ilustrasi pekerjaan (unsplash.com/RUT MIIT)
Kalau kantor benar-benar kacau, alasan untuk resign akan lebih jelas. Atasan yang sangat menyebalkan, gaji bermasalah, jam kerja tidak manusiawi, atau lingkungan kerjanya memang sudah tidak bisa ditoleransi. Namun, ada juga pekerjaan yang tidak seperti itu; gajinya cukup, teman kantor masih bisa diajak ngobrol, atasan tidak terlalu buruk, dan setiap bulan uang tetap masuk ke rekening.
Justru pekerjaan seperti ini bisa menjadi jebakan. Tidak ada kejadian atau masalah besar yang membuat seseorang berani mengambil keputusan resign, hanya saja mereka merasa bahwa setiap hari seperti mengulang hal yang sama sampai tahun berganti. Lama-lama muncul pikiran bahwa hidup sedang habis sedikit demi sedikit, tetapi pekerjaan tersebut tidak pernah memberi alasan yang cukup kuat untuk ditinggalkan.
Menjadi karyawan memang bisa memberi rasa aman yang dibutuhkan untuk menjalani hidup, tetapi hal itu kadang datang bersama harga yang tidak langsung kita bayar. Ada orang yang bukannya tidak punya keinginan untuk resign, melainkan sudah terlalu banyak hal yang harus tetap ia pikirkan kalau ia benar-benar keluar. Mungkin bagian paling pahit dari bekerja bukan ketika kita membenci pekerjaannya, melainkan ketika kita sudah tidak menginginkannya tetapi masih harus berharap Senin datang membawa gaji berikutnya.