Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jobdesk Credit Analyst: Tugas, Skill, Gaji, dan Prospek Karier

Seorang pria sedang menganalisa data
ilustrasi seorang pria sedang menganalisa data (freepik.com/pressfoto)
Intinya sih...
  • Tugas utama: Memastikan setiap pembiayaan layak, aman, dan bebas risiko berlebihan
  • Skill yang menentukan ketepatan analisa kredit
  • Tantangan dan prospek karier yang menjanjikan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak banyak yang tahu bahwa sebelum sebuah pengajuan kredit dinyatakan layak, ada satu proses panjang yang harus dilalui. Di balik keputusan itu, terdapat analisis mendalam yang menimbang risiko, menilai kemampuan bayar, serta memastikan perusahaan tidak mengambil langkah yang salah.

Di sinilah peran credit analyst menjadi sangat penting. Profesi ini memastikan bahwa calon debitur memenuhi kriteria yang dibutuhkan, baik dari sisi keuangan, karakter, legalitas, maupun prospek usaha. Setiap rekomendasi yang mereka buat bisa membuka peluang bagi debitur yang layak, atau melindungi perusahaan dari risiko gagal bayar. Yuk, simak lebih dalam tentang profesi credit analyst.

1. Tugas utama: Memastikan setiap pembiayaan layak, aman, dan bebas risiko berlebihan

Analisa data
ilustrasi analisa data (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Setiap pengajuan kredit tidak bisa langsung disetujui begitu saja. Credit analyst berperan sebagai penyaring awal yang memastikan apakah sebuah pembiayaan benar-benar aman untuk diberikan. Peran ini menjadi fondasi penting agar perusahaan tidak terjebak pada debitur berisiko tinggi atau yang berpotensi gagal memenuhi kewajibannya di kemudian hari. Berikut analisa yang dilakukan:

  • Menganalisis kelayakan calon debitur: tugas inti credit analyst adalah menilai kemampuan bayar calon debitur. Analisa dilakukan melalui laporan keuangan, arus kas, legalitas usaha, reputasi bisnis, karakter pemilik, hingga kondisi industri yang memengaruhi stabilitas usaha calon debitur. Dalam prosesnya, credit analyst menggunakan pendekatan 6C yaitu, Character (karakter pemohon), Capacity (kemampuan bayar), Capital (kekuatan modal), Condition (kondisi industri), Collateral (jaminan), dan Constraint (kendala hukum dan regulasi).
  • Melakukan verifikasi data dan dokumen: setiap informasi dari calon debitur harus dibuktikan kebenarannya. Credit analyst mengecek laporan bank, data SLIK OJK, kondisi usaha, serta keabsahan jaminan untuk memastikan tidak ada data yang dilebihkan atau disembunyikan.
  • Melakukan visit, checking, dan interview: analisa diperkuat dengan kunjungan langsung ke lokasi usaha. Credit analyst menilai operasional, aset, hubungan dengan supplier dan pelanggan, hingga lingkungan sekitar. Wawancara dengan calon debitur membantu membaca karakter dan konsistensi penjelasan.
  • Melakukan monitoring kredit: credit analyst memantau perkembangan usaha dan kebiasaan pembayaran debitur sejak kredit dicairkan hingga lunas. Pemantauan ini memastikan usaha debitur tetap cukup kuat untuk membayar cicilan secara rutin. Jika usaha mulai melemah, kondisi jaminan juga diperiksa untuk memastikan masih aman digunakan sebagai jalan keluar kedua jika terjadi gagal bayar.

2. Skill yang menentukan ketepatan analisa kredit

Ilustrasi menilai sebuah data
ilustrasi menilai (pexels.com/Theo Decker)

Profesi ini menuntut kombinasi keahlian teknis (hard skill) dan kemampuan interpersonal (soft skill) yang kuat. Antara lain:

  • Kemampuan membaca laporan keuangan: seorang credit analyst perlu memahami cara membaca neraca, laporan laba rugi, dan arus kas. Kemampuan ini membantu menilai apakah calon debitur punya keuangan yang stabil. Fondasi ini juga penting untuk memperkirakan apakah mereka mampu membayar kewajibannya di masa depan.
  • Analytical thinking dan kemampuan menilai risiko: credit analyst harus jeli melihat hal-hal yang mencurigakan, peluang usaha, serta potensi masalah yang mungkin muncul. Setiap keputusan pembiayaan adalah keputusan risiko, sehingga analisis harus berdasar pada data dan kondisi lapangan. Ketajaman berpikir sangat menentukan akurasi rekomendasi.
  • Komunikasi dan kemampuan wawancara: wawancara dengan pemilik usaha atau calon debitur menjadi kunci untuk membaca karakter dan kejujuran calon debitur. Selain itu, credit analyst harus mampu menyampaikan hasil analisis secara jelas kepada manajemen. Informasi yang tidak tersampaikan dengan tepat bisa menyesatkan proses pengambilan keputusan.
  • Kemampuan menulis laporan dan memberi rekomendasi: credit proposal wajib ditulis dengan rapi, ringkas, dan objektif. Credit analyst juga menyusun rekomendasi menggunakan scoring system sederhana untuk membantu manajemen menilai kelayakan secara lebih terukur. Laporan yang jelas membuat keputusan pembiayaan lebih cepat dan akurat.

3. Tantangan dan prospek karier yang menjanjikan

Credit analyst
ilustrasi credit analyst (freepik.com/pressfoto)

Beban kerja credit analyst cukup besar. Mereka harus menjaga kualitas pembiayaan agar tidak berubah menjadi kredit bermasalah. Istilah NPL atau Non-Performing Loan merujuk pada kredit yang macet atau tertunda pembayarannya, dan angka ini harus dijaga tetap rendah. Deadline juga sering ketat karena banyak pengajuan pembiayaan membutuhkan keputusan cepat.

Di sisi lain, banyak debitur UMKM tidak memiliki laporan keuangan yang rapi, sehingga menggali data alternatif menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, jalur karier credit analyst tergolong stabil dan jelas. Posisi ini bisa berkembang menjadi Senior Credit Analyst, Credit Reviewer, Credit Risk Manager, Portfolio Manager, hingga Head of Credit atau Branch Manager. Profesi ini menawarkan jalur pertumbuhan yang jelas bagi mereka yang konsisten mengasah skill dan integritas.

4. Prospek gaji credit analyst

Bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Gaji credit analyst di perusahaan multifinance tergolong kompetitif. Pada level junior, kisarannya berada di Rp5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan. Saat sudah berpengalaman dan naik ke level senior, angkanya meningkat menjadi sekitar Rp9 juta sampai Rp16 juta. Untuk posisi manajerial seperti Credit Manager, kompensasinya dapat mencapai Rp18 juta hingga lebih dari Rp35 juta, bergantung pada ukuran perusahaan dan tanggung jawab yang dipegang.

Besaran gaji dipengaruhi wilayah operasional, kompleksitas portofolio, serta kualitas analisa yang ditunjukkan. Semakin tinggi kemampuan teknis dan ketepatan rekomendasi, semakin besar peluang memperoleh posisi dengan penghasilan lebih besar. Profesi ini menawarkan kestabilan sekaligus potensi finansial yang terus meningkat seiring pengalaman.

Menjadi credit analyst berarti siap bekerja di balik keputusan penting yang menggerakkan bisnis pembiayaan. Setiap analisa membawa dampak langsung pada keberlangsungan hidup perusahaan dan nasib para debitur. Bagi mereka yang ingin berkarier di jalur yang stabil, penuh dinamika, dan kaya pembelajaran teknis, profesi ini menawarkan pengalaman yang tidak ditemui di banyak bidang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

Cara Bilang 'Tidak' Tanpa Baper dan Merasa Bersalah di Dunia Kerja

29 Nov 2025, 23:15 WIBLife