Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Pekerja Baru Sering Takut Dianggap Cari Muka?

5 min read
Kenapa Pekerja Baru Sering Takut Dianggap Cari Muka?
Ilustrasi rekan kerja (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Hari pertama masuk kerja biasanya dipenuhi hal-hal kecil yang terasa besar. Mulai dari memilih tempat duduk, bingung harus menyapa siapa dulu, sampai berpikir dua kali sebelum mengangkat tangan saat atasan bertanya, "Ada yang punya ide?" Di pikiran pekerja baru, pertanyaan sederhana itu bisa berubah menjadi dilema: kalau diam takut dianggap pasif, tetapi kalau terlalu aktif takut dicap cari muka.

Situasi seperti ini cukup sering terjadi ketika seseorang sedang berusaha membaca suasana kantor. Ia ingin terlihat punya inisiatif, tetapi juga tidak ingin terlihat seperti sedang mengejar perhatian atasan. Lalu mengapa bisa dianggap cari muka?

  1. 1. Baru pertama masuk kerja, semua gerak-gerik terasa sedang dinilai

    Ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Kampus Production)
    Ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Kampus Production)

    Bayangkan seorang pekerja baru bernama Raka. Baru seminggu bekerja, ia melihat ada tugas yang belum selesai. Ia sebenarnya punya waktu dan kemampuan untuk membantu. Namun sebelum mengetik, "Biar saya bantu," Raka justru berhenti sebentar. Ia membayangkan teman satu tim mungkin berpikir, "Baru juga masuk, sudah mau kelihatan paling rajin."

    Perasaan seperti ini tidak selalu berarti seseorang terlalu percaya diri atau terlalu memikirkan omongan orang. Pekerja baru terkadang memang menghadapi ketidakpastian mengenai tugas, peran, rekan kerja, bahkan cara organisasi bekerja. Tapi ketidakpastian tersebut dapat mendorong seseorang mencari informasi agar lebih memahami lingkungan barunya.

    Russell Korte, peneliti dari Colorado State University, bersama Samantha Brunhaver dan Sheri Sheppard, menemukan bahwa proses adaptasi pekerja baru ternyata lebih ambigu dan sulit daripada yang sering dibayangkan. Mereka menulis bahwa pekerja baru dapat mengalami frustration, uncertainty, or disappointment ketika transisi dari pendidikan ke dunia kerja tidak sesuai harapan.

    "Setiap tahun, lulusan baru memasuki dunia kerja dengan harapan besar terhadap karier mereka. Bagi banyak orang, transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja merupakan tantangan tersendiri saat mereka belajar menyesuaikan diri dengan peran baru dan lingkungan organisasi. Sering kali, mereka mendapati kenyataan yang tidak sesuai harapan dan mengalami rasa frustrasi, ketidakpastian, atau kekecewaan terhadap pekerjaan baru mereka," dikutip dari studi mereka (Mis)Interpretations of Organizational Socialization: The Expectations and Experiences of Newcomers and Managers dalam Wiley Online Library.

  2. 2. Pekerja baru belum tahu aturan tidak tertulis di kantor

    ilustrasi rekan kerja menyebalkan (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi rekan kerja menyebalkan (pexels.com/cottonbro studio)

    Masalah berikutnya muncul karena setiap kantor punya budaya yang berbeda. Di satu tempat, karyawan yang cepat menawarkan bantuan dianggap punya inisiatif. Di tempat lain, perilaku yang sama mungkin dianggap terlalu mencampuri pekerjaan orang lain.

    Bahkan cara menyampaikan pendapat pun bisa berbeda: ada kantor yang terbuka dengan debat, ada pula yang lebih menyukai karyawan memahami situasi terlebih dahulu sebelum menyampaikan kritik. Inilah yang membuat pekerja baru sering memilih mengamati terlebih dahulu. Mereka sedang mencoba memahami aturan-aturan yang tidak tertulis ini.

    Jadi, sebelum berani tampil lebih aktif, pekerja baru sebenarnya sedang mengumpulkan semacam 'peta sosial' tentang kantornya. Mereka ingin tahu: mana yang disebut inisiatif, mana yang dianggap terlalu menonjol, dan mana yang sebaiknya dilakukan setelah memahami konteks.

  3. 3. Takut cari muka bisa muncul karena ingin 'mengelola' kesan

    ilustrasi rekan kerja yang mendukung (pexels.com/Thirdman)
    ilustrasi rekan kerja yang mendukung (pexels.com/Thirdman)

    Ada momen ketika pekerja baru sebenarnya ingin melakukan sesuatu, tetapi pikirannya sibuk dengan kemungkinan penilaian orang lain. Misalnya, ketika atasan meminta sukarelawan untuk mengerjakan proyek tambahan. Tangannya hampir terangkat, tetapi kemudian berpikir, "Nanti dikira ambisius." Akhirnya ia menunduk dan berharap orang lain yang menawarkan diri.

    Masalahnya, terlalu sibuk mengelola kesan justru bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan secara natural. Harvard Business School Professor Amy Edmondson menjelaskan bahwa ketakutan terhadap kesan negatif dapat mendorong orang melakukan perilaku yang kurang optimal, termasuk memilih tidak berbicara ketika sebenarnya perlu berbicara.

    "Rasa takut memberikan kesan negatif dapat memicu berbagai perilaku yang kurang optimal, seperti tidak berani angkat bicara saat diperlukan. Kita terlalu sibuk mengelola persepsi orang lain terhadap diri kita sehingga gagal berkontribusi dalam menciptakan organisasi yang lebih baik," kata Amy Edmondson dikutip dari Harvard Business School.

  4. 4. Lingkungan yang tidak aman membuat orang lebih banyak diam

    Ilustrasi rekan kerja (Pexels.com/Kindel Media)
    Ilustrasi rekan kerja (Pexels.com/Kindel Media)

    Coba bayangkan dua pekerja baru yang sama-sama punya ide. Pekerja pertama berada di tim yang ketika seseorang salah langsung ditertawakan. Pekerja kedua berada di tim yang atasannya justru berkata, "Coba jelaskan idemu." Kemungkinan besar, keduanya akan memiliki keberanian yang berbeda untuk berbicara meskipun kemampuan mereka sama.

    Di sinilah konsep psychological safety menjadi penting. Amy Edmondson, mendefinisikannya sebagai "a shared belief that the team is safe for interpersonal risk taking." Sederhananya, seseorang merasa cukup aman untuk bertanya, mengakui kesalahan, menyampaikan ide, atau menyampaikan kekhawatiran tanpa takut dipermalukan.

    "Keamanan psikologis di tempat kerja didefinisikan sebagai keyakinan bersama bahwa tim merupakan lingkungan yang aman untuk mengambil risiko interpersonal," menurut Edmondson dikutip dari Boston University.

    Selain itu, istilah ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan sikap permisif yang sembrono ataupun suasana hati positif yang terus-menerus. Sebaliknya, keamanan psikologis adalah rasa percaya diri bahwa tim tidak akan mempermalukan, menolak, atau menghukum seseorang karena berani angkat bicara.

    "Rasa percaya diri ini tumbuh dari sikap saling menghormati dan kepercayaan di antara anggota tim," tambah Edmondson.

  5. 5. Jadi, bagaimana membedakan inisiatif dan cari muka?

    Ilustrasi rekan kerja (Pexels.com/Pavel Danilyuk)
    Ilustrasi rekan kerja (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Setelah beberapa minggu bekerja, akhirnya karyawan baru mungkin mulai memahami situasinya. Ia menyadari bahwa menawarkan bantuan bukan otomatis berarti mencari perhatian. Begitu juga dengan bertanya kepada atasan, memberikan ide, atau bersedia mengerjakan sesuatu di luar tugas utama.

    Yang lebih penting adalah alasan di balik perilaku tersebut dan bagaimana seseorang melakukannya. Salah satu tanda inisiatif adalah ketika tindakan tersebut memang berkaitan dengan pekerjaan dan memberikan manfaat bagi tim, bukan sekadar bertujuan mendapatkan pujian.

    Karena itu, pekerja baru tidak harus memilih antara "diam supaya tidak dianggap cari muka" dan "aktif supaya terlihat hebat." Ada jalan tengah yang jauh lebih sehat: amati konteks, pahami kebutuhan tim, lalu berinisiatif ketika memang ada alasan yang jelas.

    Jadi, bertanya karena ingin belajar bukan cari muka. Membantu karena pekerjaan memang membutuhkan bantuan bukan cari muka. Menyampaikan ide dengan tujuan memperbaiki pekerjaan juga bukan berarti sedang mengejar perhatian.

    Rasa takut dianggap cari muka sering kali bukan karena pekerja baru ingin terlalu menonjol, melainkan karena mereka sedang berusaha menemukan posisi yang tepat di lingkungan yang masih asing. Terkadang mereka hanya ingin terlihat kompeten tanpa dianggap sok tahu, ingin aktif tanpa dianggap ambisius, dan ingin dekat dengan tim tanpa terlihat menjilat atasan.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More