Kalau kamu pergi dari satu titik ke titik lain, dalam jarak 1 kilometer saja, pasti bertemu banyak pedagang. Ada pedagang keliling. Ada pula penjual di warung kecil, besar, dan sebagainya. Belum lagi saat dirimu membuka aplikasi belanja. Isinya pedagang semua.
Kenapa Pekerjaan sebagai Pedagang Kerap Diremehkan?

- Pekerjaan pedagang sering diremehkan karena dianggap mudah, berpenghasilan kecil, pilihan saat sulit mendapat kerja formal, serta dinilai dari tempat usaha dan penampilan sederhana.
- Artikel menekankan bahwa berdagang membutuhkan ilmu, keuletan, jaringan, serta kemampuan menghadapi omzet dan keuntungan yang berubah-ubah tanpa fasilitas kerja maupun jaminan hari tua.
- Pedagang berperan penting memenuhi kebutuhan masyarakat dan menyalurkan produk produsen; potensi penghasilannya dapat besar jika memahami target pasar serta promosi.
Pekerjaan yang satu ini sangat umum di mana pun. Di satu sisi, orang yang berjualan pasti dicari oleh masyarakat. Namun, di sisi lain, pekerjaan berdagang juga masih sering dipandang sebelah mata. Sampai-sampai gak semua orang percaya diri untuk melakoninya. Sekalipun ia sebenarnya sangat ingin mencobanya, bahkan yakin punya kemampuan tinggi dalam menjual produk. Pekerjaan sebagai pedagang kerap diremehkan oleh sebagian masyarakat karena hal-hal di bawah ini.
1. Anggapan kalau cuma jualan, semua orang juga bisa

ilustrasi pedagang pakaian (pexels.com/MART PRODUCTION) Orang yang tidak pernah berjualan apa pun seumur hidupnya malah paling sering bersikap merendahkan pedagang. Pekerjaan berdagang dinilai gampang sekali. Penjual cuma perlu membuka lapak dan menunggu pembeli datang.
Padahal, berdagang tak semudah itu. Mungkin semua orang, termasuk yang tidak berpendidikan tinggi, pun dapat berjualan. Namun, untuk pedagang memiliki nama, banyak pelanggan, serta jaringan yang luas bukan hal mudah. Ia harus punya ilmunya serta keuletan menghadapi berbagai tantangan.
2. Gak tahu perputaran uangnya

ilustrasi pedagang (pexels.com/Dana Ladic) Kurangnya pengetahuan bikin orang malah bersikap sok tahu. Alih-alih mencari tahu berapa omzet dan keuntungan bersih para pedagang di sekitarnya, mereka justru langsung meyakini nilainya pasti kecil. Ini membuat mereka berpikir berdagang gak bikin kaya.
Faktanya, tak sedikit orang yang berjualan bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, punya rumah bagus, pergi ke Tanah Suci, punya banyak perhiasan emas asli, dan sebagainya. Pendapatannya tidak kalah dengan pekerja kantoran, bahkan dapat jauh melampauinya. Sekalipun aktivitasnya berjualan tampak gak setegang karyawan.
3. Tempat berjualan, kendaraan, dan penampilan bisa seadanya sekali

ilustrasi pedagang buah (pexels.com/rangga ispraditya) Masih banyak orang yang menilai segala hal berdasarkan apa yang mudah tertangkap mata saja. Sementara itu, orang yang sibuk berjualan tidak terlalu memperhatikan penampilan. Terpenting, caranya berpakaian masih pantas.
Malah pakaian kadang lusuh karena produk yang dijual memang tidak bisa sepenuhnya bersih. Seperti pedagang ikan segar yang harus membersihkan sisik ikan sepanjang hari. Tempat berjualan juga kecil agar biaya sewa tidak tinggi. Kendaraan yang digunakan sehari-hari disebut motor atau mobil capek. Usianya kerap sudah cukup tua, tak mulus lagi, tapi terpenting masih dapat mengangkut dagangan.
4. Dinilai sebagai pilihan kepepet orang yang gak dapat kerja di sektor formal

ilustrasi pedagang umbul-umbul (pexels.com/N Sopyan) Terlepas dari pekerjaan sebagai pedagang dilakoni karena keterpaksaan atau dipilih dengan senang hati, hidup memang butuh uang. Maka tidak salah kalau orang yang sulit memperoleh pekerjaan kantoran kemudian memutuskan berjualan saja. Begitu pula banyak karyawan tetap, bahkan senior, di kantor sekalipun masih menyambi berdagang di luar jam kerjanya.
5. Tidak menyadari repotnya hidup bila tak ada pedagang

ilustrasi pedagang sayur (pexels.com/hartono subagio) Orang yang suka meremehkan pekerjaan orang lain tak memahami bahwa hidup mereka sebenarnya amat bergantung pada pihak lain. Bayangkan sehari saja pedagang sayur keliling tidak lewat di depan rumahmu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dirimu pasti bingung mau belanja di mana. Para produsen pun tak dapat memasarkan produknya kalau tidak ada orang yang mau menjualnya.
6. Merasa kasta pembeli lebih tinggi dari penjual

ilustrasi memotret produk (pexels.com/MART PRODUCTION) Perasaan ini muncul karena seakan-akan pembeli memberikan sejumlah uang kepada pedagang. Padahal, uang itu sebetulnya untuk menebus barang yang diinginkannya. Laba pedagang tak seberapa dan merupakan haknya karena sudah menyediakan barang kebutuhan. Anggapan kedudukan pembeli lebih tinggi diperkuat oleh kalimat yang sangat populer, yaitu pembeli adalah raja.
7. Hidupnya penuh ketidakpastian

ilustrasi pedagang online (pexels.com/Kampus Production) Pedagang sama seperti pekerja lepas. Penghasilannya tidak tetap. Dagangannya kadang laku keras, biasa saja, bahkan sepi peminat. Besaran keuntungannya pun tak sama, tergantung pada naik turunnya harga produk serta pertimbangan daya beli masyarakat.
Pedagang juga tidak disediakan fasilitas seperti peralatan kerja, apalagi jaminan hari tua. Semuanya harus disiapkan sendiri. Namun, mereka sudah sangat biasa mengelola uang. Bukan tidak mungkin mereka malah lebih mampu menyiapkan segalanya secara mandiri dibandingkan dengan orang yang memandangnya sebelah mata.
8. Barang yang dijual kurang bergengsi

ilustrasi pedagang pakaian (pexels.com/MART PRODUCTION) Terakhir, pekerjaan sebagai pedagang kerap diremehkan karena barang yang dijual kurang bergengsi. Ingat, walau sama-sama pedagang, produk yang dipasarkan berlainan. Ada orang yang khusus menjual properti atau mobil sehingga terkesan lebih mewah. Harga satu unitnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan dagangan lain, seperti pentol, es, dan sebagainya.
Padahal, jajanan yang harganya murah meriah punya banyak peminat. Harganya tak seberapa, tapi modalnya juga kecil. Itu yang tidak diperhitungkan oleh orang-orang yang cuma suka mengejek.
Apa pun pandangan orang, berdagang adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan. Manusia memiliki beragam kebutuhan serta keinginan untuk dipenuhi. Berbagai produk yang dijual punya potensi laku asal tahu kepada siapa barang ditawarkan dan cara promosinya mesti menarik. Kalau kamu juga berdagang atau baru ingin memulainya, jaga semangatmu dan jangan terlalu memikirkan olok-olok orang.






















