Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Beda YOLO Lifestyle Vs Doom Spending, Kamu yang Mana?

5 Beda YOLO Lifestyle Vs Doom Spending, Kamu yang Mana?
perbedaan yolo lifestyle vs doom spending (pexels.com/Max Fischer)
Share Article

Dompet tipis di akhir bulan padahal merasa gak belanja barang mewah? Bisa jadi kamu terjebak di antara YOLO lifestyle atau malah doom spending. Fenomena finansial ini lagi sering menyerang generasi muda yang ingin tetap eksis di tengah tekanan hidup. Kalau dibiarkan, kebiasaan impulsif ini bisa bikin masa depan keuanganmu suram dan memicu stres berkepanjangan, lho. 

Bisa jadi kamu bingung membedakan yolo lifestyle vs doom spending yang bisa bikin kamu boncos parah. Nah, biar gak salah dalam mengelola gaji, langsung saja cari perbedaan keduanya, yuk! 


1. Niat utama di balik pengeluaran uang

ilustrasi menonton konser penyanyi favorit (pexels.com/Wendy Wei)
ilustrasi menonton konser penyanyi favorit (pexels.com/Wendy Wei)

YOLO lifestyle atau You Only Live Once biasanya didorong oleh keinginan mencari pengalaman baru yang berkesan. Kamu rela mengeluarkan uang demi tiket konser idola atau liburan keliling Indonesia karena prinsip hidup cuma sekali. Pengeluaran ini dilakukan dengan sadar demi menimbun memori indah yang bisa dikenang sampai tua.

Sebaliknya, doom spending murni pelarian stres akibat berita buruk dunia atau masa depan yang terasa makin gak pasti. Kamu belanja barang-barang kecil secara impulsif hanya untuk mendapatkan cipratan dopamin instan saat itu juga. Bukannya merasa bahagia, setelah belanja biasanya kamu malah dihantui rasa bersalah. Jadi, coba cek lagi, kamu belanja karena ingin bahagia atau cuma pelarian aja, nih?


2. Jenis barang atau layanan yang dibeli

ilustrasi make-up kadaluwarsa
ilustrasi make-up kadaluwarsa (pexels.com/cottonbro studio)

Penganut gaya hidup YOLO lebih fokus menghabiskan uang mereka untuk experiential purchases alias membeli pengalaman hidup. Mereka gak masalah bayar mahal untuk ikut kelas memasak, nonton festival musik, atau mendaki gunung impian. Barang fisik nomor dua, yang penting bisa cerita dan keseruan yang didapatkan dari momen tersebut.

Sementara itu, korban doom spending biasanya menimbun barang-barang retail yang sebenarnya gak terlalu dibutuhkan. Kamar kamu mungkin penuh dengan baju kekinian yang cuma dipakai sekali, skincare viral yang akhirnya kedaluwarsa, atau perintilan lucu dari e-commerce. Kamu membeli barang fisik tersebut karena merasa gak akan pernah mampu membeli aset besar seperti rumah.


3. Dampak psikologis setelah transaksi selesai

ilustrasi menghitung uang di dompet (pexels.com/Artem Belia)
ilustrasi menghitung uang di dompet (pexels.com/Artem Belia)

Setelah menghabiskan uang untuk YOLO lifestyle, biasanya ada perasaan puas dan terpenuhi yang bertahan cukup lama. Kamu merasa uang yang keluar sebanding dengan kebahagiaan serta kepuasan batin yang didapatkan dari pengalaman tersebut. Setelah melakukannya, kamu seperti mendapatkan energi positif baru yang bikin kamu makin semangat buat kerja lagi demi petualangan berikutnya.

Hal ini bertolak belakang dengan doom spending yang justru memicu lingkaran setan emosi negatif. Rasa senang saat menekan tombol "beli" langsung hilang dalam hitungan menit setelah barang sampai di tangan. Muncul penyesalan mendalam karena saldo rekening berkurang drastis tanpa alasan yang jelas. Kalau kamu sering merasa cemas setelah belanja, fix itu adalah tanda doom spending, lho.


4. Perencanaan dan kesadaran finansialnya

ilustrasi cara membuat perencanaan keuangan jangka panjang mulai dari nol
ilustrasi cara membuat perencanaan keuangan jangka panjang mulai dari nol (pexels.com/Karola G)

Orang yang menerapkan YOLO lifestyle dengan bijak sebenarnya tetap punya perencanaan, bahkan mereka sengaja menabung. Kamu rela menyisihkan sebagian gaji tiap bulan khusus untuk pos anggaran jalan-jalan atau nonton konser. Pengeluaran tersebut sudah terukur dan gak bakal mengganggu dana untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Nah, doom spending terjadi secara spontan tanpa rencana dan kerap di luar kendali kesadaranmu. Kamu tiba-tiba checkout barang saat malam hari ketika emosi lagi labil akibat lelah bekerja seharian. Gak ada anggaran khusus yang disiapkan, sehingga tabungan utama atau dana darurat sering kali ikut terpakai. Kalau sudah begini, kesehatan finansialmu bisa sakit parah, lho.


5. Pandangan terhadap masa depan keuangan

ilustrasi wajib pandai mengelola keuangan agar gak boncos
ilustrasi wajib pandai mengelola keuangan agar gak boncos (pexels.com/www.kaboompics.com)

Para pencinta YOLO masih percaya bahwa masa depan itu ada, mereka hanya ingin menikmati masa muda dengan seimbang. Mereka tahu kapan harus mengerem pengeluaran dan kapan bisa bersenang-senang menikmati jerih payah sendiri. Prinsipnya adalah menciptakan keseimbangan antara kebahagiaan masa kini dan keamanan finansial di masa depan.

Di sisi lain, doom spending lahir dari rasa pesimis yang akut terhadap masa depan ekonomi global. Kamu merasa menabung sebanyak apa pun gak akan cukup untuk membeli rumah atau bertahan di masa tua nanti. Akibatnya, muncul pemikiran untuk menghabiskan uang sekarang juga sebelum semuanya terlambat. Menyerah pada keadaan memang gampang, tapi menyiksa diri di masa depan jelas bukan pilihan yang bijak, guys.

Memahami perbedaan antara YOLO lifestyle dan doom spending jadi langkah awal yang baik untuk menyelamatkan dompetmu. Menikmati hidup itu wajib, tapi jangan sampai kecemasan membuatmu kehilangan kendali atas masa depan keuanganmu sendiri, ya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More