Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Work-Life Balance Jadi Tuntutan saat Kerja Menggerus Hidup Pribadi

4 min read
Work-Life Balance Jadi Tuntutan saat Kerja Menggerus Hidup Pribadi
ilustrasi bekerja (magnific.com/lookstudio)
  • Generasi muda menuntut batas jelas antara jam kerja dan waktu pribadi, agar pesan, telepon, atau tugas di luar kantor tidak menjadi kebiasaan yang menggerus waktu istirahat.
  • Mereka menginginkan beban kerja, target, tenggat, dan pembagian tugas yang realistis agar produktivitas terjaga tanpa terus mengorbankan energi serta kehidupan pribadi.
  • Fleksibilitas kerja dan cuti diharapkan tetap memiliki aturan jelas, memberi ruang untuk keluarga, hobi, kesehatan, dan istirahat tanpa tuntutan selalu siaga bekerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bekerja dan membangun karier memang menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi generasi muda kini semakin menyadari bahwa hidup tidak seharusnya hanya berputar di sekitar pekerjaan. Setelah jam kantor selesai, masih ada keluarga, pertemanan, kesehatan, hobi, hingga waktu untuk sekadar beristirahat.

Pandangan terhadap dunia kerja pun ikut berubah. Bukan berarti generasi muda enggan bekerja keras, tetapi mulai muncul keinginan untuk memiliki batas yang lebih sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Lantas, seperti apa tuntutan mereka terhadap work-life balance? Berikut beberapa di antaranya.

  1. 1. Jam kerja yang tidak merembet ke waktu pribadi

    Seorang perempuan sedang bekerja.
    ilustrasi seorang perempuan bekerja (magnific.com/senivpetro)

    Salah satu hal yang semakin diperhatikan adalah batas antara jam kerja dan waktu pribadi. Ketika pekerjaan terus berlanjut melalui pesan, telepon, atau tugas yang masuk setelah jam kantor, waktu istirahat dapat berubah menjadi perpanjangan dari hari kerja. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini tentu bisa membuat seseorang kesulitan benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan.

    Generasi muda pun mulai menginginkan adanya penghormatan terhadap waktu di luar jam kerja. Bukan berarti menolak ketika sesekali ada situasi mendesak, melainkan tidak menjadikan karyawan selalu tersedia sebagai sebuah kewajaran. Setelah menyelesaikan tanggung jawabnya, mereka juga ingin memiliki ruang untuk menjalani kehidupan pribadi tanpa terus merasa harus memantau pekerjaan.

  2. 2. Beban kerja yang sesuai dengan kapasitas

    Seorang perempuan bekerja.
    ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/ThisIsEngineering)

    Keseimbangan hidup akan sulit dicapai ketika beban pekerjaan terus bertambah tanpa diikuti pembagian tugas yang jelas. Pekerja mungkin mampu menyelesaikan pekerjaan tambahan dalam situasi tertentu, tetapi jika kondisi tersebut menjadi rutinitas, waktu dan energi untuk kehidupan pribadi ikut terkikis. Karena itu, persoalan work-life balance juga berkaitan dengan bagaimana pekerjaan didistribusikan.

    Tuntutan yang muncul bukan berarti ingin bekerja sesedikit mungkin. Generasi muda tetap ingin menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi dengan target, tenggat waktu, dan tanggung jawab yang realistis. Beban kerja yang terukur juga memungkinkan seseorang menjaga produktivitas tanpa harus terus-menerus mengorbankan waktu istirahat demi menyelesaikan pekerjaan.

  3. 3. Fleksibilitas dalam bekerja

    Seorang perempuan bekerja.
    ilustrasi seorang perempuan bekerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Cara bekerja yang fleksibel juga menjadi salah satu hal yang semakin dipertimbangkan. Bagi sebagian pekerja, sistem seperti hybrid working, jam kerja fleksibel, atau kesempatan bekerja dari lokasi tertentu dapat membantu menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi. Fleksibilitas tersebut terutama terasa ketika seseorang memiliki berbagai tanggung jawab di luar pekerjaan.

    Meski begitu, fleksibilitas bukan berarti karyawan harus selalu siap bekerja kapan saja. Sistem yang fleksibel tetap membutuhkan batas dan aturan yang jelas. Jika tidak, kebebasan menentukan waktu bekerja justru dapat membuat pekerjaan semakin sulit dipisahkan dari kehidupan pribadi. Fleksibilitas idealnya memberikan ruang untuk mengatur pekerjaan, bukan membuat seseorang terus merasa on call.

  4. 4. Cuti yang benar-benar bisa dipakai untuk istirahat

    Dua orang perempuan sedang istirahat di rumah.
    ilustrasi istirahat (pexels.com/cottonbro studio)

    Cuti seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat, bepergian, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau melakukan hal lain di luar pekerjaan. Namun, pengalaman setiap pekerja bisa berbeda ketika selama cuti masih harus menjawab pesan, menghadiri rapat, atau memantau pekerjaan yang ditinggalkan. Akibatnya, seseorang memang sedang tidak berada di kantor, tetapi pikirannya tetap tertinggal di pekerjaan.

    Karena itu, generasi muda juga menginginkan budaya kerja yang menghargai hak untuk beristirahat. Mengambil cuti tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai tanda kurang berdedikasi. Justru, waktu istirahat yang cukup dapat memberikan kesempatan bagi pekerja untuk kembali dengan kondisi yang lebih siap. Cuti pun semestinya tidak membuat seseorang merasa bersalah karena memilih menggunakan haknya.

  5. 5. Kesempatan memiliki kehidupan di luar pekerjaan

    Liburan bersama teman.
    ilustrasi liburan bersama teman (pexels.com/Katya Wolf)

    Pekerjaan memang dapat menjadi bagian besar dalam kehidupan, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan keseharian seseorang. Ada waktu yang ingin digunakan untuk keluarga, pasangan, teman, hobi, olahraga, belajar, atau bahkan tidak melakukan apa-apa. Ruang tersebut penting karena kehidupan pribadi tidak seharusnya selalu ditempatkan setelah semua urusan pekerjaan selesai.

    Bagi generasi muda, keseimbangan hidup bukan berarti menghindari tanggung jawab atau tidak memiliki ambisi dalam karier. Ada keinginan untuk tetap berkembang secara profesional tanpa harus kehilangan seluruh waktu dan energi untuk kehidupan di luar pekerjaan. Pada akhirnya, pekerjaan adalah salah satu bagian dari hidup, bukan keseluruhan hidup itu sendiri.

    Keseimbangan hidup dan pekerjaan bukan berarti mencari kehidupan tanpa tekanan. Ada kalanya pekerjaan memang membutuhkan usaha ekstra. Namun, ketika batas antara bekerja dan menjalani kehidupan pribadi semakin jelas, keduanya bisa berjalan tanpa harus terus saling mengorbankan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More