Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kerja Udah Maksimal tapi Salah Terus, Ini Cara Hadapi Bos yang Gak Pernah Puas
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)

Punya bos yang sulit dipuaskan bisa menjadi salah satu tantangan terbesar di dunia kerja. Apa pun yang kamu lakukan terasa kurang baginya, revisi datang tanpa henti, dan apresiasi hampir tidak pernah terdengar. Lama-lama, kondisi ini bisa bikin mental lelah dan menurunkan kepercayaan diri.

Situasi seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi. Tapi kalau dibiarkan, dampaknya bisa serius, mulai dari stres berkepanjangan sampai burnout. Karena itu, berikut cara menghadapi bos yang gak pernah puas.

 

1. Pahami pola dan ekspektasi atasan

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by cottonbro studio)

Langkah pertama adalah memahami apa sebenarnya yang diinginkan oleh atasanmu. Terkadang, bos terlihat tidak pernah puas karena ekspektasi mereka tidak tersampaikan dengan jelas sejak awal. Hal ini bisa dicapai bersama dengan komunikasi.

"Salah satu kelalaian paling mahal dari atasan yang kurang berprestasi adalah mereka gagal mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan atau butuhkan darimu," kata psikolog organisasi Liane Davey dalam lamannya.

Dengan memahami pola komunikasi dan standar bos, kamu bisa lebih mudah menyesuaikan cara kerja. Menurut penelitian dalam Journal of Organizational Behavior, kejelasan peran dan ekspektasi sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja

2. Jangan ambil semua secara personal

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Borja Verbena)

Sering kali, sikap bos yang terus menuntut bukan ditujukan secara pribadi. Bisa jadi mereka juga berada di bawah tekanan atau punya standar tinggi dari atasannya. Menurut American Psychological Association, mengambil semua hal secara personal dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

"Personalisasi adalah distorsi kognitif yang dapat memperburuk tekanan emosional,” dijelaskan dalam publikasi APA.

Selain itu, Liane juga menyarankan kamu untuk melakukan teknik "managing up" sebagai cara untuk menyelesaikan masalah yang perlu dipecahkan oleh para pemangku kepentinganmu. Mengelola atasan berarti membalikkan arah hubungan.

"Alih-alih atasan yang menjaga kamu tetap berada di jalur yang benar, kamu yang melakukannya untuk mereka. Kamu membantu mereka menjadi manajer yang kamu butuhkan untuk mencapai apa yang dibutuhkan darimu," jelasnya.

3. Bangun komunikasi yang lebih terbuka

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Kindel Media)

Daripada menebak-nebak, lebih baik kamu mulai membangun komunikasi yang jelas dengan atasan. Tanyakan secara spesifik apa yang mereka harapkan dan bagaimana standar keberhasilan yang diinginkan. Terpenting lagi, sampaikan dengan cara yang tepat tanpa menimbulkan asumsi liar.

"Kamu perlu sedikit berhati-hati dalam berkomunikasi dengan atasan agar tidak terkesan merendahkan atau membuat atasan merasa kamu mengambil alih kendali," Liane mengingatkan.

Selain itu, penting juga untuk melakukan 'check-in' secara rutin. Saling memberi masukan secara teratur dapat meningkatkan kinerja dan keselarasan.

4. Tetapkan batasan yang sehat

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Menghadapi bos yang terus menuntut bukan berarti kamu harus selalu mengiyakan semua hal. Menetapkan batasan adalah hal penting untuk menjaga kesehatan mental.

"Menetapkan batasan di tempat kerja memastikan kebutuhan karyawan akan waktu istirahat, kompensasi yang adil, kondisi kerja yang aman, dan rasa hormat terpenuhi," ujar Sharon Martin, DSW, LCSW, psikoterapis berlisensi dikutip dari Psychology Today.

Menurut penelitian dari Journal of Applied Psychology, karyawan yang mampu menetapkan batasan kerja memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kesejahteraan yang lebih baik. Itulah kenapa kamu perlu melakukan hal ini juga.

5. Fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan)

Tidak semua hal bisa kamu ubah, termasuk karakter atasan. Karena itu, penting untuk fokus pada hal-hal yang ada dalam kendalimu, seperti kualitas kerja, sikap profesional, dan manajemen emosi.

Pendekatan ini juga didukung oleh konsep psikologi locus of control. Menurut penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology, individu dengan fokus pada kontrol internal cenderung lebih resilien dalam menghadapi tekanan.

Menghadapi bos yang tidak pernah puas memang tidak mudah. Tapi bukan berarti kamu tidak punya solusi. Dengan memahami pola atasan, menjaga komunikasi, dan menetapkan batasan, kamu bisa tetap bekerja secara profesional tanpa mengorbankan dirimu sendiri.

Editorial Team