Gas air mata ditembakkan aparat di demo pelajar Prancis. (AFP/Romeo Boetzle)
Menurut laporan terbaru Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Prancis mengalami kekurangan tenaga pengajar, meskipun angkanya relatif rendah dibandingkan negara lain yang melaporkan data serupa. Pada awal tahun ajaran 2023/2024, kekurangan guru di sekolah menengah negeri Prancis setara dengan 0,4 persen dari seluruh posisi mengajar.
Selain itu, tingkat kepuasan guru terhadap gaji masih menjadi persoalan. Di Prancis, sebanyak 58,7 persen guru sekolah dasar menyatakan puas dengan kondisi kerja mereka. Namun, terdapat 26,6 persen yang merasa kurang puas dengan gaji yang didapatkan. Sebab, guru di Prancis menerima gaji yang relatif rendah, menurut laporan BBC.
Hal ini selaras dengan tuntutan pengunjuk rasa yang mengeluhkan kekurangan staf dan pengajar di sekolah. Menurut para demonstran, guru kerap absen selama beberapa minggu tanpa ada pengganti.
Hal ini selaras dengan laporan Mahkamah Audit Prancis pada 2023-2024. Setidaknya, 9 persen jam kelas di collège atau perguruan tinggi negeri Prancis hilang, terutama karena ketidakhadiran pengajar yang tidak tergantikan. Gaji pengajar di Prancis kembali disebut-sebut sebagai salah satu akar masalah. Berdasarkan data OECD, gaji guru collège di Prancis yang telah bekerja selama 15, hanya menerima sekitar setengah dari pendapatan rekan-rekan mereka di negara Eropa lain, seperti Jerman.
Selain itu, demonstran juga mengeluhkan durasi belajar yang panjang. Aktivitas belajar mengajar untuk siswa jenjang SMA dimulai pukul 08.00 pagi dan berakhir pukul 18.00 sore waktu setempat. Sistem ini dianggap memberatkan siswa karena mereka tidak memiliki waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau melakukan kegiatan lain. Melansir BBC, isu semacam ini terjadi karena istirahat makan siang yang panjang dan jadwal yang rumit.
Di Prancis, jam mengajar tahunan mencapai angka 900 jam untuk pendidikan dasar. Padahal, rata-rata pengajar di negara-negara yang tergabung dalam OECD hanya melaksanakan kegiatan mengajar selama 770 jam untuk pendidikan dasar. Begitu pula untuk jenjang menengah pertama yang mengajar hingga 720 jam per tahun, padahal rata-rata negara OECD hanya 710 jam.
Tak berhenti di situ, siswa juga memprotes sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang dianggap terlalu kompleks. Hal ini merugikan lulusan SMA di Prancis yang ingin melanjutkan studi ke universitas bergengsi. Laporan OECD pada 2025 menyebut hanya 15,1 persen penduduk Prancis berusia 25–34 tahun yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana.