Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berkaca dari Prancis, Apa Dampaknya Jika Kualitas Fasilitas Pendidikan Buruk?

6 min read
Berkaca dari Prancis, Apa Dampaknya Jika Kualitas Fasilitas Pendidikan Buruk?
ilustrasi unjuk rasa, bendera Prancis, Eropa (pexels.com/Andrew Taylor)
  • Demonstrasi pelajar di Prancis meluas dari protes terhadap kekurangan staf, guru yang absen tanpa pengganti, jadwal belajar panjang, serta seleksi perguruan tinggi yang dinilai rumit.
  • Kondisi sekolah seperti atap bocor, langit-langit runtuh, tikus, ruang panas, dan kelas berisi minimal 36 siswa memicu kemarahan; renovasi terhambat perbedaan kapasitas keuangan pemerintah daerah.
  • Fasilitas buruk dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental, meningkatkan absensi, menurunkan konsentrasi serta prestasi akademik, dan memperlebar kesenjangan bagi siswa dari keluarga berpendapatan rendah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada akhir pekan lalu, demonstrasi oleh pelajar di Prancis kian meluas. Ratusan siswa sekolah menengah atas turun ke jalan untuk ikut menggelar protes. Sejumlah kota di Prancis seperti Paris, Marseille, dan Lille, menjadi wilayah yang terdampak demonstrasi besar, diwarnai tindakan anarkis.

Demonstrasi yang dilakukan oleh kalangan pelajar di Prancis ini telah berlangsung sejak September lalu. Dilansir The Independent, demo ini pertama kali pecah di salah satu SMA di Kota Creteil, Prancis Tenggara. Para pelajar memprotes kurangnya pegawai di sekolah dan fasilitas sekolah yang buruk.

Aksi demonstrasi kian memanas, kemudian diikuti oleh para siswa di daerah lain, dan menyebar ke sejumlah wilayah di Prancis. Tindakan anarkis seperti perusakan dan penjarahan toko barang mewah pun terjadi.

Para pelajar menilai, pemerintah Prancis abai terhadap fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah. Mereka membiarkan berbagai sekolah yang terletak di daerah kelas menengah tidak terurus sehingga tidak layak dijadikan tempat belajar.

Berkaca dari kasus tersebut, apa dampaknya jika kualitas pendidikan buruk? Mungkin rangkuman di bawah ini bisa menjadi gambaran dan renungan kita.

  1. 1. Durasi waktu sekolah yang terlalu lama hingga guru yang kerap absen jadi pemicu demonstrasi di Prancis

    IMG_0655.jpeg
    Gas air mata ditembakkan aparat di demo pelajar Prancis. (AFP/Romeo Boetzle)

    Menurut laporan terbaru Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Prancis mengalami kekurangan tenaga pengajar, meskipun angkanya relatif rendah dibandingkan negara lain yang melaporkan data serupa. Pada awal tahun ajaran 2023/2024, kekurangan guru di sekolah menengah negeri Prancis setara dengan 0,4 persen dari seluruh posisi mengajar.

    Selain itu, tingkat kepuasan guru terhadap gaji masih menjadi persoalan. Di Prancis, sebanyak 58,7 persen guru sekolah dasar menyatakan puas dengan kondisi kerja mereka. Namun, terdapat 26,6 persen yang merasa kurang puas dengan gaji yang didapatkan. Sebab, guru di Prancis menerima gaji yang relatif rendah, menurut laporan BBC.

    Hal ini selaras dengan tuntutan pengunjuk rasa yang mengeluhkan kekurangan staf dan pengajar di sekolah. Menurut para demonstran, guru kerap absen selama beberapa minggu tanpa ada pengganti.

    Hal ini selaras dengan laporan Mahkamah Audit Prancis pada 2023-2024. Setidaknya, 9 persen jam kelas di collège atau perguruan tinggi negeri Prancis hilang, terutama karena ketidakhadiran pengajar yang tidak tergantikan. Gaji pengajar di Prancis kembali disebut-sebut sebagai salah satu akar masalah. Berdasarkan data OECD, gaji guru collège di Prancis yang telah bekerja selama 15, hanya menerima sekitar setengah dari pendapatan rekan-rekan mereka di negara Eropa lain, seperti Jerman.

    Selain itu, demonstran juga mengeluhkan durasi belajar yang panjang. Aktivitas belajar mengajar untuk siswa jenjang SMA dimulai pukul 08.00 pagi dan berakhir pukul 18.00 sore waktu setempat. Sistem ini dianggap memberatkan siswa karena mereka tidak memiliki waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau melakukan kegiatan lain. Melansir BBC, isu semacam ini terjadi karena istirahat makan siang yang panjang dan jadwal yang rumit.

    Di Prancis, jam mengajar tahunan mencapai angka 900 jam untuk pendidikan dasar. Padahal, rata-rata pengajar di negara-negara yang tergabung dalam OECD hanya melaksanakan kegiatan mengajar selama 770 jam untuk pendidikan dasar. Begitu pula untuk jenjang menengah pertama yang mengajar hingga 720 jam per tahun, padahal rata-rata negara OECD hanya 710 jam.

    Tak berhenti di situ, siswa juga memprotes sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang dianggap terlalu kompleks. Hal ini merugikan lulusan SMA di Prancis yang ingin melanjutkan studi ke universitas bergengsi. Laporan OECD pada 2025 menyebut hanya 15,1 persen penduduk Prancis berusia 25–34 tahun yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana.

  2. 2. Bangunan bobrok dan kelas yang terlalu padat

    IMG_0656.jpeg
    Demo pelajar di Prancis meluas. (AFP/Romeo Boetzle)

    Masalah utama yang memantik amarah para pelajar di Prancis adalah fasilitas pendidikan yang dianggap bobrok. Video yang beredar di media sosial serta dirilis media Prancis, menampilkan sejumlah sekolah di area kelas dipenuhi tikus got. Atap sekolah bocor, langit-langit ruangan runtuh, dan perabotan sudah mulai rusak. Menurut The Independent, inilah salah satu hal yang menyulut amarah demonstrasi siswa di Prancis.

    Di Lycée Paul Éluard, Saint-Denis, kawasan pinggiran Paris, para siswa memprotes kondisi fasilitas pendidikan yang kian memprihatinkan. Di wilayah Patin, siswa mengeluhkan jendela kelas yang tidak dapat dibuka bahkan ketika suhu musim panas mencapai 40 derajat Celsius. Gelombang panas membuat bangunan sekolah "boiling hot".

    Ketidakpuasan siswa terhadap fasilitas pendidikan yang dianggap tidak layak, juga semakin besar karena mereka juga memprotes ruang kelas yang terlalu padat. Guardian melaporkan, guru dan siswa sekolah di pinggiran kota Paris diisi oleh setidaknya 36 siswa atau lebih dalam satu ruangan.

    DW menyebut, 80 persen gedung sekolah di Prancis berusia di atas 50 tahun dan sekitar 10 hingga 20 persen bangunan sekolah perlu direnovasi. Padahal, Prancis mengalokasikan dana yang cukup besar untuk bidang pendidikan. Belanja pendidikan negara mencapai 6,7 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Akan tetapi, pemeliharaan bangunan sekolah menjadi kewenangan pemerintah daerah sehingga kapasitas keuangan masing-masing wilayah berbeda. Akibatnya, perbaikan berjalan lambat.

  3. 3. Fasilitas pendidikan yang buruk memengaruhi kesehatan siswa

    ilustrasi ruang kelas, sekolah, Prancis, Eropa
    ilustrasi ruang kelas, sekolah, Prancis, Eropa (pexels.com/Amaury Michaux)

    Persoalan pendidikan di Prancis dikaitkan dengan penurunan hasil PISA yang dirilis pada September 2026. Lebih dari sepertiga pelajar berusia 15 tahun dilaporkan gagal mencapai tingkat kompetensi dasar dalam matematika. Lantas, mengapa fasilitas pendidikan menjadi aspek esensial dalam proses belajar-mengajar?

    Penelitian menunjukkan bahwa desain bangunan dan kondisi fasilitas sekolah berpengaruh signifikan terhadap rasa aman siswa. Hal ini berkaitan erat dengan kesehatan dan prestasi akademik mereka, sebagaimana dijelaskan dalam laman NESI. Kondisi ruangan yang buruk dapat menghambat sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang optimal sekaligus menciptakan lingkungan yang berdampak negatif terhadap kesehatan para penghuninya.

    Dampak tersebut juga dapat memperlebar kesenjangan pendidikan. Siswa dari keluarga berpendapatan rendah yang belajar di gedung sekolah tua dengan fasilitas tidak memadai berisiko, mengalami dampak negatif yang lebih besar. Kondisi ini dapat memperburuk ketimpangan karena siswa yang sejak awal menghadapi keterbatasan akses pendidikan juga harus berhadapan dengan lingkungan belajar yang kurang mendukung.

    Kualitas dan karakteristik bangunan sekolah turut memengaruhi kesehatan siswa. Pasalnya, masa sekolah merupakan periode penting ketika individu mengalami pertumbuhan fisik yang pesat, perubahan hormon, proses pembelajaran yang intensif, serta perkembangan neurologis dan sosial. Hal tersebut dipaparkan dalam laporan Harvard T.H. Chan School of Public Health.

    Dalam laporannya, Harvard T.H. Chan School of Public Health mengkaji kondisi kesehatan fisik dan biologis penghuni gedung sekolah serta kaitannya dengan proses belajar. Siswa yang merasa tidak sehat atau mengalami gangguan kesehatan, berpotensi lebih sering absen dari sekolah. Selain itu, kondisi lingkungan yang buruk juga dapat memengaruhi fungsi kognitif dan kesejahteraan mental, termasuk kemampuan memperhatikan, memahami materi, serta mengelola rasa tidak nyaman dan mudah tersinggung. Akibatnya, performa akademik siswa berpotensi menurun.

    Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi keberhasilan mereka dalam mencapai hasil akademik yang optimal. Dengan demikian, fasilitas pendidikan yang berkualitas bukan sekadar menunjang kenyamanan, melainkan juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan, proses pembelajaran, dan pencapaian akademik siswa.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More