Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kerja Bagus Tapi Gak Mau Jadi Bos, Apakah Itu Salah?

4 min read
Kerja Bagus Tapi Gak Mau Jadi Bos, Apakah Itu Salah?
ilustrasi bekerja (pexels.com/Alena Darmel)
  • Kinerja unggul tidak otomatis berarti cocok atau ingin menjadi manajer, karena peran tersebut menuntut kemampuan mengelola orang, komunikasi, konflik, dan pengembangan tim.
  • Menolak jabatan bos bukan tanda kurang ambisi; karyawan dapat berkembang sebagai spesialis, memperdalam keahlian, dan memberi kontribusi besar tanpa memiliki bawahan.
  • Sebelum menerima promosi, pekerja perlu menilai kesiapan terhadap perubahan tanggung jawab, sementara perusahaan perlu menyediakan jalur karier dan penghargaan bagi kontributor individual.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di dunia kerja, karyawan yang performanya bagus sering dianggap sebagai kandidat paling tepat untuk naik jabatan. Setelah beberapa kali mendapat apresiasi, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, atau menjadi orang yang paling diandalkan dalam tim, tawaran menjadi supervisor atau manager pun bisa datang.

Masalahnya, tidak semua orang yang jago mengerjakan pekerjaan ingin mengelola orang lain. Ada karyawan yang justru merasa lebih puas ketika bisa fokus pada bidang keahliannya daripada jadi bos. Apakah ini salah?

  1. 1. Jago mengerjakan pekerjaan bukan berarti harus jago memimpin orang

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)

    Kemampuan yang membuat seseorang menjadi karyawan berprestasi belum tentu sama dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi manajer. Seorang programmer bisa sangat hebat dalam menulis kode, seorang sales bisa konsisten mencapai target, atau seorang desainer bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

    Namun, menjadi manajer membuat fokus pekerjaannya berubah dari mengerjakan tugas sendiri menjadi membantu orang lain mencapai hasil. Jack Zenger, CEO Zenger/Folkman, dan Joseph Folkman, President Zenger/Folkman, menjelaskan bahwa tidak semua top performer akan menjadi manajer yang baik.

    "Tidak semua karyawan berkinerja unggul dapat menjadi manajer yang baik," jelas mereka dalam Harvard Business Review.

    Mereka juga menjelaskan bahwa ketika perusahaan kehilangan individual contributor terbaik karena promosi ke posisi manajemen yang tidak cocok, perusahaan dapat kehilangan baik seorang kontributor maupun seorang manajer. Karena itu, performa tinggi sebaiknya tidak otomatis diterjemahkan sebagai keinginan untuk memimpin.

  2. 2. Tidak mau jadi bos bukan berarti tidak punya ambisi

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)

    Salah satu alasan karyawan merasa bersalah ketika menolak promosi manajerial adalah anggapan bahwa karier harus selalu bergerak ke atas. Jabatan yang lebih tinggi, jumlah bawahan yang lebih banyak, dan kewenangan yang semakin besar sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Padahal, definisi kesuksesan profesional setiap orang bisa berbeda.

    "Menjadi bos bukanlah pilihan yang cocok bagi semua orang. Namun, kamu mungkin memiliki kesempatan untuk berkembang sebagai kontributor individu, mengasah keahlian di bidangmu, dan menjadi yang terbaik dalam pekerjaan tersebut," kata Anne Sugar, executive coach dan keynote speaker dikutip dari artikelnya Harvard Business Review.

  3. 3. Bisa jadi kamu lebih suka jadi expert daripada people manager

    Ilustrasi perempuan karier (pexels.com/Photo by olia danilevich)
    Ilustrasi perempuan karier (pexels.com/Photo by olia danilevich)

    Coba bedakan antara keinginan untuk menjadi orang yang paling ahli di bidang tertentu dan keinginan untuk memimpin sebuah tim. Seorang expert biasanya mendapatkan kepuasan dari menyelesaikan persoalan yang kompleks, memperdalam pengetahuan, menghasilkan karya, atau menjadi tempat orang lain mencari jawaban.

    Sementara itu, manajer lebih banyak berurusan dengan prioritas tim, komunikasi, evaluasi, konflik, pengembangan anggota tim, dan pengambilan keputusan. Irina Cozma, PhD, coach dan konsultan yang telah menangani para eksekutif, pemimpin, profesional, dan entrepreneur mengatakan bahwa tidak semua orang suka mengatur orang atau sebuah tim.

    "Sebenarnya, tidak semua orang akan menikmati peran mengelola orang lain. Namun untungnya, kamu tidak harus menjadi manajer untuk mengembangkan kariermu," jelasnya dalam Harvard Business Review.

    Jadi, kalau seseorang berkata, "Aku suka pekerjaanku, tapi aku tidak ingin mengurus tim," pernyataan tersebut sebenarnya cukup masuk akal. Bisa saja ia memang ingin berkembang sebagai spesialis tanpa harus memiliki bawahan langsung.

  4. 4. Jangan menerima jabatan hanya karena takut dianggap tidak ambisius

    Ilustrasi perempuan karier (pexels.com/Photo by Michael Burrows)
    Ilustrasi perempuan karier (pexels.com/Photo by Michael Burrows)

    Menjadi manajer karena memang menginginkannya berbeda dengan menjadi manajer karena takut dianggap tidak berkembang. Kalau alasan utamanya adalah "kalau aku menolak, nanti dikira malas naik jabatan", keputusan tersebut layak dipikirkan kembali. Promosi bukan sekadar perubahan title, tetapi perubahan jenis pekerjaan dan tanggung jawab.

    Karena itu, sebelum menerima tawaran menjadi bos, seseorang dapat bertanya pada dirinya sendiri: apakah aku menikmati membantu orang lain bekerja? Apakah aku siap memberikan feedback? Apakah aku tertarik menyelesaikan konflik? Apakah aku rela mengurangi pekerjaan teknis yang selama ini aku sukai? Kalau sebagian besar jawabannya tidak, mungkin yang dibutuhkan bukan memaksakan diri menjadi manajer, melainkan mencari bentuk perkembangan karier yang lebih sesuai.

  5. 5. Perusahaan juga perlu menghargai jalur karier selain manajemen

    bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/Ron Lach)

    Masalah muncul ketika perusahaan hanya menyediakan satu definisi tentang "naik level": menjadi supervisor, manajer, senior manajer, lalu eksekutif. Dalam sistem seperti ini, karyawan yang sebenarnya ingin tetap menjadi spesialis bisa merasa terpaksa menerima tanggung jawab manajerial agar karier dan penghasilannya tetap berkembang.

    "Saat perusahaan berkembang, mereka perlu menyadari bahwa tidak semua orang akan meniti jenjang karier ke posisi yang lebih tinggi. Ada orang-orang yang memang ingin tetap menjadi desainer atau insinyur yang bekerja di meja mereka tanpa harus memimpin orang lain," jelas Profesor Harvard Business School Alison Wood Brooks dalam podcast Harvard Business Review yang membahas persoalan tersebut.

    Ia menekankan bahwa kontribusi orang-orang yang tetap menjadi individual contributor juga dapat bernilai besar bagi organisasi. Perusahaan pun dapat mempertahankan orang-orang dengan keahlian teknis tinggi tanpa memaksa mereka mengambil pekerjaan manajerial yang tidak mereka inginkan.

     

    Jadi, kerja bagus tetapi tidak ingin menjadi bos bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan kurangnya ambisi. Menjadi manajer adalah salah satu pilihan karier, bukan satu-satunya bukti bahwa seseorang sedang berkembang.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More