Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool)
Keinginan untuk resign sebenarnya bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa. Bisa jadi seseorang memang salah memilih pekerjaan. Bisa juga masalahnya hanya berada pada satu aspek yang masih mungkin diperbaiki, seperti pembagian tugas, komunikasi dengan atasan, jam kerja, atau kurangnya kejelasan mengenai ekspektasi.
Menariknya, niat untuk resign juga tidak selalu berarti seseorang benar-benar akan keluar. Sebuah studi yang terbit pada 2026 terhadap pekerja kesehatan di Amerika Serikat, menemukan bahwa burnout berkaitan dengan niat keluar dan turnover aktual, tetapi turnover intention sendiri tidak selalu menjadi prediktor sempurna bahwa seseorang benar-benar akan meninggalkan pekerjaannya.
"Burnout memengaruhi baik niat untuk keluar maupun tindakan keluar yang sesungguhnya. Thriving memengaruhi niat untuk keluar, namun tidak meningkatkan tindakan keluar yang sesungguhnya. Penggunaan niat untuk keluar sebagai proksi bagi tindakan keluar yang sesungguhnya, dapat menyesatkan," demikian laporan studi Work-related Well-Being, Turnover Intention, and Completed Turnover in a Cohort of US Patient Care Workers dalam PubMed Central.
Jika dalam bahasa sederhana, keinginan “aku mau resign” bisa berada di antara sekadar luapan frustrasi dan keputusan yang benar-benar sudah matang. Karena itu, anak muda yang baru beberapa bulan bekerja dan sudah ingin resign, sebaiknya tidak buru-buru merasa gagal. Coba bedakan: apakah kamu hanya sedang lelah karena fase adaptasi atau memang ada masalah mendasar yang terus berulang.
Bekerja memang membutuhkan proses adaptasi. Tidak semua pekerjaan akan menyenangkan setiap hari dan tidak semua rasa lelah berarti seseorang harus segera pergi. Tetapi jika setelah berbulan-bulan seseorang terus merasa tertekan, tidak berkembang, tidak dihargai, dan tidak melihat adanya perubahan, keinginan resign bisa menjadi sinyal yang layak didengarkan.