Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Buku Korea dan Jepang yang Membantu Berdamai dengan Diri Sendiri
Seorang wanita sedang memilih buku bacaan di perpustakaan. (pexels.com/Oz Art)

Berdamai dengan diri sendiri bukan proses yang instan. Ia sering muncul setelah lelah berjuang, setelah kecewa pada harapan, atau ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Pada fase ini, banyak orang tidak membutuhkan nasihat keras atau motivasi berlebihan, melainkan pengertian dan keheningan yang jujur.

Buku-buku dari penulis Korea dan Jepang dikenal mampu menawarkan ketenangan semacam itu. Dengan bahasa yang sederhana, reflektif, dan penuh empati, bacaan-bacaan berikut membantu pembaca menurunkan ekspektasi terhadap diri sendiri dan menerima hidup apa adanya, tanpa merasa gagal sebagai manusia.

Berikut 5 buku Korea dan Jepang yang membantu berdamai dengan diri sendiri.

1. I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Sehee

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Sehee. (shofwhere.com)

Buku ini ditulis dalam bentuk dialog terapi yang sangat jujur dan rapuh. Baek Sehee membagikan pergulatannya dengan depresi, kecemasan, dan rasa tidak pernah cukup, tanpa dramatisasi atau usaha terlihat kuat.

Membaca buku ini membantu pembaca berdamai dengan sisi diri yang kontradiktif. Ia mengajarkan bahwa merasa lelah, ingin menyerah, tapi tetap ingin hidup adalah hal yang manusiawi dan tidak perlu disembunyikan.

2. The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim

Buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim. (instagram.com/pop_icecube)

Buku ini mengajak pembaca untuk memperlambat langkah di tengah dunia yang serba terburu-buru. Haemin Sunim menulis refleksi pendek tentang kehidupan, relasi, dan penerimaan diri dengan nada penuh welas asih.

Buku ini membantu pembaca berdamai dengan diri sendiri dengan cara menenangkan. Ia mengingatkan bahwa kita tidak perlu terus membuktikan nilai diri melalui pencapaian, karena keberadaan kita sendiri sudah cukup berarti.

3. Love for Imperfect Things karya Haemin Sunim

Buku Love for Imperfect Things karya Haemin Sunim. (buku.kompas.com/Okky Olivia)

Masih dari Haemin Sunim, buku ini berfokus pada penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, baik dalam diri sendiri maupun orang lain. Tulisan-tulisannya terasa seperti pelukan lembut bagi pembaca yang terlalu keras pada dirinya.

Buku ini membantu pembaca berdamai dengan rasa malu, kegagalan, dan luka lama. Ia menanamkan kesadaran bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti menutup mata dari kekurangan, melainkan menerima semuanya dengan belas kasih.

4. What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami

Buku What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami. (amazon.co.uk)

Dalam buku ini, Murakami berbagi refleksi hidup melalui kebiasaan berlarinya. Ia menulis tentang disiplin, kesepian, dan dialog sunyi dengan diri sendiri selama berlari jarak jauh.

Buku ini membantu pembaca berdamai dengan diri sendiri melalui keheningan dan rutinitas. Murakami menunjukkan bahwa tidak semua jawaban hidup datang dari pemikiran mendalam, namun sebagian muncul saat kita setia menemani diri sendiri dalam proses yang sederhana.

5. Days at the Morisaki Bookshop karya Satoshi Yagisawa

Buku Days at the Morisaki Bookshop karya Satoshi Yagisawa. (x.com/@lovunakim)

Novel ini bercerita tentang seseorang yang sedang kehilangan arah hidup dan menemukan ketenangan di toko buku kecil. Ceritanya tenang, tidak tergesa, dan penuh nuansa penerimaan.

Buku ini membantu pembaca berdamai dengan diri sendiri dengan cara yang halus. Ia menyampaikan pesan bahwa hidup tidak harus segera pulih, dan bahwa waktu, ruang, serta kesunyian sering kali menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.

Berdamai dengan diri sendiri tidak selalu berarti menemukan jawaban besar. Kadang, itu hanya tentang berhenti menyalahkan diri, memberi ruang untuk lelah, dan menerima bahwa hidup memang tidak selalu rapi. Lima bacaan dari penulis Korea dan Jepang ini menawarkan keheningan yang aman, tempat di mana pembaca bisa bernafas, merenung, dan perlahan menerima dirinya sendiri dengan lebih lembut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team