Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Overwork Bikin Banyak Orang Takut Ambil Cuti?

Kenapa Overwork Bikin Banyak Orang Takut Ambil Cuti?
ilustrasi overwork (unsplash.com/Muhammad Faiz Zulkeflee)
Intinya Sih
  • Banyak karyawan enggan mengambil cuti karena budaya kerja menilai kehadiran sebagai tanda loyalitas, sehingga istirahat dianggap berisiko terhadap citra profesional mereka.
  • Tumpukan pekerjaan setelah libur dan tekanan untuk selalu siaga lewat teknologi membuat waktu cuti terasa tidak benar-benar bebas dari tanggung jawab kantor.
  • Pandangan bahwa kesibukan adalah prestasi dan anggapan cuti harus punya alasan besar membuat banyak orang menunda hak istirahat hingga rasa lelah menumpuk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Cuti seharusnya menjadi hak yang bisa digunakan tanpa rasa bersalah. Namun, di banyak tempat, masih ada orang yang merasa tidak nyaman ketika mengajukan cuti meski jatah hari liburnya masih tersedia. Fenomena overwork membuat waktu istirahat sering dianggap sebagai kemewahan, bukan kebutuhan biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, keputusan untuk mengambil cuti sering terasa lebih rumit daripada yang terlihat. Berikut beberapa alasan yang menjadikan overwork bikin banyak orang takut ambil cuti.

1. Lingkungan kerja menjadikan kehadiran sebagai tolak ukur loyalitas

ilustrasi overwork
ilustrasi overwork (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Di sejumlah tempat kerja, karyawan yang selalu hadir sering mendapat penilaian lebih positif dibandingkan dengan mereka yang rutin memanfaatkan cuti. Situasi ini membuat banyak orang merasa harus terus terlihat aktif agar dianggap berdedikasi. Padahal, produktivitas tidak selalu diukur dari berapa lama seseorang berada di kantor. Ada pekerjaan yang justru selesai lebih cepat karena pengelolaan waktu yang baik.

Pandangan semacam ini membuat cuti terasa seperti keputusan yang berisiko. Beberapa orang khawatir dianggap kurang serius terhadap pekerjaan hanya karena mengambil hak yang memang tersedia. Akhirnya, banyak karyawan memilih tetap bekerja meski sebenarnya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Lama-kelamaan, kehadiran menjadi simbol komitmen yang dianggap lebih penting daripada kualitas kerja itu sendiri.

2. Tumpukan pekerjaan setelah libur terasa lebih menakutkan

ilustrasi lembur
ilustrasi lembur (pexels.com/www.kaboompics.com)

Bagi sebagian orang, masalah utama bukan saat mengajukan cuti, melainkan apa yang menunggu setelah kembali bekerja. Kotak masuk email yang penuh, pesan yang belum dibaca, serta pekerjaan yang menumpuk sering membuat cuti terasa kurang menarik. Tidak sedikit yang merasa dua hari berlibur harus dibayar dengan seminggu pekerjaan tambahan.

Kondisi ini membuat banyak orang berpikir bahwa tetap bekerja justru lebih mudah daripada mengejar ketertinggalan setelah libur. Akibatnya, cuti tidak lagi dipandang sebagai kesempatan melepas penat, melainkan sumber pekerjaan baru. Ketika pengalaman seperti ini terjadi berulang kali, rasa enggan mengambil cuti menjadi semakin kuat. Bahkan ada yang memilih menyimpan jatah cuti hingga akhir tahun tanpa pernah menggunakannya.

3. Budaya serba siaga membuat libur terasa setengah hati

ilustrasi overwork
ilustrasi overwork (unsplash.com/ Phuong Nguyen)

Perkembangan teknologi membuat pekerjaan lebih mudah dibawa ke mana saja. Ponsel, aplikasi pesan, dan rapat daring membuat banyak orang tetap bisa dihubungi meski sedang tidak bekerja. Secara tidak langsung, muncul kebiasaan untuk selalu siap merespons kapan pun dibutuhkan.

Akibatnya, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur. Ada yang sedang berlibur tetapi masih rutin memeriksa email setiap beberapa jam. Ada pula yang tetap mengikuti perkembangan pekerjaan dari grup kantor selama cuti berlangsung. Ketika libur tidak benar-benar terasa sebagai libur, motivasi untuk mengambil cuti pun ikut menurun karena hasil yang diperoleh dianggap tidak sepadan.

4. Kesibukan berlebihan sering dianggap sebagai prestasi

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (unsplash.com/Alex Sheldon)

Beberapa tahun terakhir, kesibukan kerap dipamerkan layaknya pencapaian. Jadwal yang padat, pekerjaan yang tidak ada habisnya, hingga waktu tidur yang berkurang sering dianggap sebagai tanda seseorang sedang berkembang. Tanpa disadari, banyak orang akhirnya merasa kurang berhasil jika memiliki waktu luang.

Pandangan ini membuat cuti terlihat bertentangan dengan citra tersebut. Beristirahat seolah identik dengan kehilangan kesempatan untuk mengejar target berikutnya. Padahal, waktu luang bukan tanda kemunduran. Justru banyak ide, rencana, dan keputusan yang lebih matang muncul ketika seseorang memiliki ruang untuk menjauh sejenak dari rutinitas yang padat.

5. Cuti sering dianggap harus punya alasan besar

ilustrasi cuti sakit
ilustrasi cuti sakit (unsplash.com/engin akyurt)

Masih banyak orang yang merasa cuti hanya pantas digunakan untuk keperluan penting, seperti menghadiri acara keluarga, bepergian jauh, atau mengurus kebutuhan tertentu. Jika tidak memiliki agenda khusus, mereka merasa tidak cukup punya alasan untuk mengambil libur. Akibatnya, waktu istirahat sederhana sering dianggap tidak penting.

Padahal, tidak melakukan apa-apa juga bisa menjadi alasan yang sah untuk cuti. Menghabiskan waktu di rumah, membaca buku yang tertunda, atau sekadar menikmati hari tanpa jadwal sering memberi manfaat yang tidak kalah besar. Sayangnya, overwork bikin banyak orang takut ambil cuti karena kebiasaan masyarakat mengaitkan cuti dengan acara besar bikin mereka terus menunggu momen tertentu yang belum tentu datang. Saat kesempatan itu tiba, rasa lelah biasanya sudah menumpuk terlalu lama.

Overwork tidak selalu muncul karena banyaknya pekerjaan, tetapi juga karena cara sebagian orang memandang waktu istirahat. Ketika cuti dianggap sebagai sesuatu yang perlu dibenarkan, rasa bersalah akan terus mengikuti setiap rencana libur yang dibuat. Jika hak cuti sudah tersedia, mengapa masih merasa harus mencari alasan untuk menggunakannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More