Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Membaca Atasan: Belajar dari Karakter Boss ‘Sulit’ Seperti Miranda

Cara Membaca Atasan: Belajar dari Karakter Boss ‘Sulit’ Seperti Miranda
Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)

Kamu mungkin setuju bahwa karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears Prada bukan sekadar tokoh fiksi, tapi jadi representasi nyata dari tipe atasan yang ‘sulit’ di dunia kerja. Perfeksionis, dingin, menuntut tinggi, dan sering minim empati-tampaknya banyak orang yang pernah bekerja dengan sosok seperti ini, meski mungkin tidak se-ekstrem di film.

Di era sekarang, memahami karakter atasan bukan cuma soal bertahan, tapi juga strategi. Alih-alih langsung menyerah atau melawan, membaca pola perilaku atasan bisa membantu kamu bekerja lebih cerdas, menjaga energi, dan tetap berkembang.

1. Kenali pola perfeksionis yang tidak pernah puas

Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)
Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)

Miranda dikenal sebagai sosok yang hampir tidak pernah puas dan terus menuntut kerja timnya. Dalam dunia nyata, tipe atasan seperti ini sering dianggap sebagai toxic leader karena standar yang terlalu tinggi, sulit dipahami, dan ingin semua terpenuhi. Jadi penting untukmu memahami pola ini dan lebih proaktif membaca standar mereka daripada menunggu arahan jelas.

"Kita semua tahu bahwa atasan yang narsistik sulit untuk diajak bekerja sama. Ia (baik laki-laki maupun perempuan) menuntut, tidak berempati, kritis, dan terlalu berpusat pada diri sendiri." ungkap Amanda Robins, seorang psikoterapis dalam laman amandarobinspsychotherapy.com.au.

2. Harus bisa membedakan tegas vs toxic

Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)
Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)

Tidak semua atasan yang keras itu buruk. Miranda memang tampak ekstrem, tapi ada pelajaran penting juga yang bisa kamu ambil, yakni standar tinggi tidak selalu sama dengan toxic. Yang jadi masalah mungkin adalah cara penyampaiannya.

Kita bisa melihat bahwa dia terlalu mengontrol ketika seharusnya memberdayakan, menggunakan keheningan sebagai senjata, dan memerintah melalui rasa takut. Miranda juga tidak memberikan feedback, tidak memberikan dorongan, dan tidak memberikan toleransi atas kesalahan.

Dia benar-benar memiliki standar yang tinggi. Tapi cara penyampaiannya memang harus kita akui bahwa itu terkesan cukup toxic dan ini juga bisa berpengaruh ke kesehatan mentalmu.

Menurut studi Sekolah Bisnis Universitas Manchester yang meneliti lebih dalam bagaimana karyawan terpengaruh oleh bos yang toxic. Mereka meneliti 1.200 partisipan dari berbagai industri di beberapa negara berbeda.

Tidak mengherankan, orang-orang yang bekerja untuk bos yang toxic mengalami tingkat kepuasan kerja yang lebih rendah. Namun yang lebih mengkhawatirkan, penderitaan karyawan di tempat kerja juga meluas ke kehidupan pribadi mereka. Para peneliti menemukan bahwa karyawan yang bekerja untuk bos yang narsis atau psikopat lebih cenderung mengalami depresi klinis.

3. Pahami motif di balik sikap dingin

Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)
Karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears (Instagram/@tdwpmovie)

Miranda sering terlihat dingin, minim empati, dan tidak peduli. Tapi perilaku ini bukan tanpa alasan-bisa karena tekanan tinggi, target besar, atau budaya kerja yang keras.

Memahami hal ini penting agar kamu tidak terlalu personal. Sikap dingin boss mungkin itu bukan tentangmu, tapi tentang cara mereka memandang kepemimpinan. Dengan begitu, kamu bisa tetap profesional tanpa terbawa secara personal.

4. Pelajari cara managing up

Karakter Miranda Priestly dan Andy dalam The Devil Wears Prada (Instagram/@tdwpmovie)
Karakter Miranda Priestly dan Andy dalam The Devil Wears Prada (Instagram/@tdwpmovie)

Daripada hanya melawan, kamu bisa belajar 'mengelola atasan' atau managing up. Ini adalah skill penting, terutama saat menghadapi boss sulit seperti Miranda. Konsultan workplace Jeff Civillico menyarankan untuk menggunakan komunikasi proaktif dan strategi bertanya.

“Tonjolkan kontribusi kamu kepada seseorang yang tidak menghargai. Berkomunikasilah secara proaktif dengan seseorang yang terlalu mengontrol. Ajukan pertanyaan yang jelas dan terfokus. Kamu tidak selalu bisa mengubah pendekatan mereka, tetapi kamu bisa membentuk lingkungan tempat kamu bekerja,” jelasnya dikutip dari New York Post.

Jadi, jangan tunggu feedback-ciptakan sendiri ruang komunikasi. Misalnya, kirim update rutin, klarifikasi ekspektasi, atau ajukan opsi solusi tanpa harus menunggu perintah. Inilah yang dilakukan Andy asistennya dalam film tersebut. Dengan begitu, kamu tidak hanya reaktif, tapi juga mengontrol situasi.

5. Ambil pelajaran, bukan trauma

Karakter Andy dalam The Devil Wears Prada (Instagram/@tdwpmovie)
Karakter Andy dalam The Devil Wears Prada (Instagram/@tdwpmovie)

Banyak orang melihat boss seperti Miranda sebagai mimpi buruk. Tapi jika dilihat dari sisi lain, pengalaman ini bisa jadi pelajaran berharga untuk kariermu. Menurut Jeff Civillico, pengalaman bekerja dengan atasan toxic bisa membantu seseorang memahami seperti apa pemimpin yang buruk dan bagaimana menjadi lebih baik.

“Kepemimpinan yang buruk memberikan kontras. Hal itu mengungkapkan bagaimana rasanya ketidakpedulian dan seberapa cepat hal itu bisa menguras moral. Jika kamu memperhatikannya, hal itu bisa menjadi panduan, menunjukkan kepada kamu persis jenis pemimpin seperti apa yang ingin kamu capai ke depan,” jelasnya.

6. Jaga batasan dan kesehatan mental

Cuplikan film The Devil Wears Prada (Instagram/@tdwpmovie)
Cuplikan film The Devil Wears Prada (Instagram/@tdwpmovie)

Belajar dari Miranda bukan berarti harus menoleransi semua perilakunya. Tentu ada batas yang tetap harus kamu jaga, terutama untuk kesehatan mental. Menurut laporan Verywell Mind, atasan toxic bisa menyebabkan penurunan motivasi, harga diri, bahkan kesehatan mental karyawan.

"Pemimpin toksik merusak kesejahteraan mental karena dampak yang bisa mereka berikan pada sejumlah area penting bagi pengalaman kerja seorang karyawan," jelas Ella Washington, PhD, seorang psikolog organisasi dan profesor di Universitas Georgetown.

"Pemimpin toksik berkontribusi pada lingkungan di mana karyawan tidak bisa melihat versi terbaik dalam diri mereka sendiri, merasa tidak mampu, atau memiliki ekspektasi yang tidak realistis—seperti bekerja sampai kelelahan. Semua ekstrem ini dapat menyebabkan perasaan tidak aman dan ketidakstabilan yang mengarah pada gangguan kesehatan mental," tambahnya.

Karena itu, penting untuk tetap punya batasan: tahu kapan harus speak up, kapan harus diam, dan kapan harus pergi. Bertahan itu penting, tapi tidak dengan mengorbankan diri sendiri. Boss seperti ini juga sulit membuatmu berkembang.

"Atasan yang toksik tidak mempertimbangkan kesejahteraan atau pertumbuhan profesional karyawan mereka," jelas psikolog klinis Dr. Paul Losoff, PsyD,.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kamu Dog Person atau Cat Person?

30 Apr 2026, 16:15 WIBLife