"Covering adalah tindakan mengecilkan aspek-aspek identitas yang sebenarnya kamu akui," kata Kenji Yoshino, profesor hukum konstitusi di New York University School of Law dan direktur Meltzer Center for Diversity, Inclusion, and Belonging dikutip dari Big Think.
Quiet Covering: Kenapa Karyawan Pilih Gak Tunjukkan Skill Terbaiknya?

Pernahkah kamu merasa sebenarnya bisa mengerjakan lebih banyak, punya ide yang lebih bagus, atau memiliki kemampuan tertentu yang bisa membantu tim, tetapi kamu memilih untuk tidak terlalu menunjukkannya? Bisa jadi bukan karena malas atau tidak punya ambisi. Ada karyawan yang justru sengaja menahan sebagian kemampuan, pendapat, atau karakter dirinya karena merasa tampil terlalu menonjol dapat membuatnya tidak nyaman di lingkungan kerja.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah quiet covering. Konsep ini berhubungan dengan “covering”, yaitu ketika seseorang tidak benar-benar menyembunyikan identitasnya, tetapi mengecilkan atau mengurangi bagian tertentu dari dirinya agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.
1. Takut terlihat terlalu menonjol

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Kindel Media) Salah satu alasan seseorang melakukan quiet covering adalah kekhawatiran jika kemampuan yang terlalu terlihat justru membuatnya dianggap berbeda. Misalnya, karyawan sebenarnya memiliki kemampuan presentasi yang bagus, tetapi sengaja tidak terlalu banyak bicara karena takut dicap 'cari muka'. Ada pula yang punya ide baru tetapi memilih diam karena merasa budaya kantor lebih menyukai orang yang mengikuti kebiasaan lama.
Dalam konteks kemampuan kerja, pola yang sama dapat terlihat ketika seseorang merasa perlu mengecilkan kelebihan agar tidak terlalu berbeda dari rekan-rekannya. Masalahnya, jika kebiasaan tersebut berlangsung lama, atasan bisa saja tidak mengetahui kemampuan sebenarnya yang dimiliki karyawan. Akibatnya, karyawan mungkin tidak mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan proyek atau tanggung jawab yang sesuai dengan potensinya.
2. Takut dianggap sok tahu atau sulit diajak kerja sama

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev) Ada perbedaan antara rendah hati dan terus-menerus menyembunyikan kemampuan. Karyawan yang rendah hati tetap bisa menyampaikan ide ketika diperlukan, sedangkan seseorang yang melakukan quiet covering mungkin memilih diam bahkan ketika sebenarnya memiliki informasi yang berguna.
Keputusan tersebut bisa muncul karena pengalaman sebelumnya atau karena ia sudah memperkirakan bagaimana lingkungan kerja akan merespons. Kekhawatiran semacam ini bisa membuat karyawan melakukan perhitungan sosial sebelum berbicara.
Misalya, “Kalau aku mengoreksi atasan, nanti dianggap sok tahu gak ya?”, “Kalau aku mengajukan ide berbeda, nanti dikira cari perhatian?”, atau “Kalau aku terlalu cepat menyelesaikan tugas, apakah standar kerja untukku akan dinaikkan?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang memilih jalur paling aman: mengerjakan tugas secukupnya dan tidak terlalu memperlihatkan apa yang sebenarnya mampu dilakukan.
3. Lingkungan kerja yang tidak memberikan rasa aman

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by cottonbro studio) Quiet covering juga dapat berkaitan dengan psychological safety atau rasa aman secara psikologis di tempat kerja. Konsep ini bukan berarti kantor harus selalu bebas dari kritik atau perbedaan pendapat. Justru, lingkungan yang memiliki psychological safety memungkinkan seseorang menyampaikan pertanyaan, kekhawatiran, kesalahan, dan ide tanpa takut dipermalukan atau dihukum secara interpersonal.
"Mereka yang merasa aman secara psikologis yakin bahwa keterbukaan dan sikap terbuka untuk menunjukkan kerentanan diri diterima dengan baik di tempat kerja. Mereka percaya bahwa mereka tidak akan dihukum atau dipermalukan saat menyampaikan gagasan, pertanyaan, kekhawatiran, atau mengakui kesalahan," kata Amy C. Edmondson, Novartis Professor of Leadership and Management dikutip dari Harvard Business School.
Ketika rasa aman ini rendah, karyawan dapat memilih untuk mengurangi keterlibatan secara verbal maupun intelektual. Edmondson juga menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung menahan diri ketika takut terlihat tidak kompeten, mengganggu, atau terlalu negatif. Dalam kondisi seperti ini, karyawan mungkin tetap bekerja dengan baik, tetapi kontribusi berupa pertanyaan, ide, kritik, dan kreativitas tidak sepenuhnya muncul.
4. Pengalaman buruk bisa membuat karyawan memilih 'main aman'

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by CRYSTALWEED cannabis) Quiet covering tidak selalu muncul karena seseorang sejak awal tidak percaya diri. Pengalaman di tempat kerja juga dapat mengajarkan seseorang bahwa menunjukkan kemampuan atau berbicara terlalu terbuka mempunyai konsekuensi tertentu. Misalnya, pernah mendapat respons sinis setelah mengemukakan ide, diberi tugas tambahan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya, pernah dikritik ketika mengoreksi kesalahan, atau melihat rekan yang vokal justru mendapatkan respons negatif.
Dengan kata lain, karyawan bisa belajar membaca suasana kantor. Jika pengalaman menunjukkan bahwa orang yang terlalu vokal mudah dicap negatif, mereka mungkin memilih untuk tidak mengambil risiko yang sama. Inilah alasan quiet covering tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan meminta karyawan 'lebih percaya diri'. Organisasi juga perlu melihat apakah terdapat pola respons atau budaya tertentu yang membuat karyawan belajar untuk menahan dirinya.
5. Ketika karyawan tidak menunjukkan potensi, perusahaan juga bisa kehilangan

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool) Quiet covering mungkin terlihat menguntungkan dalam jangka pendek karena karyawan terhindar dari perhatian atau konflik yang tidak diinginkan. Namun, jika terlalu sering terjadi, perusahaan juga bisa kehilangan berbagai masukan yang sebenarnya berguna.
Ide yang tidak pernah disampaikan tidak dapat diuji, pertanyaan yang tidak pernah diajukan tidak dapat membuka diskusi, dan kemampuan yang sengaja disembunyikan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Amy Edmondson menjelaskan dampak dari menahan gagasan tersebut dengan cukup jelas.
"Setiap kali kita menahan diri untuk tidak mengungkapkan pemikiran kita, kita merampas kesempatan bagi diri sendiri maupun rekan kerja untuk mendapatkan momen-momen pembelajaran yang berharga. Hal ini menghambat inovasi dalam tim dan perusahaan kita," ujar Edmondson dalam artikel Harvard Business School.
Karena itu, persoalan quiet covering bukan sekadar apakah seorang karyawan berani menunjukkan kemampuan terbaiknya. Organisasi juga perlu menciptakan kondisi yang membuat kontribusi tersebut terasa aman untuk diberikan.
Karyawan yang tidak menunjukkan kemampuan terbaiknya belum tentu tidak punya ambisi, malas, atau tidak peduli pada pekerjaan. Bisa jadi mereka sedang berusaha membaca situasi dan melindungi diri dari risiko sosial di tempat kerja.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Motif Batik? Uji di Hari Batik Nasional](https://image.idntimes.com/post/20241001/kuis-seberapa-jeli-matamu-menebak-batik-1-9fae9f001557d4685f9725b18e4d801a.jpg)















