Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Konten Media Sosial Bisa Mengubah Gambaran Hidup yang Ideal?
ilustrasi seorang remaja bermain media sosial (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Media sosial membuat kita bisa melihat begitu banyak versi kehidupan dalam waktu singkat. Dari pekerja yang membagikan penghasilannya, pasangan yang memperlihatkan hubungan harmonis, sampai orang yang tampak menikmati hidup sambil bekerja dari mana saja. Semakin sering melihat konten tertentu, semakin familiar pula gambaran kehidupan yang ditampilkan.

Masalahnya, apa yang muncul di feed bukanlah gambaran lengkap tentang kehidupan. Algoritma cenderung mempertemukan kita dengan konten yang membuat kita terus menonton dan berinteraksi. Akibatnya, standar tentang kehidupan ideal pun bisa terbentuk secara perlahan tanpa disadari. Berikut beberapa cara konten media sosial bisa mengubah gambaran dan pandangan tentang hidup yang ideal!

1. Membuat profesi tertentu terlihat sebagai jalan hidup yang ideal

ilustrasi membuat konten (pexels.com/Ron Lach)

Konten tentang suatu pekerjaan bisa membuat profesi tersebut terlihat sangat menarik ketika yang sering ditampilkan hanya sisi yang menyenangkan. Misalnya, pekerja migran membagikan video tentang gaji, barang yang berhasil dibeli, rumah yang dibangun, atau waktu luang setelah bekerja. Jika konten semacam ini terus muncul, pekerjaan tersebut dapat terlihat seperti jalan cepat menuju kehidupan yang lebih sejahtera.

Padahal, pengalaman setiap pekerja tentu berbeda. Ada tuntutan pekerjaan, proses adaptasi, biaya keberangkatan, aturan kerja, hingga kondisi tempat kerja yang mungkin tidak terlihat dalam video singkat. Ketika gambaran yang muncul di media sosial hanya bagian tertentu, penonton bisa saja membentuk ekspektasi berdasarkan pengalaman yang sebenarnya tidak mewakili keseluruhan realitas.

2. Mengubah ukuran kesuksesan

ilustrasi media sosial (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Media sosial juga dapat membuat ukuran kesuksesan terasa semakin seragam. Rumah yang bagus, kendaraan, liburan ke luar negeri, pakaian bermerek, atau penghasilan tertentu sering menjadi bagian dari konten yang mendapatkan banyak perhatian. Karena terus melihat simbol-simbol tersebut, kehidupan yang dianggap berhasil bisa perlahan dikaitkan dengan kemampuan memiliki dan menunjukkan hal-hal serupa.

Padahal, kesuksesan tidak selalu terlihat dari apa yang bisa dipamerkan. Ada yang lebih menghargai pekerjaan dengan waktu luang, kehidupan yang tenang, kedekatan dengan keluarga, atau kesempatan melakukan sesuatu yang disukai. Ketika satu bentuk kesuksesan terlalu sering muncul di layar, pilihan hidup lain yang sebenarnya sama validnya dapat terasa kurang menarik.

3. Membuat gaya hidup orang lain terasa normal

ilustrasi akun media sosial (pexels.com/Lance Rais)

Salah satu pengaruh media sosial adalah kemampuannya membuat kehidupan yang sebenarnya tidak umum terasa seperti sesuatu yang biasa. Jika setiap hari melihat orang bekerja sambil bepergian, tinggal di luar negeri, memiliki bisnis sendiri, atau menghasilkan uang dari internet, kehidupan tersebut dapat terasa seperti standar yang banyak dijalani orang.

Padahal, feed setiap orang sudah melewati proses seleksi algoritma. Kita tidak melihat seluruh kehidupan masyarakat, melainkan kumpulan konten yang dianggap relevan dengan kebiasaan menonton kita. Akibatnya, apa yang awalnya merupakan sebagian kecil dari realitas bisa terasa seperti gambaran umum hanya karena terus muncul di layar.

4. Membuat jalur hidup tertentu terlihat lebih cepat

ilustrasi membuat konten (pexels.com/Ivan S)

Media sosial menyukai cerita yang memiliki hasil jelas. Misalnya, seseorang membagikan bagaimana dirinya mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, membangun usaha dalam waktu singkat, atau berhasil mengubah kondisi ekonominya. Cerita seperti ini menarik karena memberikan kesan bahwa perubahan besar dapat terjadi dalam waktu relatif cepat.

Yang sering tidak terlihat adalah proses panjang di belakangnya. Kegagalan, modal, koneksi, pendidikan, keberuntungan, atau kondisi tertentu mungkin tidak menjadi bagian utama dari konten. Jika hanya melihat hasil akhirnya, seseorang bisa menganggap jalur tersebut lebih mudah daripada kenyataannya dan mulai menjadikannya sebagai tujuan hidup tanpa memahami keseluruhan prosesnya.

5. Membuat kita menginginkan sesuatu karena terlalu sering melihatnya

ilustrasi membuka media sosial (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Tidak semua keinginan yang muncul setelah melihat media sosial benar-benar berasal dari kebutuhan atau tujuan pribadi. Kadang, sesuatu terasa menarik karena terus muncul di hadapan kita. Semakin sering melihat orang menjalani gaya hidup tertentu, semakin mudah pula muncul pikiran bahwa kehidupan tersebut mungkin cocok untuk kita.

Di sinilah pentingnya membedakan antara keinginan yang memang sudah lama dimiliki dan keinginan yang baru muncul setelah terus terpapar konten tertentu. Bukan berarti semua keputusan yang dipengaruhi media sosial pasti buruk. Namun, memberi jarak antara apa yang sering dilihat dan apa yang benar-benar diinginkan dapat membantu agar pilihan hidup tidak hanya mengikuti apa yang sedang ramai di feed.

6. Membuat pekerjaan sampingan terlihat seperti sumber penghasilan utama

ilustrasi mengambil konten (pexels.com/Ron Lach)

Konten tentang side hustle, menjadi kreator, berjualan online, atau mendapatkan uang dari platform digital sering menampilkan hasil yang lebih menarik daripada prosesnya. Misalnya, video tentang penghasilan dari membuat konten dapat membuat aktivitas tersebut terlihat seperti pekerjaan yang mudah dilakukan dari rumah. Padahal, penghasilan kreator bisa sangat bervariasi dan membutuhkan waktu, konsistensi, serta kondisi tertentu.

Jika yang muncul di feed terus-menerus adalah cerita keberhasilan, pekerjaan dengan pola konvensional bisa terasa kurang menarik. Seseorang bahkan dapat mulai membayangkan bahwa hidup ideal adalah hidup yang bebas dari rutinitas kantor dan bisa menghasilkan uang secara fleksibel. Padahal, fleksibilitas tersebut juga memiliki tantangan yang mungkin tidak terlihat dalam video berdurasi singkat.

7. Membuat hidup terasa harus selalu punya perkembangan

ilustrasi membuat konten (pexels.com/Alena Darmel)

Media sosial juga penuh dengan narasi tentang perubahan diri. Ada konten tentang glow-up, pindah pekerjaan, membeli rumah, memulai bisnis, menikah, bepergian, hingga mencapai target finansial tertentu. Ketika melihat pencapaian seperti ini setiap hari, kehidupan yang berjalan biasa-biasa saja bisa terasa seperti kehidupan yang tidak mengalami kemajuan.

Padahal, tidak semua fase hidup harus menghasilkan pencapaian yang bisa dibagikan. Ada masa ketika seseorang hanya sedang mempertahankan kondisi yang sudah baik, memulihkan diri, belajar sesuatu secara perlahan, atau menjalani rutinitas yang memang membuatnya nyaman. Kehidupan yang tidak terlihat spektakuler di media sosial tetap bisa memiliki nilai dan tujuan bagi orang yang menjalaninya.

Itulah beberapa cara konten media sosial dapat mengubah gambaran tentang hidup yang ideal. Hidup yang terlihat menarik di layar belum tentu menjadi hidup yang benar-benar ingin kamu jalani, lho. Sebab, semakin sering melihat kehidupan orang lain, semakin penting juga untuk sesekali tanyakan pada dirimu apakah kamu benar-benar menginginkannya atau kamu hanya terbiasa melihatnya saja?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article