Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Banyak Orang Ingin Resign Tetapi Tidak Jadi?
ilustrasi resign (vecteezy.com/nuttawan jayawan)
  • Keinginan resign sering muncul saat emosi tinggi dan kelelahan, namun mereda ketika pikiran lebih jernih dan pertimbangan finansial serta tanggung jawab mulai diperhitungkan.
  • Gaji tetap memberi rasa aman yang sulit digantikan, membuat banyak orang menunda keputusan resign meski merasa tidak puas dengan pekerjaannya.
  • Banyak yang akhirnya bertahan karena lingkungan kerja masih punya sisi positif dan rencana alternatif belum matang untuk dijalankan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Keinginan untuk keluar dari pekerjaan sering muncul tiba-tiba, lalu hilang begitu saja saat dihadapkan pada kenyataan yang lebih konkret. Fenomena ini makin sering terlihat, terutama ketika obrolan tentang resign tanpa backup plan terdengar semakin biasa di lingkungan sekitar kita.

Di satu sisi, keputusan ini memang terlihat berani, tetapi di sisi lain banyak yang akhirnya memilih bertahan. Berikut beberapa alasan yang membuat orang ingin resign tetapi tidak jadi.

1. Keinginan untuk resign muncul saat lelah, bukan saat siap

ilustrasi lelah (pexels.com/Resume Genius)

Keinginan untuk resign sering datang di momen paling melelahkan, misalnya setelah dimarahi atasan atau menghadapi pekerjaan yang menumpuk. Pada kondisi seperti ini, keputusan resign terasa make sense karena emosi sedang tinggi, bukan karena perhitungan sudah matang. Akibatnya, keinginan tersebut lebih mirip pelarian sesaat daripada rencana yang benar-benar dipikirkan.

Ketika situasi kembali normal, pikiran lebih jernih dan pertimbangan lain ikut muncul. Tagihan bulanan, kebutuhan keluarga, hingga rutinitas yang sudah terbentuk membuat langkah untuk memutuskan untuk resign terasa lebih berat. Dari sini terlihat bahwa keinginan awal bukan benar-benar tentang pindah, melainkan tentang berhenti dari kondisi yang sedang menekan.

2. Gaji tetap memberi rasa aman yang sulit digantikan

ilustrasi gaji (pexels.com/Defrino Maasy)

Banyak orang meremehkan efek dari pemasukan rutin sampai benar-benar mempertimbangkan untuk melepasnya. Gaji bulanan bukan hanya soal angka, tetapi juga memberi rasa aman yang membuat hidup terasa lebih terkendali. Bahkan bagi yang sering mengeluh, kepastian ini tetap sulit dilepaskan begitu saja.

Saat mulai membayangkan hidup tanpa pemasukan tetap, muncul kekhawatiran yang lebih realistis. Harga kebutuhan pokok yang terus naik dan tanggungan yang tidak bisa ditunda membuat keputusan resign terasa berisiko. Di titik ini, keinginan untuk keluar dari kerja sering kalah oleh kebutuhan untuk bertahan.

3. Lingkungan kerja tidak selalu buruk seperti yang dibayangkan

ilustrasi tempat kerja (unsplash.com/Christina @ wocintechchat.com M)

Ada momen ketika pekerjaan terasa sangat menyebalkan, lalu semua hal terlihat negatif dalam waktu bersamaan. Meski begitu, jika dilihat lebih jauh, tidak semua aspek di tempat kerja benar-benar buruk. Rekan kerja yang suportif atau suasana kantor yang sudah familiar sering menjadi alasan tersembunyi untuk tetap bertahan.

Ketika emosi mulai mereda, hal-hal kecil yang sebelumnya diabaikan justru terasa penting. Misalnya, teman kantor yang bisa diajak bercanda atau atasan yang masih memberi ruang berkembang. Hal-hal seperti ini sering tidak disadari saat keinginan untuk resign tengah memuncak.

4. Rencana alternatif masih setengah matang

ilustrasi rencana (pexels.com/Shuki Harel)

Banyak yang merasa sudah punya backup plan, padahal jika dipikir lagi, semua konsep tersebut masih sebatas ide. Misalnya, ingin beralih ke bisnis atau pekerjaan lain, tetapi belum tahu langkah awal yang jelas. Keinginan resign tanpa backup plan sering terdengar berani, tetapi realitanya tidak semua orang siap menjalani ketidakpastian tersebut.

Saat mulai dikalkulasi secara detail, banyak celah yang belum terisi. Modal belum cukup, jaringan belum terbentuk, atau keterampilan belum benar-benar siap dipakai. Kondisi ini membuat langkah resign terasa seperti lompat tanpa arah, sehingga akhirnya ditunda kembali.

5. Ekspektasi terhadap pekerjaan baru sering terlalu tinggi

ilustrasi pekerjaan (pexels.com/Thirdman)

Ada bayangan bahwa keluar dari pekerjaan sekarang akan langsung membawa ke situasi yang lebih baik. Padahal, setiap pekerjaan tetap punya tantangan masing-masing yang tidak selalu terlihat. Ekspektasi yang terlalu tinggi ini sering membuat keputusan resign terlihat lebih menarik daripada kenyataannya.

Ketika mulai melihat cerita orang lain yang juga menghadapi masalah di tempat baru, perspektif mulai berubah. Ternyata berpindah bukan berarti semua masalah selesai, melainkan hanya berganti bentuk. Kesadaran ini membuat banyak orang memilih bertahan sambil menata ulang ekspektasi mereka terhadap pekerjaan.

Keinginan untuk resign tanpa backup plan memang sering terasa menggoda, apalagi saat kondisi kerja sedang tidak menyenangkan. Namun, ketika berbagai pertimbangan mulai dihitung, keputusan tersebut tidak lagi sesederhana yang dibayangkan. Pada akhirnya, hasrat ingin resign tetapi tidak jadi bukan soal berani atau tidak, melainkan soal kesiapan menghadapi konsekuensi yang ikut datang. Jadi, jika keinginan itu kembali muncul, sudah benar-benar siap untuk resign?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article