Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Jenis Konten Literasi Digital yang Digemari Gen Z
ilustrasi konten literasi (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Literasi digital Gen Z hadir melalui video pendek, carousel, podcast, review buku, dan konten bahasa yang membuat pembelajaran lebih fleksibel serta dekat dengan aktivitas sehari-hari.
  • Konten yang membedah fenomena sehari-hari membantu menghubungkan teori dengan realitas, sekaligus dapat menjadi titik awal untuk mencari dan membandingkan sumber tambahan.
  • Konten berpikir kritis mengajarkan pengecekan sumber, pengenalan bias, serta pembedaan fakta dan opini agar pengguna lebih teliti menghadapi arus informasi digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau mendengar kata literasi, kamu mungkin langsung membayangkan buku tebal, perpustakaan, atau tugas membaca yang bikin dahi berkerut. Padahal, cara orang belajar dan mendapatkan informasi sudah berubah cukup jauh. Buat Gen Z, konten literasi bisa hadir dalam bentuk video pendek, carousel, podcast, sampai unggahan yang membahas satu topik secara ringan.

Menariknya, konten literasi gak harus terasa seperti sedang belajar di kelas. Selama isinya membantu memahami sesuatu, membuka perspektif, atau membuat seseorang penasaran untuk mencari tahu lebih jauh, konten tersebut bisa menjadi bagian dari kebiasaan literasi. Nah, berikut beberapa jenis konten yang banyak digunakan anak muda untuk belajar sekaligus menikmati informasi di ruang digital.

1. Video pendek yang membahas satu topik

ilustrasi konten literasi (pexels.com/Alena Darmel)

Video berdurasi singkat menjadi salah satu format yang mudah dikonsumsi karena informasinya langsung menuju inti pembahasan. Topiknya pun beragam, mulai dari sejarah, bahasa, keuangan, teknologi, sampai pengetahuan sehari-hari. Format seperti ini cocok buat kamu yang ingin mendapatkan gambaran awal tentang suatu hal sebelum mempelajarinya lebih dalam.

Meski singkat, kualitas informasinya tetap perlu diperhatikan. Video yang menarik secara visual belum tentu memiliki informasi yang akurat. Kalau topiknya cukup penting atau membuat kamu penasaran, lanjutkan pencarian ke sumber lain agar pemahamanmu gak hanya bergantung pada satu video.

2. Carousel edukasi yang ringkas dan visual

ilustrasi konten literasi (pexels.com/Kampus Production)

Pernah melihat unggahan yang terdiri dari beberapa slide lalu tanpa sadar kamu terus menggeser sampai slide terakhir? Format carousel memanfaatkan gambar, teks singkat, dan susunan informasi yang membuat sebuah topik terasa lebih mudah diikuti. Kamu bisa menemukan carousel tentang tips belajar, sejarah, kesehatan, teknologi, hingga penjelasan istilah yang sedang ramai dibicarakan.

Format ini juga menarik karena informasi bisa dibaca sesuai kecepatan masing-masing. Kamu bisa berhenti di bagian yang belum dipahami, menyimpan unggahan yang dianggap penting, atau kembali membacanya ketika punya waktu. Tapi tetap cek sumbernya jika konten tersebut menyampaikan data atau klaim tertentu.

3. Podcast yang membahas isu dan pengalaman

ilustrasi wanita membuat podcast (pexels.com/George Milton)

Gak semua orang suka belajar sambil menatap layar. Podcast menawarkan alternatif karena kamu bisa mendengarkan pembahasan sambil melakukan aktivitas lain, seperti perjalanan, olahraga ringan, atau membereskan kamar. Topiknya juga luas, mulai dari pendidikan dan karier sampai buku, budaya, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.

Menariknya, podcast biasanya memberikan ruang lebih panjang untuk membahas sebuah persoalan. Narasumber bisa menjelaskan latar belakang, pengalaman, maupun sudut pandang secara lebih lengkap. Kamu pun bisa mendapatkan perspektif baru tanpa harus membaca teks panjang dari awal sampai akhir.

4. Konten review buku

ilustrasi konten literasi (pexels.com/Anna Nekrashevic)

Review buku membuat aktivitas membaca terasa lebih dekat dengan kehidupan digital. Sebelum membeli atau membaca sebuah buku, kamu bisa melihat ulasan mengenai isi, tema, gaya penulisan, maupun hal menarik yang dibahas di dalamnya. Konten seperti ini juga bisa menjadi pemantik buat kamu yang sedang mencari bacaan baru.

Tapi jangan sampai review menggantikan pengalaman membaca bukunya. Ulasan hanya memberikan gambaran dari sudut pandang pembuat konten, sedangkan pemahaman setiap pembaca bisa berbeda. Kalau sebuah buku terasa menarik setelah melihat ulasannya, justru itu bisa menjadi alasan untuk membacanya sendiri.

5. Konten belajar bahasa

ilustrasi konten literasi (pexels.com/Judit Peter)

Konten tentang bahasa juga mudah ditemukan di media sosial. Ada yang membahas kosakata, grammar, cara pengucapan, istilah sehari-hari, sampai perbedaan penggunaan kata yang sering membingungkan. Formatnya biasanya dibuat singkat sehingga satu konten hanya membahas satu konsep.

Buat kamu yang sedang belajar bahasa asing, konten semacam ini bisa menjadi tambahan latihan di luar kelas. Kamu bisa mencatat kata baru, mencoba membuat kalimat sendiri, lalu menggunakannya dalam percakapan. Kebiasaan kecil seperti ini membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan aktivitas digital sehari-hari.

6. Konten yang membedah fenomena sehari-hari

ilustrasi konten literasi (Pexels.com/Kampus Production)

Hal-hal sederhana di sekitar kita ternyata bisa menjadi bahan belajar yang menarik. Misalnya, kenapa harga barang bisa berubah, bagaimana sebuah tren muncul, mengapa orang mudah percaya informasi tertentu, atau bagaimana teknologi yang kita gunakan bekerja. Konten yang menghubungkan teori dengan kehidupan nyata biasanya terasa lebih mudah dipahami.

Kamu juga bisa menjadikan konten semacam ini sebagai titik awal untuk mencari informasi lebih jauh. Setelah menemukan satu fakta menarik, coba cari sumber tambahan dan lihat apakah penjelasannya konsisten. Dari satu video atau unggahan, kamu bisa masuk ke proses membaca, membandingkan sumber, lalu membentuk pemahaman sendiri.

7. Konten yang mengajarkan cara berpikir kritis

ilustrasi konten literasi (freepik.com/freepik)

Literasi bukan cuma tentang seberapa banyak informasi yang bisa kamu kumpulkan. Kemampuan mempertanyakan informasi, mengenali argumen, membedakan fakta dan opini, serta melihat konteks juga menjadi bagian penting dari literasi. Karena itu, konten yang membahas cara berpikir kritis punya manfaat tersendiri di tengah derasnya informasi digital.

Misalnya, kamu bisa menemukan konten tentang cara mengecek sumber berita, mengenali judul yang menyesatkan, memahami bias, atau membedakan data dari pendapat. Konten semacam ini mungkin gak selalu seviral hiburan, tetapi bisa membantu kamu menjadi pengguna internet yang lebih teliti. Apalagi sekarang satu informasi bisa menyebar luas hanya dalam hitungan menit.

Dunia literasi Gen Z memang gak selalu terlihat seperti aktivitas membaca buku di tempat yang tenang. Belajar bisa berlangsung lewat video, podcast, carousel, maupun diskusi digital selama kamu tetap punya kebiasaan mengecek, memahami, dan mengolah informasi. Justru keberagaman format ini membuat literasi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jadi, gak perlu menunggu sampai punya banyak waktu untuk mulai meningkatkan literasi. Kamu bisa memulainya dari konten yang memang sudah kamu konsumsi setiap hari, lalu perlahan memperluas sumber dan memperdalam topiknya. Dari tujuh jenis konten tadi, mana yang paling sering muncul di layar kamu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article