamu bisa berekspresi serius menatap layar komputer, membuka lembaran dokumen, bolak-balik ke ruangan lain, atau jemari tangan yang lincah bergerak di atas keyboard. Meski sebenarnya tidak sibuk, pura-pura mengerjakan tugas kantor bisa membuatnya merasa tidak enak hati untuk melanjutkan obrolan.

Jika dia tetap memaksa mengajak ngobrol dan mengajukan pertanyaan, pakai bahasa yang halus untuk menolaknya, berbincang tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kadang, meladeni omongan rekan kerja cowok yang cerewet itu lebih melelahkan dan capek ketimbang harus mengerjakan tugas yang menggunung. Maka, daripada tenaga terkuras habis hanya untuk ngobrol, pura-pura sibuk jadi salah satu solusi—meski terpaksa— untuk menghindarinya.

5. Ajak kawan lain untuk ikut bergabung dalam obrolan tersebut

ilustrasi ngobrol sama kawan (pixabay.com/darwisalwan)

Nah, tips terakhir untuk menghadapi rekan kerja yang cerewet bisa dengan cara mengajak kawan lain untuk bergabung dalam obrolan. Cari tipe kawan yang setidaknya punya hobi ngobrol biar si dia punya lawan obrolan yang sepadan. Kamu tetap bisa menikmati jeda istirahat tanpa harus memberikan umpan balik karena keduanya terlibat dalam obrolan panjang. Sesekali mungkin bisa menimpali, namun kamu tetap bisa meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Cara menghadapi rekan kerja cowok yang cerewet memang perlu kesabaran tingkat tinggi. Meski begitu, jangan karena dia banyak omong, kamu sampai membenci dan menghindari keberadaannya. Lihat sisi baik darinya biar rasa kesal kamu tidak menjelma jadi sikap apatis yang merugikan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article