Saat masyarakat ramai-ramai mengeluhkan kondisi ekonomi mereka, pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pemerintah sebagai pembuat berbagai kebijakan juga dilarang menyepelekan situasi ini. Seolah-olah keluhan cuma heboh di media sosial, tapi realitasnya semua baik-baik saja.
Kesedihan Rakyat saat Daya Beli Menurun, Pedagang dan Pembeli Kena

- Penurunan daya beli membuat keluarga berpenghasilan rendah menghemat makan, menurunkan kualitas konsumsi, bahkan tidak selalu mampu makan tiga kali sehari.
- Kebutuhan anak, keinginan sederhana, hingga penggantian alat kerja tertunda karena pendapatan kalah cepat dari kenaikan biaya hidup.
- Konsumsi yang melemah membuat UMKM sepi; masyarakat bekerja lebih keras, menguras tabungan, dan sebagian rentan terjerat pinjaman online.
Penderitaan serta kesedihan rakyat saat daya beli menurun sangatlah luar biasa. Mayoritas masyarakat tidak sekaya para pejabat di pemerintahan. Situasi yang bagi kalangan atas masih wajar, buat rakyat biasa sudah seperti pertarungan hidup dan mati.
Mereka bukan lagi berurusan dengan gaya hidup, melainkan sekadar bertahan hidup secara layak pun susah. Masyarakat yang mengalami guncangan ekonomi juga tak cuma tinggal diam sambil berharap situasi membaik. Mereka telah melakukan berbagai cara, tetapi masih saja menghadapi realitas menyedihkan sebagai berikut.
1. Buat makan saja dihemat-hemat

ilustrasi berbelanja sayur (pexels.com/hartono subagio) Makan adalah kebutuhan pokok semua makhluk hidup. Namun, di titik ketika daya beli masyarakat anjlok, kebutuhan ini pasti terdampak. Apalagi untuk masyarakat berpendapatan rendah. Bukan gaya hidup lagi yang mesti direm.
Soal perut pun langsung terpengaruh. Kualitas beras yang dikonsumsi makin rendah. Bahkan beberapa keluarga tidak bisa makan 3 kali sehari. Tiap orangtua menyiapkan lauk seperti tahu dan tempe goreng benar-benar dihitung sesuai jumlah anggota keluarga saja. Gak ada kelonggaran uang belanja buat mereka menambah lauk.
2. Jajan anak terdampak

ilustrasi penjual es krim (pexels.com/MAYDAY VISUALS) Anak memang tidak jajan pun masih bisa hidup, asalkan di rumah sudah diberi makan. Akan tetapi, hati orangtua mana yang tak diam-diam pedih bila mereka tidak bisa memberikan uang jajan pada anak? Terlebih anak pulang sekolah menjelang sore.
Atau, di antara kawan-kawan mainnya cuma dia yang gak lagi membeli jajanan. Anak mencoba tetap ceria atau sibuk sendiri ketika teman-temannya beristirahat sebentar dari permainan untuk menikmati jajanan. Di usia sekecil itu, ia sudah harus menahan rasa malu tidak punya uang saku sekaligus keinginan meminta jajanan kawannya.
3. Ingin sesuatu mesti ditahan dan nabungnya lebih lama

ilustrasi termenung (pexels.com/Esase) Manusia gak salah menginginkan berbagai hal dalam hidup. Bukan manusia namanya apabila tidak memiliki hasrat, termasuk terkait kepemilikan benda-benda. Akan tetapi, lemahnya daya beli bikin keinginan yang sebetulnya tidak mahal pun menjadi cuma mimpi.
Mereka mungkin masih akan bisa membelinya. Namun, tidak sekarang. Mereka mesti menahan keinginan terlebih dulu dan sabar menabung. Itu pun bukan buat sesuatu yang harganya jutaan rupiah. Kadang keinginan akan sepatu atau pakaian 100 ribu rupiah saja kudu ditahan sedemikian rupa sampai mereka merasa nelangsa.
4. Peralatan kerja seharusnya diganti, tapi tak juga terbeli

ilustrasi bekerja (pexels.com/Esase) Kalau keinginan yang sifatnya tak terlalu penting mesti ditahan, orang mungkin masih bisa menerima. Namun, pelemahan daya beli masyarakat tidak jarang juga membuat mereka kesulitan untuk memperbarui alat kerja. Padahal, peralatannya sudah usang hingga sulit sekali digunakan.
Contohnya, tukang sampah yang ban motornya kudu diganti. Namun, ia tidak memiliki uang buat membelinya. Satu ban saja tak terbeli, apalagi dua. Dia masih punya pendapatan rutin, tapi biaya hidup terus naik.
Selama ban motornya belum terbeli, mau tidak mau ia mengambil sampah dengan berjalan kaki sambil menarik gerobak. Ini tentu sangat melelahkan dan membuatnya tidak bisa menjangkau semua area yang menjadi tanggung jawabnya dalam setengah hari. Ia dapat kehilangan pekerjaan kalau pelanggan kesal karena sampahnya menumpuk.
5. Usaha pun sepi

ilustrasi pedagang kecil (pexels.com/Mehmet Turgut Kirkgoz) Saat daya beli masyarakat turun, tidak hanya konsumen yang merasakan kesengsaraan. Para pengusaha, khususnya UMKM, pasti juga terdampak. Pelanggan mereka kebanyakan berasal dari kelas menengah ke bawah.
Ketika mereka mesti berhemat sedemikian rupa, belanja pun menjadi jarang atau sedikit. Padahal, UMKM tak punya modal besar. Usaha sepi tidak sampai sebulan pun bisa langsung bangkrut. Sementara orang yang baru akan membuka usaha buat menambah penghasilan takut cuma bakal rugi.
6. Kerja tambah keras, tapi hidup tak lantas lebih mudah

ilustrasi mengangkat koran bekas (pexels.com/kevin yung) Seharusnya kerja keras memberikan hasil yang cukup besar. Misalnya, orang sampai bekerja dobel demi menambah pendapatan. Mereka memang memperoleh penghasilan ekstra dari situ. Namun, ketika harga berbagai kebutuhan naik, maka hasilnya dapat kurang terasa.
Mereka sudah bekerja mati-matian, tapi tetap tidak punya tabungan. Atau, penghasilan dari pekerjaan utama dipangkas. Mereka menjadi mesti punya side job, tapi hasilnya ditambah dengan gaji pekerjaan utama tetap tak sebanding dengan kebutuhan.
7. Makan tabungan hingga terjerat pinjol

ilustrasi pedagang (pexels.com/Annelie Valera) Banyak masyarakat kelas menengah terpaksa makan tabungan ketika daya belinya terus menurun. Penghematan tidak lagi bisa menjadi solusi. Substitusi produk biar lebih irit tak efektif. Kerja ganda gak selalu lancar. Di tengah situasi begini, tabungan menjadi satu-satunya penyelamat.
Awalnya hidup memang terasa kembali aman karena berbagai kebutuhan tetap terbeli. Namun, tabungan bakal habis juga. Mereka tidak bisa bertahan. Begitu pun masyarakat yang sejak awal gak punya tabungan atau ada tapi minim rentan lari ke pinjol. Ini akan menjadi masalah baru di kemudian hari.
Selain muncul kesedihan rakyat saat daya beli menurun, masa paceklik ini membuat masyarakat stres. Hidup jauh lebih sulit. Mereka tidak tahu sampai kapan situasinya seperti ini. Masyarakat menengah ke bawah dihantui ketakutan tak dapat bertahan dan gak ada pihak yang menolong.
























