5 Rules yang Perlu Diterapkan agar Break-Up Jadi Gak Banyak Drama

- Artikel menekankan pentingnya rasa respek dan komunikasi jujur saat mengakhiri hubungan agar proses perpisahan berjalan tanpa drama dan saling menyalahkan.
- Ditekankan perlunya menjaga privasi, tidak melibatkan banyak pihak, serta tetap menghormati mantan untuk mencegah konflik setelah putus.
- Menetapkan batasan interaksi pasca-putus dan menyepakati keputusan berpisah bersama dianggap kunci kedewasaan dalam menghadapi akhir hubungan.
Hubungan yang sehat pasti dibangun dengan fondasi saling respek yang kuat antar kedua pihak. Ketika hubungan harus berakhir, rasa hormat dan menghargai satu sama lain ini juga yang mencegah kedua pihak untuk saling menghancurkan atau menyalahkan satu sama lain. Justru sebaliknya, hubungan bisa berakhir baik-baik tanpa harus ada kebencian dan dendam.
Dengan demikian, kamu dan mantan sama-sama bisa melanjutkan hidup tanpa perlu terikat dengan masa lalu. Ternyata, kunci mengakhiri hubungan yang sehat ialah mengakhiri hubungan dengan rasa respek satu sama lain. Berikut lima rules yang perlu ada, agar hubunganmu berakhir tanpa drama.
1. Jadilah pihak yang jujur dan tegas ketika mengakhiri hubungan

Saat-saat awal mengakhiri hubungan ialah saat-saat paling sulit. Ketika merasa hubungan sudah berjalan di luar harapan, kamu diperhadapkan dengan berbagai opsi: mengakhiri hubungan dengan risiko disalahpahami orang-orang, atau justru diam-diam memanipulasi keadaan dan membuat pasanganmu akhirnya merasa gak nyaman.
Jangan jadi orang plin-plan. Kalau kamu memang merasa relasi ini stagnan dan gak sevisi, maka belajar ambil tanggung jawab dengan bersikap terbuka.
Katakan alasan mengapa kamu ingin putus secara jujur dan gamblang. Pasanganmu pun berhak dapat kejelasan. Keterbukaan dan komunikasi bukan hanya kunci menjalani hubungan sehat, melainkan juga kunci mengakhiri hubungan tanpa banyak drama dan miskomunikasi.
2. Akhiri hubungan dengan tetap respek pada pasangan

Seringkali, banyak orang menganggap pasangan sebagai musuh ketika pisah. Ini yang kemudian memicu drama dan konflik yang gak perlu dengan mantan. Padahal, bisa saja kok untuk mengakhiri lembaran lama dengan baik-baik.
Salah satunya, tetap respek pada pasangan saat hendak maupun setelah hubungan berakhir. Dengan kata lain, berhenti cari pembenaran sana-sini dengan menceritakan segala kekurangan mantanmu pada orang lain.
Gak semua hal butuh divalidasi. Jangan sampai karena lidah yang gak bisa direm, kamu malah jadi ember aibmu sendiri.
3. Bijak dalam melibatkan pihak eksternal

Gak gampang untuk mengambil keputusan pisah pada seseorang yang sedari awal kita setujui untuk komitmen bersama. Tetapi, kamu perlu punya rasa percaya diri dalam mengambil keputusan. Jangan sampai karena terlalu dimakan ragu, kamu jadi mudah untuk melibatkan banyak pihak pada masalah internal hubungan.
Akhirnya sebelum putus, sudah banyak orang tahu kekuranganmu dan pasangan. Sama saja kamu gak respek dengan pasanganmu dengan mengumbar kekurangan mereka. Padahal, bisa saja kok diselesaikan berdua tanpa harus bocor kemana-mana.
4. Tegaskan batasan setelah putus

Setelah hubungan berakhir, tentu interaksimu dan doi gak akan lagi sama. Kamu perlu untuk punya boundary yang jelas: apakah kamu masih oke berteman dengan dia, atau justru lebih memilih untuk lost contact. Kalau perlu, sampaikan ini di awal.
Beberapa orang gak masalah berteman dengan mantan mereka, tapi beberapa lebih memilih untuk jaga jarak. Tujuan penyampaian batas di awal putus adalah untuk menyamakan ekspetasi antara kamu dan mantan.
Siapa tahu, kamu mengira putus berarti lost contact, sementara mantan masih ingin berteman. Ketimpangan ekspetasi malah menggambar garis jarak yang kian lama kian membentang di antara kalian.
5. Sepakati bahwa berpisah adalah keputusan bersama

Terakhir, kamu dan si ex perlu sama-sama sepakati bahwa perpisahan adalah keputusan bersama. Memang kita gak bisa selalu memaksakan pemikiran pada orang lain, tapi setidaknya kamu berpisah dalam keadaan baik-baik.
Gak ada yang dendam, merasa dicurangi, atau disalahpahami. Perpisahan gak jadi beban, tapi sebuah bentuk kedewasaan mental. Kamu dan mantan sama-sama bisa melangkah dengan legawa.
Breakup mungkin akan penuh air mata, tapi gak perlu banyak drama. Mungkin ada variabel di luar kendalimu, gak usah pusingkan hal itu. Cukup pastikan bahwa sikap, komunikasi, dan caramu sudah tepat, supaya kamu bisa masuk ke lembaran baru tanpa perlu bawa sampah msa lalu.























