Ilustrasi toxic employee (pexels.com/Yan Krukau)
Pengganggu atau "Si Tukang Bully" adalah "racun" dimanapun mereka berada, tidak terkecuali di lingkungan kerja. Mereka memanfaatkan rasa tidak amanmu dan membuat kamu merasa buruk tentang dirimu sendiri, melalui penghinaan, pengecualian, dan penghinaan.
Perilaku perundungan biasanya berakar dari rasa cemburu dan ketidakamanan mereka sendiri. Karena alasan ini, tujuan mereka adalah untuk memutarbalikkan rekan kerja terhadap orang yang membuat mereka merasa tidak aman.
Beberapa cara "Si Tukang Bully" melakukan ini adalah dengan:
- Meremehkan atau menghina
- Intimidasi
- Mengecualikan kamu dari rapat, acara, dan kegiatan sosial
- Menyebarkan gosip dan informasi yang salah
- Berteriak dan menjerit
- Menyabotase pekerjaan atau kemampuan kamu untuk berkontribusi pada proyek, dengan menahan atau memberikan informasi yang salah dengan sengaja
- Menjebak untuk gagal dengan tenggat waktu yang tidak mungkin atau beban kerja yang tidak realistis
- Memberikan perlakuan diam (silent treatment)
- Mengeluarkan komentar jahat kepada atau tentang kamu
Untuk mengatasi toxic employee, membutuhkan peran aktif dari elemen perusahaan mulai dari para pemimpin, senior, maupun divisi HR. Bentuk budaya positif melalui tindakan.
Bagaimanapun juga toxic employee dapat mengurangi 'aksinya', jika lingkungan kerja memiliki ketegasan, bersikap adil dan tidak 'memanjakan' beberapa orang saja. Jadi, fokusnya bukan hanya menghindari toxic employee saja, namun kantor perlu berperan aktif dalam menyikapi individu ini, demi kenyamanan bersama. Apakah di lingkungan kerjamu ada karyawan toxic?