Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Paradoks Perempuan Pekerja: Ikut Cari Nafkah, Tetap Jadi Manajer Rumah

5 min read
Paradoks Perempuan Pekerja: Ikut Cari Nafkah, Tetap Jadi Manajer Rumah
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Survei Populix menunjukkan skor beban pengasuhan perempuan urban lebih tinggi daripada laki-laki, terutama dalam memikirkan dan memutuskan urusan rumah.

  • Perempuan bekerja berbayar hampir selama laki-laki, tetapi masih meluangkan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik tanpa upah.

  • Penghasilan yang lebih baik belum otomatis meringankan beban pengasuhan karena akses daycare dan dukungan keluarga di tempat kerja masih terbatas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan, di satu hari Rabu yang kelihatannya biasa saja, pukul enam pagi, seorang perempuan memastikan bekal anak sudah masuk tas sambil membalas pesan di grup kantor. Siang hari, di sela rapat, ia mengecek tagihan listrik dan mengingat stok kebutuhan rumah yang tinggal sedikit. Sore hari, saat laptop bahkan belum ditutup, kepalanya sudah penuh dengan 'masak apa malam ini?'. Gak ada satu pun dari itu yang tercatat sebagai pekerjaan, tapi pikirannya hampir tak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Gambaran ini mungkin terasa akrab dan ternyata memang ada angkanya. Studi Populix bertajuk Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi melakukan survei pada 1.000 pekerja urban secara daring pada Maret-April 2026, terdiri dari 548 perempuan dan 452 laki-laki. Beban pengasuhan diukur lewat Indeks Beban Pengasuhan Berbasis Gender (GCBI) berskala 0 sampai 100, dan rata-rata rumah tangga urban mencatat skor 45,7, masuk kategori Menengah. Perempuan mencatat skor 47,7, sedangkan laki-laki 43,2.

Menariknya, beban terberat itu ternyata bukan soal lamanya bekerja. Dari tiga hal yang diukur, urusan waktu justru yang paling ringan (24,9). Beban yang lebih terasa adalah beban memikirkan dan memutuskan urusan rumah (54,6), serta minimnya bantuan pengasuhan (57,5). Di sinilah paradoksnya muncul, perempuan sudah ikut menopang ekonomi keluarga, tapi peran sebagai 'manajer rumah' nyaris gak ikut berpindah tangan. Yuk, simak temuan lengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Jam kerjanya nyaris setara, namun bagaimana dengan pembagiannya?

    ilustrasi perempuan bekerja
    ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Los Muertos Crew)

    Menurut Populix, kalau dihitung sekilas, perempuan dan laki-laki bekerja hampir sama lamanya. Total jam kerja perempuan sekitar 11,7 jam sehari, laki-laki 11,4 jam. Perbedaannya ada di isi harinya. Perempuan bekerja berbayar sekitar 8,5 jam, lalu masih melanjutkan 3,24 jam untuk urusan rumah. Laki-laki bekerja berbayar sekitar 8,9 jam, dengan 2,55 jam untuk urusan rumah.

    Selisihnya hanya sekitar 41 menit per hari, yang mungkin terdengar sepele. Tapi bila dikumpulkan selama setahun, jumlahnya mencapai 252 jam, setara kurang lebih 31 hari kerja penuh yang diam-diam dihabiskan perempuan untuk memasak, membereskan rumah, dan mengurus anak tanpa upah. Angka-angka ini berasal dari pilihan jawaban para responden, bukan hasil pencatatan waktu yang persis. Jadi, lebih tepat dibaca sebagai gambaran besarnya.

    Lalu, apakah jam kerja yang lebih fleksibel membuat beban rumah ikut menyusut? Ternyata belum tentu. Di kalangan pekerja informal, jarak antara perempuan dan laki-laki justru lebih lebar, yaitu 0,89 jam per hari, dibanding 0,62 jam pada pekerja formal. Waktu yang lebih luwes gak otomatis membuat urusan rumah berkurang.

  2. 2. Pekerjaan yang gak pernah punya 'jam pulang'

    ilustrasi perempuan bekerja
    ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/www.kaboompics.com)

    Di titik inilah julukan 'manajer rumah' terasa paling nyata. Perbedaan terbesar antara perempuan dan laki-laki ada pada beban memikirkan dan memutuskan urusan rumah. Skor perempuan 59,7, sementara laki-laki 48,5, selisih yang lebih besar dibanding selisih soal waktu.

    Wujudnya sederhana, tapi hampir gak ada habisnya, yakni memikirkan belanja harian, jadwal anak, hingga tagihan bulanan. Sebanyak 71,7 persen perempuan mengatur lebih dari separuh keputusan pengeluaran harian di rumah. Sedangkan, pada laki-laki angkanya 60,8 persen. Hanya 6,2 persen perempuan yang mengaku urusan itu lebih banyak diatur pasangan, dibanding 16,4 persen laki-laki.

    Beban tak kasat mata ini pada akhirnya terasa di pikiran. Sebanyak 34,9 persen perempuan sering atau sangat sering merasa kewalahan karena tanggung jawab rumah tangga, hampir dua kali lipat laki-laki yang 18,4 persen. Hanya 3,6 persen perempuan yang mengaku tidak pernah merasa kewalahan, sementara pada laki-laki ada di angka 15,9 persen.

  3. 3. Di kasus lain, sudah jadi tulang punggung pun, urusan rumah tetap di pundak

    ilustrasi perempuan bekerja
    ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

    Satu dari lima responden dalam survei Populix ini adalah perempuan yang jadi pencari nafkah utama keluarga, jumlahnya 194 orang. Wajar kalau kita membayangkan urusan rumah mereka jadi lebih ringan atau setidaknya dibagi rata dengan pasangan, tapi hasil survei berkata sebaliknya.

    Kalau bebannya diberi nilai 0 sampai 100, perempuan pencari nafkah utama mendapat skor 51,9, tertinggi dibanding kelompok lain. Laki-laki yang juga jadi pencari nafkah utama mendapat 43,6. Selisihnya paling terasa di urusan memikirkan dan memutuskan kebutuhan rumah: skor perempuan 67,0, sedangkan laki-laki 49,8.

    Artinya, jadi tulang punggung keluarga gak otomatis bikin urusan rumah berpindah tangan. Mereka bekerja untuk menopang keuangan, lalu pulang tetap jadi orang yang paling tahu apa yang harus dibeli, dijadwalkan, dan dibayar terkait urusan domestik.

  4. 4. Penghasilan saja sebenarnya gak cukup tanpa adanya dukungan

    ilustrasi perempuan bekerja
    ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/olia danilevich)

    Mungkin muncul pertanyaan, 'Kalau ekonominya sudah mapan, harusnya bebannya lebih ringan, kan?' Studi dari Populix ini menunjukkan, hubungannya gak sesederhana itu. Dari 525 rumah tangga yang kondisi ekonominya tergolong tangguh, 333 di antaranya (63,4 persen) tetap merasakan beban pengasuhan yang cukup sampai sangat berat. Penghasilan yang lebih baik ternyata gak banyak membantu untuk beban yang satu ini.

    Salah satu sebabnya, dukungan pengasuhan memang belum benar-benar tersedia. Sebanyak 45,5 persen responden gak memakai layanan penitipan anak sama sekali, baik daycare maupun bantuan keluarga. Dari 703 responden yang gak memakai daycare, alasan terbesarnya adalah biaya yang terlalu mahal (43,8 persen) dan keraguan soal kualitas (23,2 persen). Hanya 18,9 persen yang menyebut daycare gak tersedia di sekitar tempat tinggal mereka. Jadi, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya tempat, melainkan apakah layanan itu terjangkau dan bisa dipercaya.

    Padahal, minatnya cukup besar. Sebanyak 88 persen responden kemungkinan mau memakai daycare jika biayanya terjangkau, lokasinya dekat, dan kualitasnya terjamin. Namun, 65,7 persen hanya sanggup membayar hingga Rp600 ribu per bulan. Bila dukungan itu tersedia, 79,5 persen responden mengaku cara kerja mereka akan berubah, dan 57,7 persen akan berani mengambil promosi atau mencari pekerjaan bergaji lebih tinggi. Tentu ini masih sebatas niat yang mereka nyatakan, belum tentu langsung terwujud.

    Dukungan di tempat kerja pun belum merata. Pekerja yang kantornya gak punya fasilitas pendukung keluarga sama sekali lebih sering merasa kewalahan (39,4 persen), dibanding mereka yang punya minimal satu fasilitas (24,6 persen).

    Hasil survei Populix menunjukkan bahwa beban perempuan pekerja bukan sekadar soal lamanya mengurus rumah, tetapi juga soal harus selalu memikirkan dan memutuskan kebutuhan keluarga. Penghasilan yang lebih baik pun belum tentu meringankannya, sementara layanan penitipan anak yang terjangkau dan dukungan di tempat kerja masih terbatas. Karena itu, yang dibutuhkan adalah pembagian peran yang lebih adil di rumah dan dukungan nyata dari lingkungan sekitar.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More