Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa Mungkin Ambil Side Job Freelance untuk yang Kerja 9 to 5?

Apa Mungkin Ambil Side Job Freelance untuk yang Kerja 9 to 5?
ilustrasi side job freelance (unsplash.com/Per Lööv)
Intinya Sih
  • Side job freelance makin diminati pekerja 9 to 5 karena memberi ruang menyalurkan kemampuan lain dan pengalaman baru tanpa harus resign dari pekerjaan utama.
  • Freelance tidak wajib sesuai bidang kerja utama; banyak orang justru menikmati proyek dari hobi karena terasa lebih ringan dan menyegarkan secara mental.
  • Penting mengatur waktu, pengeluaran, serta menjaga keseimbangan sosial agar side job tetap produktif tanpa membuat hidup terasa penuh dan melelahkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jam kerja yang padat sering membuat banyak orang merasa hidupnya habis di perjalanan, kantor, lalu kembali mengulang rutinitas yang sama keesokan hari. Di tengah kondisi itu, side job freelance mulai dilirik bukan semata-mata karena uang tambahan, melainkan karena ada kebutuhan lain yang tidak selalu didapat dari kerja 9 to 5.

Sebagian orang ingin punya ruang untuk menyalurkan kemampuan lain, sebagian lagi ingin mencari pengalaman baru tanpa harus buru-buru resign dari pekerjaan utama. Menariknya, pekerjaan tambahan sekarang tidak selalu menuntut waktu panjang atau modal besar seperti beberapa tahun lalu. Nah, sebelum memutuskan mencoba side job freelance untuk yang kerja 9 to 5, ada beberapa hal yang sering luput dipikirkan banyak orang. Cek di bawah ini!

1. Waktu luang setelah pulang kerja tidak selalu bisa dipakai bekerja lagi

ilustrasi pulang kerja
ilustrasi pulang kerja (unsplash.com/Hc Digital)

Banyak orang mengira freelance hanya soal mencari waktu kosong sepulang kantor, padahal tenaga dan fokus punya batas yang berbeda pada tiap orang. Ada yang masih kuat membuka laptop malam hari, tetapi ada juga yang justru mulai sulit berpikir jernih setelah jam tujuh malam. Kondisi seperti ini sering membuat side job terasa menyenangkan di awal, lalu berubah melelahkan setelah beberapa minggu dijalani terus-menerus. Apalagi jika pekerjaan utama sudah banyak meeting atau menuntut komunikasi intens sejak pagi.

Karena itu, memilih freelance sebaiknya tidak hanya melihat nominal bayaran, tetapi juga jenis pekerjaannya. Desain sederhana, proofreading, admin media sosial, atau voice over sering lebih mudah dijalani dibandingkan dengan pekerjaan yang menuntut revisi panjang sampai larut malam. Ada juga orang yang lebih cocok mengambil proyek kecil mingguan dibandingkan dengan kontrak bulanan yang menyita akhir pekan. Cara kerja seperti ini jauh lebih realistis untuk pekerja kantoran yang masih ingin punya waktu istirahat tanpa merasa hidupnya hanya berisi pekerjaan.

2. Freelance tidak selalu harus sesuai pekerjaan utama

ilustrasi edit video
ilustrasi edit video (unsplash.com/Dmitry Berdnyk)

Masih banyak yang berpikir side job harus linier dengan pekerjaan kantor agar terlihat nyambung di CV. Padahal kenyataannya, cukup banyak pekerja 9 to 5 justru mengambil freelance dari kemampuan yang selama ini hanya dianggap hobi. Ada pegawai bank yang menjadi food photographer, staf HR yang menerima jasa edit video, sampai karyawan IT yang membuka ilustrasi digital saat malam hari. Situasi seperti ini makin umum karena platform freelance sekarang memberi ruang besar untuk kemampuan nonformal.

Hal menariknya, pekerjaan tambahan dari bidang berbeda kadang justru terasa lebih ringan secara mental. Aktivitas itu memberi suasana baru setelah seharian menghadapi pekerjaan utama yang monoton. Selain itu, freelance dari hobi sering lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang karena tidak terasa seperti lembur kedua. Banyak orang bertahan menjalani side job bukan karena ambisi besar, melainkan karena menikmati prosesnya tanpa tekanan berlebihan.

3. Penghasilan tambahan sering habis karena salah mengatur cara kerja

ilustrasi penghasilan
ilustrasi penghasilan (unsplash.com/Sasun Bughdaryan)

Salah satu hal yang jarang dibahas soal freelance adalah pengeluaran kecil yang ikut muncul diam-diam. Paket internet tambahan, aplikasi berbayar, ongkos revisi mendadak, sampai kebiasaan membeli kopi saat lembur bisa membuat penghasilan freelance terasa tidak terlalu besar di akhir bulan. Belum lagi jika seseorang terlalu sering menerima proyek murah hanya karena takut kehilangan klien pertama. Situasi seperti ini cukup sering dialami pekerja baru yang belum terbiasa menentukan harga jasa.

Karena itu, penting membedakan freelance yang benar-benar menghasilkan dengan freelance yang hanya membuat sibuk. Tidak semua proyek harus diterima, terutama jika waktu pengerjaannya mengganggu pekerjaan utama atau waktu istirahat. Ada kalanya menolak proyek justru lebih sehat dibandingkan memaksakan diri demi tambahan uang yang tidak seberapa. Side job yang baik biasanya masih memberi ruang untuk hidup normal, bukan membuat seseorang terus merasa dikejar pekerjaan setiap malam.

4. Lingkungan pertemanan bisa berubah setelah mulai punya side job

ilustrasi pertemanan
ilustrasi pertemanan (pexels.com/www.kaboompics.com)

Perubahan kecil yang sering tidak disadari muncul dari cara seseorang menghabiskan waktu luangnya. Saat mulai freelance, ada momen ketika ajakan nongkrong, main game, atau makan malam bersama teman mulai lebih sering ditolak karena mengejar deadline. Hal seperti ini wajar, tetapi tetap perlu diatur supaya hubungan dengan orang sekitar tidak terasa menjauh tiba-tiba. Banyak orang terlalu fokus mencari tambahan penghasilan sampai lupa menjaga waktu sosial yang sederhana.

Di sisi lain, freelance juga bisa membuka lingkar pertemanan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Seseorang yang awalnya hanya menerima proyek kecil bisa bertemu editor, content creator, fotografer, atau klien dari kota lain. Dari situ biasanya muncul peluang kerja lain yang datang lebih natural dibanding sekadar kirim CV ke banyak tempat. Jadi, side job tidak selalu soal uang tambahan, tetapi juga soal bertambahnya pengalaman hidup dari orang-orang baru yang ditemui selama proses bekerja.

5. Tidak semua orang harus punya side job untuk dianggap produktif

ilustrasi side job
ilustrasi side job (unsplash.com/Faizur Rehman)

Media sosial sering membuat side job terlihat seperti kewajiban bagi semua pekerja yang masih berusia muda. Padahal kenyataannya, kondisi hidup tiap orang berbeda dan tidak semua orang punya tenaga ekstra setelah bekerja seharian. Ada yang memang lebih membutuhkan waktu kosong untuk istirahat, membantu orangtua di rumah, atau sekadar menjaga kesehatan tubuh tetap stabil. Pilihan seperti itu juga valid dan tidak membuat seseorang menjadi kurang ambisius.

Freelance seharusnya menjadi pilihan tambahan, bukan ukuran keberhasilan hidup. Kalau dijalani dengan tepat, side job memang bisa membuka peluang baru dan memberi pemasukan tambahan yang cukup membantu. Namun, jika dijalani hanya karena takut tertinggal dari orang lain, pekerjaan tambahan justru mudah terasa melelahkan.

Menjalani side job freelance untuk yang kerja 9 to 5 memang memungkinkan, tetapi cara melakukannya tidak bisa disamakan untuk semua orang. Ada yang cocok mengambil proyek kecil sebagai tambahan pemasukan, ada juga yang lebih nyaman menjaga waktu istirahat setelah seharian bekerja di kantor. Pada akhirnya, side job seharusnya membantu hidup terasa lebih berkembang, bukan malah membuat hari-hari terasa penuh dan melelahkan, bukan begitu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More