Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Greenwashing Brand Fashion, Ketika Klaim Ramah Lingkungan Ternyata Palsu
ilustrasi tanda greenwashing brand fashion (pexels.com/Anna Shvets)
  • Fenomena greenwashing di industri fashion membuat banyak brand mengklaim ramah lingkungan padahal hanya strategi marketing tanpa perubahan nyata pada sistem produksinya.
  • Banyak label menggunakan istilah dan logo hijau palsu tanpa sertifikasi resmi, serta menutupi rantai pasok yang tidak transparan dan berpotensi melanggar etika sosial.
  • Meskipun mengaku berkelanjutan, sejumlah brand tetap mendorong budaya konsumtif dengan tren cepat dan diskon rutin, bertentangan dengan prinsip pengurangan konsumsi demi kelestarian bumi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Siapa di sini yang suka kalap thrifting atau belanja baju baru demi konten OOTD yang estetik di feeds? Sebagai generasi yang peduli lingkungan, kamu pasti merasa bangga kalau bisa beli baju dari label yang ada emblem "eco-friendly" atau "sustainable". Namun, tunggu dulu, jangan-jangan kamu lagi kena jebakan Batman bernama greenwashing brand fashion yang pura-pura peduli bumi padahal cuma strategi marketing doang, lho. Fenomena ini bikin kamu yang ingin berkontribusi positif malah berakhir mendukung praktik industri yang merusak alam.

Kalau kamu gak mulai kritis dari sekarang, kamu bakal terus-menerus terjebak membeli produk mahal yang diklaim ramah lingkungan padahal aslinya sama aja memproduksi limbah, lho. Jadi, jangan sampai niat baikmu untuk menjaga bumi malah dimanfaatkan oleh korporasi nakal yang cuma ingin mengeruk keuntungan dari dompetmu. Yuk, simak lima tanda greenwashing brand fashion berikut biar kamu gak gampang ketipu!


1. Label klaim "alami" yang terlalu abstrak

ilustrasi label alami pada fashion item (pexels.com/Dmitriy Steinke)

Saat lagi pilih-pilih baju, kamu pasti sering melihat label bertuliskan conscious, eco, atau green yang terpampang nyata di gantungan baju. Label-label ini sekilas terdengar sangat keren dan meyakinkan untuk kamu yang ingin gaya hidup minim sampah. Sayangnya, kata-kata tersebut sering kali cuma taktik kosmetik tanpa adanya definisi hukum yang jelas atau sertifikasi resmi di baliknya. Sebuah kaus bisa saja diklaim "alami" hanya karena mengandung 5 persen katun organik, sedangkan 95 persen sisanya adalah poliester murni.

Coba mulai sekarang lebih jeli melihat care label yang ada di bagian dalam baju, bukan cuma tag harga luarnya. Kalau mereka berani mengklaim produknya ramah lingkungan, mereka harusnya transparan menyebutkan persentase bahan yang digunakan secara detail.


2. Koleksi ramah lingkungan cuma secuil dari total produksi

ilustrasi koleksi pakaian greenwashing brand fashion (pexels.com/Ron Lach)

Pernah gak kamu melihat suatu brand fast fashion raksasa merilis koleksi khusus bertema penyelamatan lingkungan hidup? Kampanyenya gila-gilaan, pakai model papan atas, dan ditaruh di rak paling depan toko mereka. Namun, begitu kamu jalan ke area belakang, ribuan baju lainnya masih diproduksi dengan metode konvensional yang boros air dan mencemari sungai. Ini menjadi trik pengalihan isu yang paling sering digunakan industri pakaian global untuk menutupi dosa ekologis mereka.

Logikanya, keuntungan dari baju-baju yang merusak lingkungan itu dipakai untuk mendanai kampanye hijau yang jumlahnya sangat kecil. Jadi, jangan mudah terharu dengan satu lini produk berkelanjutan kalau model bisnis utama mereka masih mengandalkan eksploitasi alam massal. Kalau mereka beneran niat mau berubah, seluruh sistem produksinya dong yang pelan-pelan dirombak, bukan cuma buat pajangan etalase, kan?


3. Minim transparansi rantai pasok dari hulu ke hilir

ilustrasi menggunakan pakaian greenwashing (pexels.com/Ron Lach)

Brand yang benar-benar menerapkan prinsip berkelanjutan biasanya bakal dengan bangga menceritakan asal-usul produk mereka. Mereka gak ragu membagikan informasi tentang di mana kapasnya ditanam, pabrik mana yang menjahit, hingga bagaimana pengelolaan limbah produksinya. Sebaliknya, pelaku greenwashing biasanya bakal bungkam kalau ditanya soal traceability atau ketertelusuran rantai pasok mereka. Mereka cuma fokus pada hasil akhir pakaian yang tampak cantik tanpa mau membuka dapur produksinya ke publik.

Ketika sebuah label fashion menyembunyikan data mitranya, ada kemungkinan besar proses produksinya melibatkan eksploitasi pekerja dengan upah di bawah standar. Gak cuma merusak alam, hal ini juga melanggar pilar keadilan sosial dalam konsep keberlanjutan global yang utuh, lho. Mulai sekarang, kalau sebuah merek gak punya laporan keberlanjutan yang bisa diakses publik, mending kamu mulai ragu dengan janji manis mereka, deh.


4. Sertifikasi abal-abal buatan sendiri

ilustrasi pakaian greenwashing brand fashion (pexels.com/Vladimir Chake)

Pernah melihat logo centang hijau atau simbol daur ulang unik di baju baru yang belum pernah kamu lihat sebelumnya? Hati-hati, itu bisa jadi bentuk taktik self-declared certification yang sengaja dibuat oleh tim desainer grafis mereka sendiri. Banyak perusahaan menciptakan logo ramah lingkungan tiruan yang terlihat formal demi meyakinkan pembeli bahwa produk mereka sudah teruji. Padahal, logo tersebut gak punya dasar hukum resmi dan gak diverifikasi oleh lembaga independen pihak ketiga yang kredibel, lho.

Biar kamu gak gampang terkecoh, kamu perlu tahu sertifikasi global yang terpercaya seperti Global Organic Textile Standard (GOTS) atau Oeko-Tex. Lembaga-lembaga independen ini punya standar yang super ketat untuk menguji apakah sebuah tekstil beneran aman dan minim dampak lingkungan. Jadi, kalau label bajumu cuma mencantumkan logo buatan internal mereka tanpa ada nama lembaga audit yang jelas, mending hindari saja, ya.


5. Tetap gencar mendorong budaya konsumerisme berlebih

ilustrasi orang yang kalap belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Tanda paling kontradiktif dari praktik manipulasi ini adalah ketika sebuah merek mengaku hijau tapi tiap minggu selalu merilis tren baru. Mereka menyuruhmu membeli baju daur ulang, tapi di saat yang sama terus-menerus membombardir notifikasi ponselmu dengan diskon khusus. Esensi dari gaya hidup berkelanjutan yang sebenarnya adalah mengurangi konsumsi (reduce), bukan malah menambah jumlah belanjaan dengan embel-embel produk hijau. Kalau mereka masih memaksamu untuk terus belanja, maka klaim peduli lingkungan mereka otomatis gugur, ya.

Sifat dasar dari industri fast fashion memang dirancang agar pakaian cepat rusak sehingga kamu terdorong untuk membeli yang baru lagi. Konsep planned obsolescence atau merancang produk agar cepat usang ini jelas sangat bertolak belakang dengan prinsip kelestarian alam. Menjadi konsumen cerdas berarti kamu paham bahwa baju terbaik adalah baju yang sudah ada di dalam lemari kamu sekarang. Jadi, daripada terjebak lingkaran setan belanja baju baru terus, mending kamu rawat baju lama atau saling tukar baju dengan teman terdekat.

Menjadi konsumen yang kritis di tengah gempuran greenwashing brand fashion memang butuh usaha ekstra, tapi langkah kecilmu ini sangat berarti untuk masa depan bumi, kok. Yuk, mulai sekarang lebih teliti membaca label, riset sebelum membeli, dan kurangi kebiasaan belanja impulsif demi bumi yang lebih sehat, ya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article