Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Buku Favorit Marilyn Monroe, Mengungkap Sisi Cerdas Sang Aktris
Marilyn Monroe di film The Seven Year Itch (dok. 20th Century Fox/The Seven Year Itch)
  • Marilyn Monroe dikenal bukan hanya sebagai ikon glamor Hollywood, tapi juga pembaca serius dengan koleksi ratusan buku yang mencerminkan minatnya pada sastra, filsafat, dan psikologi.
  • Tujuh buku favoritnya mencakup karya penulis besar seperti Albert Camus, Ernest Hemingway, Joseph Conrad, Jack Kerouac, John Steinbeck, Gustave Flaubert, dan Ralph Ellison.
  • Pilihan bacaan tersebut menampilkan sisi intelektual Marilyn yang mendalam—menunjukkan ketertarikannya pada tema eksistensial, sosial, serta pencarian makna hidup di balik citra publiknya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi banyak orang, Marilyn Monroe identik dengan pesona Hollywood, gaun putih ikonik, dan statusnya sebagai simbol seks paling terkenal abad ke-20. Namun, di balik citra glamor tersebut, Marilyn sebenarnya adalah seorang pembaca yang rakus. Ia memiliki ratusan buku dalam koleksi pribadinya dan sering menghabiskan waktu luang dengan membaca karya sastra, filsafat, hingga buku-buku psikologi.

Kecintaannya pada dunia literasi menunjukkan sisi lain Marilyn yang jarang dibahas. Ia bukan hanya seorang aktris dan model, tetapi juga sosok yang haus akan pengetahuan dan refleksi diri. Berikut tujuh buku favorit Marilyn Monroe yang membantu mengungkap kedalaman pemikiran sang legenda Hollywood.

1. The Fall — Albert Camus

The Fall (dok. Penguin Random House)

Novel karya Albert Camus ini berkisah tentang Jean-Baptiste Clamence, seorang mantan pengacara sukses yang merenungkan hidupnya melalui serangkaian monolog panjang kepada seorang asing di Amsterdam. Sepanjang cerita, pembaca diajak menyelami rasa bersalah dan pencarian makna hidup yang menjadi tema khas filsafat eksistensial Camus.

Tidak mengherankan jika Marilyn Monroe tertarik pada buku ini. The Fall menawarkan refleksi mendalam tentang bagaimana manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain. Buku ini juga ditemukan dalam perpustakaan pribadinya, menandakan bahwa karya Camus memiliki tempat khusus dalam daftar bacaannya.

2. The Sun Also Rises — Ernest Hemingway

The Sun Also Rises (dok. Penguin Random House)

Novel klasik Ernest Hemingway ini menggambarkan kehidupan generasi pasca-Perang Dunia I yang kehilangan arah dan harapan. Ceritanya mengikuti Jake Barnes dan Lady Brett Ashley yang menjalani kehidupan penuh pesta, perjalanan, dan hubungan rumit di Paris serta Spanyol. Di balik petualangan mereka, tersimpan kesedihan dan kehampaan yang sulit diabaikan.

Marilyn diketahui mengagumi tulisan Hemingway yang lugas namun emosional. Kisah dalam The Sun Also Rises berbicara tentang cinta yang tak pernah benar-benar terwujud, sesuatu yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan pribadi Marilyn yang penuh hubungan kompleks. Novel ini tetap dianggap sebagai salah satu karya sastra Amerika paling berpengaruh hingga saat ini.

3. The Secret Agent — Joseph Conrad

The Secret Agent (dok. Penguin)

Karya Joseph Conrad ini memadukan unsur thriller politik, spionase, dan drama keluarga dalam satu cerita yang penuh ketegangan. Tokoh utamanya, Mr. Verloc, terlibat dalam rencana aksi teror yang berujung pada serangkaian tragedi tak terduga. Buku ini menarik karena cara Conrad membangun atmosfer misterius sekaligus kritik sosial yang tajam.

Marilyn Monroe dikenal menyukai buku-buku yang menawarkan lebih dari sekadar hiburan, dan The Secret Agent termasuk karya yang mengajak pembaca untuk berpikir tentang moralitas serta struktur masyarakat. Kompleksitas inilah yang kemungkinan membuat novel ini masuk dalam daftar favoritnya.

4. On the Road — Jack Kerouac

On the Road (dok. Britannica)

On the Road adalah salah satu novel paling terkenal dari Generasi Beat. Cerita mengikuti perjalanan Sal Paradise dan sahabatnya Dean Moriarty yang berkelana melintasi Amerika Utara untuk mencari pengalaman hidup, kebebasan, dan pemahaman diri. Novel ini menjadi simbol semangat pemberontakan terhadap kehidupan yang dianggap terlalu terikat aturan.

Buku ini juga menawarkan energi yang berbeda dibandingkan dengan novel klasik lainnya. Jack Kerouac menulis dengan gaya yang spontan dan penuh semangat, membuat pembaca seolah ikut berada di jalan bersama para tokohnya.

5. Once There Was a War — John Steinbeck

Once There Was a War (dok. Goodreads)

Berbeda dari novel fiksi, buku ini merupakan kumpulan laporan jurnalistik John Steinbeck selama Perang Dunia II. Saat bertugas sebagai koresponden perang, Steinbeck menulis tentang kehidupan para tentara, warga sipil, dan berbagai pengalaman manusia yang terjadi di tengah konflik global.

Alih-alih berfokus pada strategi militer atau pertempuran besar, Steinbeck menyoroti kisah orang-orang biasa yang hidup di masa luar biasa. Pendekatan tersebut membuat buku ini terasa emosional sekaligus informatif. Ketertarikan Marilyn pada karya ini menunjukkan bahwa ia juga memiliki minat terhadap sejarah dan kondisi sosial yang membentuk dunia modern.

6. Madame Bovary — Gustave Flaubert

Madame Bovary (dok. Britannica)

Novel klasik Prancis ini mengikuti kehidupan Emma Bovary, seorang wanita yang mendambakan kehidupan romantis dan mewah seperti yang ia baca dalam novel-novel favoritnya. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Pernikahannya terasa membosankan, sementara berbagai upaya untuk mencari kebahagiaan justru membawanya pada masalah yang semakin besar.

Kisah Emma Bovary sering dianggap sebagai kritik terhadap ekspektasi yang tidak realistis dan tekanan sosial terhadap perempuan. Banyak pembaca melihat kemiripan antara perjuangan Emma dan kehidupan perempuan modern yang mencoba menemukan tempatnya di dunia.

7. Invisible Man — Ralph Ellison

Invisible Man (dok. Goodreads)

Novel pemenang berbagai penghargaan ini mengikuti perjalanan seorang pria kulit hitam tanpa nama yang berusaha menemukan identitasnya di tengah masyarakat Amerika yang penuh diskriminasi. Dari wilayah selatan Amerika hingga jalanan Harlem, ia menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang membuatnya merasa tidak terlihat oleh dunia di sekitarnya.

Invisible Man tidak hanya membahas isu ras, tetapi juga pencarian identitas dan kebutuhan manusia untuk diakui. Tema-tema tersebut sangat universal, sehingga tetap relevan hingga sekarang. Ketertarikan Marilyn pada buku ini menunjukkan bahwa ia menghargai karya sastra yang berani membahas persoalan sosial secara mendalam.

Daftar buku favorit Marilyn Monroe membuktikan bahwa ia jauh lebih kompleks daripada citra glamor yang sering ditampilkan media. Dari ketujuh buku tersebut, mana yang paling membuatmu penasaran untuk dibaca?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article