Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bentuk Workplace Bullying yang Sering Disamarkan sebagai Candaan
ilustrasi workplace bullying (magnific.com/magnific)

Bercanda dengan rekan kerja memang bisa membuat suasana kantor terasa lebih santai. Saling melempar humor atau menggoda satu sama lain bahkan bisa menjadi bagian dari hubungan pertemanan di tempat kerja. Namun, tidak semua hal yang disebut sebagai candaan benar-benar terasa lucu bagi orang yang menjadi sasarannya.

Masalahnya, perilaku yang merendahkan terkadang justru hanya dianggap candaan semata dan korbannya dilarang baper. Jika dilakukan berulang kali, ditujukan kepada orang tertentu, atau membuat seseorang merasa dipermalukan dan terintimidasi, perilaku tersebut patut diperhatikan. Berikut lima bentuk workplace bullying yang terkadang disamarkan sebagai candaan. Keep scrolling!

1. Mengejek penampilan atau kondisi pribadi

ilustrasi workplace bullying (magnific.com/magnific)

Komentar mengenai bentuk tubuh, wajah, pakaian, usia, status hubungan, atau kondisi pribadi seseorang terkadang dianggap sebagai bahan bercanda di kantor. Misalnya, seseorang terus-menerus dijadikan bahan lelucon karena bentuk tubuhnya atau cara berpakaiannya. Ketika orang tersebut terlihat tidak nyaman, pelaku justru mengatakan bahwa semuanya hanya candaan.

Candaan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus merasa dipermalukan karena sesuatu yang bersifat pribadi. Terlebih jika komentar tersebut dilakukan di depan banyak orang dan terus diulang meskipun sudah mengetahui bahwa orang yang menjadi sasaran merasa tidak nyaman.

2. Mempermalukan kesalahan kerja di depan orang lain

ilustrasi workplace bullying (magnific.com/magnific)

Kesalahan dalam pekerjaan bisa terjadi kepada siapa saja dan memang perlu diperbaiki. Namun, menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan lelucon berulang kali, terutama di depan rekan kerja, merupakan hal yang berbeda dari memberikan kritik profesional.

Contohnya, seorang karyawan melakukan kesalahan dalam sebuah tugas kemudian terus dipanggil dengan julukan tertentu yang berkaitan dengan kesalahan tersebut. Jika perilaku ini membuatnya takut berbicara, enggan bertanya, atau merasa dipermalukan setiap kali berada di sekitar rekan kerja, situasinya perlu diperhatikan. Kritik seharusnya membantu seseorang memperbaiki pekerjaan, bukan menjadikan kesalahannya sebagai hiburan bersama.

3. Memberikan julukan yang merendahkan

ilustrasi workplace bullying (magnific.com/magnific)

Memberikan julukan kepada rekan kerja memang bisa menjadi bagian dari interaksi sehari-hari. Namun, julukan yang berkaitan dengan kelemahan, penampilan, kesalahan, atau hal pribadi seseorang dapat berubah menjadi bentuk penghinaan apabila diberikan tanpa persetujuan dan terus digunakan.

Situasinya semakin bermasalah ketika orang tersebut sudah menunjukkan ketidaknyamanan tetapi julukan itu tetap dipakai. Bahkan, pelaku mungkin mengajak rekan kerja lain untuk ikut menggunakannya dengan alasan agar suasana lebih seru. Jika humor hanya bisa berlangsung dengan menjadikan satu orang sebagai sasaran, ada baiknya mempertanyakan apakah itu benar-benar candaan yang menyenangkan bagi semua pihak.

4. Mengucilkan seseorang lalu menyebutnya sebagai lelucon

ilustrasi workplace bullying (magnific.com/magnific)

Pengucilan terkadang dilakukan secara halus dan kemudian dianggap sebagai bagian dari bercanda. Misalnya, seseorang sengaja tidak diajak dalam percakapan tertentu, tidak diberi informasi yang sebenarnya berkaitan dengan pekerjaannya, atau terus dibuat merasa tidak termasuk dalam kelompok.

Ketika orang tersebut mempertanyakan perlakuan itu, respons yang diberikan malah memojokkan karena ini dianggap hanya candaan. Padahal, jika pengucilan dilakukan berulang kali dan sampai menghambat seseorang dalam menjalankan pekerjaannya, dampaknya tidak lagi sekadar persoalan humor. Hubungan sosial di tempat kerja memang tidak harus selalu dekat, tetapi setiap orang tetap perlu mendapatkan informasi dan perlakuan yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya.

5. Menggunakan candaan untuk mengintimidasi

ilustrasi workplace bullying (magnific.com/magnific)

Ada pula candaan yang sebenarnya mengandung ancaman atau tekanan, tetapi sengaja dikemas dengan nada bercanda. Misalnya, seseorang mengancam akan menghabisi si korban jika melakukan kesalahan lagi, kemudian tertawa dan mengatakan bahwa itu hanya lelucon.

Kalimat seperti ini tetap dapat membuat penerimanya merasa takut, terutama jika disampaikan oleh orang yang memiliki posisi lebih tinggi atau memiliki pengaruh terhadap pekerjaannya. Humor tidak seharusnya digunakan sebagai cara untuk membuat seseorang merasa terancam atau takut menyampaikan pendapat. Jika sebuah candaan membuatmu merasa tidak aman, penting untuk memperhatikan konteks, frekuensi, dan pola perilakunya.

Tidak semua candaan yang terasa tidak nyaman otomatis merupakan workplace bullying. Ada kalanya seseorang memang tidak sengaja melewati batas dan dapat memperbaiki perilakunya setelah diberi tahu. Karena itu, penting melihat konteks, apakah perilaku tersebut berlangsung terus-menerus. Selalu waspada dan sadari kalau kamu menjadi korban workplace bullying, lalu segera tetapkan batasan dan jika sudah keterlaluan, maka segera laporkan pada atasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article