Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Self Reward Bikin Bahagia atau Cuma Pelarian Sesaat?

Self Reward Bikin Bahagia atau Cuma Pelarian Sesaat?
ilustrasi seorang wanita yang melakukan kegiatan shopping (pexels.com/Tim Douglas)
Intinya Sih
  • Self reward penting untuk menghargai diri, tapi perlu batas agar tidak berubah jadi kebiasaan pelarian dari stres atau emosi negatif.
  • Banyak orang mencari rasa tenang lewat self reward, padahal efeknya sering hanya sementara dan tidak menyelesaikan masalah yang ada.
  • Media sosial membentuk persepsi bahwa self reward harus berupa belanja atau hal mahal, padahal bentuk sederhana seperti istirahat juga bisa menyehatkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Belakangan ini istilah self reward makin akrab di telinga anak muda. Setelah lembur seminggu penuh, beli kopi mahal dianggap self reward. Setelah berhasil menyelesaikan pekerjaan, checkout barang di keranjang belanja juga disebut self reward. Bahkan setelah melewati hari yang berat, banyak orang merasa dirinya pantas mendapatkan sesuatu sebagai bentuk hadiah untuk diri sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menghargai diri sendiri. Masalahnya, batas antara merawat diri dan lari dari kenyataan kadang mulai tipis. Yang awalnya cuma ingin menyenangkan diri sesaat, tanpa sadar berubah jadi kebiasaan yang dipakai untuk menutupi stres, rasa kosong, atau masalah yang belum selesai. Mari kita simak pembahasan lengkapnya berikut ini!

1. Self reward memang penting, tapi bukan berarti tanpa batas

anak muda yang melakukan kegiatan healing bersama
ilustrasi anak muda yang melakukan kegiatan healing bersama (pexels.com/George Pak)

Menghargai diri sendiri adalah hal yang sehat. Setelah bekerja keras atau mencapai sesuatu, memberi hadiah kecil bisa meningkatkan suasana hati dan membuat kita merasa lebih diapresiasi. Sesederhana makan makanan favorit atau meluangkan waktu istirahat, hal seperti ini bisa membantu mengisi ulang energi.

Masalahnya muncul saat semua hal selalu dibungkus dengan alasan self reward. Baru merasa lelah sedikit langsung belanja, stres sedikit langsung cari pelarian. Kalau semua emosi harus diselesaikan dengan "hadiah", lama-lama kita bisa sulit membedakan kebutuhan dan keinginan.

2. Kadang yang dicari bukan barangnya, tapi rasa tenangnya

seorang wanita yang melakukan kegiatan shopping
ilustrasi seorang wanita yang melakukan kegiatan shopping (pexels.com/Gustavo Fring)

Pernah merasa senang saat menekan tombol checkout, tapi beberapa hari kemudian perasaan itu hilang? Itu bukan hal aneh. Banyak orang sebenarnya bukan mencari barangnya, melainkan mencari perasaan lega yang datang sesaat.

Masalahnya, rasa tenang instan punya umur yang pendek. Setelah euforianya hilang, masalah yang sebelumnya ada biasanya tetap menunggu di tempat yang sama. Tagihan tetap ada, pekerjaan belum selesai, dan rasa cemas pun kadang muncul lagi.

3. Media sosial ikut membentuk cara kita melihat self reward

seorang pria scrolling media sosial
ilustrasi seorang pria scrolling media sosial (pexels.com/Matheus Bertelli)

Sekarang kita sering melihat konten bertema "aku kerja keras, jadi aku pantas beli ini". Lama-lama muncul standar baru bahwa bentuk menghargai diri sendiri identik dengan membeli sesuatu atau menghabiskan uang.

Padahal self reward tidak selalu harus mahal atau terlihat estetik di media sosial. Kadang tidur cukup, jalan santai sore hari, mematikan notifikasi, atau memberi waktu untuk diri sendiri juga termasuk bentuk menghargai diri yang sehat.

4. Healing bukan berarti menghindari masalah

melakukan kegiatan traveling sebagai bentuk self reward
ilustrasi melakukan kegiatan traveling sebagai bentuk self reward (pexels.com/Sam Lion)

Banyak orang memakai kata healing saat sebenarnya mereka hanya ingin menjauh sebentar dari tekanan hidup. Pergi liburan, rebahan seharian, atau sibuk dengan hal lain memang bisa membantu meredakan rasa penat.

Tetapi healing yang sesungguhnya bukan cuma soal mengambil jeda. Tetap ada bagian yang perlu dihadapi, diselesaikan, dan diterima. Sebab kalau hanya lari dari masalah, cepat atau lambat kita akan bertemu lagi dengan hal yang sama.

5. Coba tanya ke diri sendiri: aku butuh ini atau cuma ingin kabur?

menikmati segelas kopi sebagai self reward
ilustrasi menikmati segelas kopi sebagai self reward (pexels.com/Gustavo Fring)

Kadang sebelum melakukan sesuatu, kita perlu berhenti sebentar dan bertanya dengan jujur pada diri sendiri. Apakah ini benar-benar kebutuhan? Atau sebenarnya aku sedang capek, sedih, kecewa, lalu mencari pelarian sesaat?

Pertanyaan kecil seperti ini mungkin terdengar sederhana, tapi bisa membantu kita lebih sadar terhadap diri sendiri. Self reward yang sehat seharusnya membuat hidup terasa lebih baik, bukan membuat masalah baru datang belakangan.

Self reward bukan sesuatu yang salah. Setiap orang berhak menghargai usaha dan perjuangannya sendiri. Di tengah kehidupan yang serba cepat, memberi ruang untuk diri sendiri memang penting supaya energi dan pikiran tetap terjaga.

Tetapi menghargai diri sendiri tidak selalu berarti membeli sesuatu atau mencari pelarian sementara. Kadang bentuk self love yang paling sederhana justru berani jujur pada diri sendiri, mengakui kalau sedang lelah, lalu mencari cara yang benar-benar membantu, bukan sekadar membuat nyaman sesaat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More