Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Rekomendasi Buku Bacaan Islami untuk Ramadan, Menenangkan Jiwa!

5 Rekomendasi Buku Bacaan Islami untuk Ramadan, Menenangkan Jiwa!
ilustrasi seorang wanita sedang membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Artikel ini merekomendasikan lima buku bacaan islami yang cocok dibaca selama Ramadan untuk menenangkan jiwa dan memperdalam refleksi spiritual.
  • Setiap buku menawarkan tema berbeda, mulai dari keteladanan Nabi Muhammad, makna hidup dan kematian, hingga perjalanan batin menemukan kedekatan dengan Allah.
  • Buku-buku tersebut dihadirkan sebagai teman refleksi agar Ramadan menjadi momen memperbaiki diri, membersihkan hati, serta menata ulang niat dengan lebih sadar dan bermakna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan selalu jadi momen yang pas buat melambat dan ngobrol lagi sama diri sendiri. Di tengah rutinitas yang kadang bikin capek hati, membaca buku bacaan islami bisa jadi cara sederhana tapi bermakna untuk isi ulang iman. Gak cuma nambah ilmu, tapi juga jadi teman refleksi yang bikin kita lebih sadar arah hidup.

Kadang kita cuma butuh duduk tenang, buka satu halaman, lalu menemukan kalimat yang terasa seperti pengingat kepada Tuhan. Lewat bacaan yang tepat, Ramadan bisa jadi waktu terbaik untuk pelan-pelan memperbaiki diri, membersihkan hati, dan menata ulang niat yang mungkin sempat berantakan. Yuk, lihat lima rekomendasi buku islami yang cocok jadi bacaan pas Ramadan!

1. Meeting Muhammad - Dr Nizar Abazhah

cover buku Meeting Muhammad
cover buku Meeting Muhammad (goodreads.com)

Buku ini mengajak pembaca “bertemu” kembali dengan sosok Nabi Muhammad — bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai teladan hidup yang relevan dengan permasalahan umat saat ini. Dr. Nizar Abazhah menyajikan kisah-kisah, nilai, dan hikmah dari kehidupan Rasulullah dengan cara yang jernih dan penuh empati, membuat pembaca merasakan kedekatan batin dengan sosok yang dicintai umat.

Melalui narasi yang ringan namun dalam, buku ini membantu pembaca memahami bahwa cinta kepada Nabi bukan hanya sekadar kata, tetapi harus terwujud dalam sikap, akhlak, dan tindakan sehari-hari. Bagi banyak pembaca, Meeting Muhammad menjadi buku yang bukan hanya informatif secara sejarah, tetapi juga menguatkan motivasi spiritual: bagaimana meneladani Rasulullah di era modern dengan cara yang realistis dan bermakna.

2. Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati - Ahmad Rifai Rifan

buku Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati
cover buku Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati (gramedia.com)

Buku ini mengusung pesan bahwa hidup bukan sekadar dijalani, tetapi harus bermakna. Ahmad Rifai Rifan mengajak pembaca berpikir tentang konsep hidup, kematian, serta bagaimana Islam memandang perjalanan spiritual setiap manusia. Tema utamanya adalah kesadaran akan kefanaan hidup dan pentingnya menyiapkan bekal akhirat sejak dini.

Ditulis dengan gaya yang mudah dipahami, buku ini memberikan kombinasi antara hikmah Qur’ani, inspirasi pribadi, dan refleksi yang menggugah. Pembaca diajak merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar: kenapa kita hidup, untuk apa kita bekerja, dan apa yang kita wariskan setelah pergi. Ini bukan sekadar buku motivasi biasa, tapi undangan untuk memaknai hidup dengan cara yang lebih sadar dan bertanggung jawab.

3. Healing The Emptiness - Yasmin Mogahed

cover buku Healing The Emptiness
cover buku Healing The Emptiness (gramedia.com)

Dalam buku ini, Yasmin Mogahed membahas tentang rasa hampa batin yang sering dialami banyak oran, meskipun dari luar hidupnya tampak baik-baik saja. Ia mengulas bagaimana rasa kosong itu bukan semata soal kesendirian, tetapi bisa berasal dari keterputusan dengan sumber hidup yang sejati: Allah. Buku ini sangat pas untuk siapa saja yang merasa gelisah, lelah, atau kehilangan arah.

Gaya penulisan Yasmin dikenal lembut, reflektif, dan sangat menyentuh hati. Buku ini, berisi guide dan kalimat-kalimat menggugah jiwa untuk selalu memyerahkan segala urusan kepada sang pemilik diri dan pemberi ujian. Healing The Emptiness cocok dibaca saat Ramadan karena mengajarkan kita bahwa damai batin bukan tentang bebas dari masalah, tetapi tentang kemampuan menemukan Allah di tengahnya.

4. Sang Cipta Rasa - Fahd Pahdepie

cover buku Sang Cipta Rasa
cover buku Sang Cipta Rasa (goodreads.com)

Buku ini membawa pembaca pada perjalanan eksplorasi rasa, bukan sekadar perasaan manusia terhadap sesuatu, tetapi rasa sebagai perangkat spiritual yang bisa membuka pintu-pintu hikmah. Fahd Pahdepie memadukan pemikiran tasawuf, psikologi Islami, dan pengalaman batin untuk menjelaskan bagaimana kita bisa “merasakan” kehadiran Allah dan makna hidup yang lebih dalam.

Lewat bahasa yang puitis namun tetap jelas, buku ini membantu pembaca mengenali perasaan sendiri, mulai dari cinta, sedih, syukur, hingga rindu kepada Tuhan sebagai jembatan untuk memahami diri. Buku ini juga membawa kita kepada sebuah perjalanan hidup yang menghantarkan kepada rasa tenang dan terang untuk lebih mengenal Tuhan.

5. Selalu Ingat,Tuhan Begitu Dekat - Ibnu Atha'illah As-Sakandari

cover buku Selalu Ingat,Tuhan Begitu Dekat
cover buku Selalu Ingat,Tuhan Begitu Dekat (gramedia.com)

Karya klasik tasawuf ini adalah harta karun kebijaksanaan spiritual. Ibnu Atha’illah meletakkan fokus pada kesadaran bahwa Allah selalu dekat, bahkan saat kita merasa terputus atau jauh. Setiap kalimatnya seperti doa dan renungan batin yang menguatkan dan mengajarkan bahwa dzikrullah atau mengingat Allah adalah inti kehidupan seorang Muslim.

Buku ini cocok dibaca berulang karena setiap kali kita membacanya, maknanya bisa terasa berbeda tergantung kondisi hati. Di bulan Ramadan, ketika hati sedang dibersihkan dari noda duniawi, buku ini bisa menjadi teman yang menenangkan, mempertebal keimanan, dan mengingatkan bahwa pintu kasih sayang Allah selalu terbuka lebar.

Pada akhirnya, yang kita cari di bulan Ramadan bukan cuma pahala, tapi juga ketenangan. Buku-buku ini bisa jadi teman refleksi yang menemani waktu sahur, jeda setelah tarawih, atau sore menjelang berbuka. Setiap halaman bisa jadi pengingat kepada Tuhan bahwa kita selalu punya kesempatan untuk kembali dan memperbaiki langkah.

Semoga Ramadan kali ini nggak cuma lewat begitu saja, tapi benar-benar jadi momen untuk bertumbuh. Lewat buku bacaan islami yang kamu pilih, semoga hati jadi lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan proses memperbaiki diri terasa lebih hangat dan penuh makna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More