Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Belajar Berdamai dengan FOMO di Era Media Sosial, biar Hidup Tenang

Belajar Berdamai dengan FOMO di Era Media Sosial, biar Hidup Tenang
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
Share Article

Di era media sosial, rasanya hampir mustahil menjalani hari tanpa melihat kabar tentang pencapaian orang lain. Ada teman yang baru diterima kerja, membeli rumah, menikah, berlibur ke luar negeri, atau merintis bisnis yang tampak sukses. Deretan unggahan tersebut sering kali membuat seseorang tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Perasaan takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) kini menjadi fenomena yang banyak dialami, terutama oleh generasi muda yang aktif menggunakan media sosial. Namun, FOMO bukanlah sesuatu yang harus terus dipelihara.

1. Memahami bahwa FOMO adalah respons psikologis yang wajar

Ilustrasi membuka media sosial (unsplash.com/Photo by Nicolas Lobos)
Ilustrasi membuka media sosial (unsplash.com/Photo by Nicolas Lobos)

FOMO bukan sekadar rasa iri ketika melihat pencapaian orang lain. Dalam dunia psikologi, FOMO dijelaskan sebagai kecemasan bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih menyenangkan sementara kita tidak ikut mengalaminya. Perasaan ini mendorong seseorang untuk terus memeriksa media sosial agar tidak merasa tertinggal.

"FOMO sebagai kekhawatiran yang meluas bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman yang memuaskan sementara kita tidak, FoMO ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain," ujar Dr. Andrew K. Przybylski, psikolog dan peneliti dari University of Oxford, dilansir dari jurnal Computers in Human Behavior Science Direct.

Fenomena tersebut semakin kuat karena media sosial memungkinkan kita melihat kehidupan banyak orang dalam waktu singkat. Padahal, yang ditampilkan umumnya hanyalah momen-momen terbaik. Tanpa disadari, otak mulai menganggap kehidupan orang lain selalu lebih menarik dibanding kehidupan sendiri, meski kenyataannya belum tentu demikian.

2. Ingat bahwa media sosial hanya menampilkan potongan kehidupan

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

Apa yang muncul di media sosial bukanlah gambaran utuh kehidupan seseorang. Kebanyakan orang cenderung membagikan momen bahagia, pencapaian, atau pengalaman yang membanggakan. Sementara itu, kegagalan, kesedihan, konflik, maupun rasa lelah sering kali disimpan untuk diri sendiri.

Ketika terus melihat "highlight" kehidupan orang lain, kita mudah lupa bahwa setiap orang juga memiliki tantangan yang tidak terlihat. Akibatnya, perbandingan yang kita lakukan menjadi tidak adil karena membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

"Orang-orang melihat konten emosional positif secara online dan percaya bahwa teman-teman mereka lebih bahagia, lebih sukses, dan lebih positif secara emosional dibandingkan diri mereka sendiri. Akibatnya, individu dengan FOMO tinggi sering mengalami perasaan cemas, rendah diri, dan merasa tidak mampu," tulis para peneliti dalam artikel "Personality, Fear of Missing Out and Problematic Internet Use and Their Relationship to Subjective Well-Being" yang diterbitkan di Computers in Human Behavior Science Direct.

3. Kurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain

Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by morefun_boy)
Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by morefun_boy)

Salah satu penyebab utama FOMO adalah kebiasaan melakukan social comparison atau membandingkan diri dengan orang lain. Saat melihat teman mendapat promosi, membeli rumah, atau berlibur ke tempat impian, kita sering kali merasa hidup sendiri berjalan lebih lambat. Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

Daripada terus mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain, cobalah membandingkan dirimu dengan versi dirimu di masa lalu. Fokus pada perkembangan kecil yang sudah berhasil dicapai, seperti menyelesaikan proyek, membangun kebiasaan baru, atau menjaga kesehatan mental. Cara pandang ini membantu mengurangi tekanan untuk selalu "mengejar" kehidupan orang lain.

4. Bangun kehidupan nyata yang lebih bermakna daripada kehidupan digital

Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by Hoi An Photographer)
Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by Hoi An Photographer)

Cara paling efektif untuk mengurangi FOMO bukan sekadar mengurangi waktu bermain media sosial, tetapi memperkaya kehidupan nyata. Menghabiskan waktu bersama keluarga, bertemu teman secara langsung, menekuni hobi, berolahraga, atau mempelajari keterampilan baru dapat memberikan rasa puas yang lebih mendalam dibanding terus-menerus menggulir linimasa.

Psikolog menjelaskan bahwa ketika kebutuhan dasar seperti rasa memiliki, kompetensi, dan otonomi terpenuhi melalui aktivitas di dunia nyata, kecenderungan mengalami FOMO akan berkurang. Sebaliknya, jika seseorang hanya mencari validasi melalui media sosial, rasa takut tertinggal akan lebih mudah muncul dan sulit dikendalikan.

"Motivasi otonom, kompetensi media sosial, dan dukungan sosial secara signifikan berhubungan negatif dengan FOMO. FOMO secara signifikan berhubungan dengan kecanduan media sosial," tulis dalam penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Public Health.

5. Latih rasa syukur dan tetapkan definisi sukses versi diri sendiri

Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by Alexey Demidov)
Ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Photo by Alexey Demidov)

FOMO sering muncul ketika kita menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan. Akibatnya, apa pun yang sudah dimiliki terasa kurang karena selalu ada orang yang tampak lebih sukses, lebih kaya, atau lebih bahagia.

Untuk mengatasinya, penting membangun kebiasaan bersyukur dan menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Melatih rasa syukur tidak berarti berhenti memiliki ambisi.

Sebaliknya, rasa syukur membantu seseorang menghargai proses yang sedang dijalani sambil tetap berusaha mencapai tujuan. Menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari, mengurangi waktu bermain media sosial, dan fokus pada target pribadi merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi kecenderungan FOMO.

"Saya pikir rasa syukur memungkinkan kita untuk lebih berpartisipasi dalam kehidupan. Kita lebih memperhatikan hal-hal positif, dan itu memperkuat kesenangan yang kita dapatkan dari kehidupan," ujar Dr. Robert A. Emmons, profesor psikologi di University of California dikutip dari The Greater Good Science Center at the University of California, Berkeley.

Belajar berdamai dengan FOMO bukan berarti berhenti bermimpi atau tidak lagi memiliki target hidup. Sebaliknya, hal itu mengajarkan kita untuk menikmati perjalanan tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More