ilustrasi kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
Sebelum bilang “siap”, coba cek dulu pekerjaan yang sedang kamu pegang. Kalau hari ini masih ada dua tugas yang harus selesai, tentu kamu perlu tahu apakah tugas baru tersebut realistis dikerjakan tanpa membuat pekerjaan yang lain terbengkalai. Jangan lupa cek juga apakah kamu sudah punya informasi, akses, tools, atau bantuan dari orang lain yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas baru tersebut.
Misalnya, kamu diminta untuk membuat sebuah laporan, tetapi data yang dibutuhkan ternyata belum tersedia atau kamu mendapat tugas membuat desain, padahal perlu akses ke software tertentu yang belum kamu punya. Hal-hal kecil seperti ini sebaiknya diketahui sejak awal karena bisa memengaruhi waktu pengerjaan.
Jadi sebelum mengiyakan tugas baru, coba pertimbangkan kembali kapasitas pekerjaan kamu saat itu. Kalau ternyata waktunya mepet atau ada resource yang belum tersedia, sampaikan dari awal kepada atasan. Kamu bisa tetap bilang siap mengerjakan, sambil menjelaskan apa yang perlu disesuaikan supaya tugas tersebut benar-benar bisa selesai dengan baik.
Daripada kamu refleks mengetik “siap” lalu panik lima menit kemudian, lebih baik ambil jeda sebentar untuk memastikan semuanya jelas. Tiga pertanyaan sederhana soal apa yang harus dikerjakan, kapan selesai, dan apa yang kamu butuhkan bisa bikin pekerjaan jauh lebih aman. Ternyata, bilang “siap” itu bukan cuma soal cepat membalas, tapi juga soal tahu apa yang sebenarnya sedang kamu iyakan.