5 Buku tentang Peristiwa 1965 yang Jarang Direkomendasikan

- Setelah reformasi 1998, akses terhadap literatur tentang Peristiwa 1965 makin terbuka dan menarik minat generasi muda untuk memahami sejarah yang dulu disensor.
- Lima buku seperti Rumah dengan Pintu Biru, Dari Dalam Kubur, Kubah, Entrok, dan The Killing Season menyoroti sisi personal hingga politik dari tragedi 1965.
- Karya-karya tersebut menghadirkan perspektif baru tentang trauma, ketidakadilan, serta upaya mengungkap kebenaran yang lama disembunyikan oleh rezim Orde Baru.
Seiring dengan berakhirnya rezim orde baru pada 1998, sensor terhadap informasi soal Peristiwa 1965 pun melonggar. Terutama pada 2020-an, anak-anak muda tak lagi kesulitan mencari buku yang membahas situasi saat itu. Beberapa buku tentang sejarah 1965 bahkan viral, sebut saja Namaku Alam (Leila S. Chudori), Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) dan The Jakarta Method (Vincent Bevins).
Namun, masih ada yang sering terlewat dari radar pembaca, nih. Judul dan sinopsis singkatnya sudah dirangkum untukmu, nih. Selamat berburu!
1. Rumah dengan Pintu Biru (Tari Lang)

alah satu buku tentang Peristiwa 1965 yang masih relatif underrated adalah memoar karya Tari Lang berjudul Rumah dengan Pintu Biru. Tari adalah anak dari seorang petinggi Kementerian Angkatan Laut, Suwondo Budiardjo. Ia, adik, dan ayah ibunya tinggal di Jakarta sejak 1950-an sampai peristiwa 1965 membuat keluarga itu tercerai berai. Orangtuanya yang juga aktivis ditangkap sebagai tapol, dan selama beberapa waktu Tari serta adiknya terlantar. Sempat tertangkap pula karena keikutsertaannya dalam organisasi pemuda, Tari akhirnya bebas lewat bantuan ibunya yang seorang WNA asal Inggris.
2. Dari Dalam Kubur (Soe Tjen Marchin)

Terbit perdana pada 2020, Dari Dalam Kubur akhirnya dapat eksposur besar beberapa tahun kemudian. Ini adalah novel yang terkonsentrasi pada Karla, seorang bocah yang begitu terluka karena diskriminasi yang ia terima dari sang ibu. Kekecewaannya makin memuncak karena tak ada anggota keluarga lain yang keberatan atas perlakuan tak adil itu, seolah mengalienasinya. Trauma ini ia simpan sendiri, sampai saat dewasa, ia memberanikan diri untuk menyingkap alasan di balik sikap dingin ibunya itu. Sebuah sejarah kelam tentang peristiwa 1965 dan efek jangka panjangnya yang sering kita lupakan.
3. Kubah (Ahmad Tohari)

Seperti novel sebelumnya, Kubah membahas Peristiwa 1965 lewat kacamata individu. Tepatnya, Karman, seorang pria yang ditangkap dan diasingkan ke Pulau Buru sebagai tahanan politik. Belasan tahun kemudian ia dibebaskan, tetapi hidupnya tak sama lagi. Istrinya menikah lagi, anaknya meninggal tanpa sempat ia kuburkan, dan orang-orang mengucilkannya. Harapan datang saat seorang pemuka agama di desa asalnya memberinya sebuah kepercayaan.
4. Entrok (Okky Madasari)

Entrok mencoba mengupas kultur militerisme di Indonesia yang lestari sejak Peristiwa 1965 sampai Orde Baru berakhir pada 1998. Kultur itu dipotret lewat kacamata Marni dan anak perempuannya, Rahayu. Mereka hidup sebagai bagian dari kelas bawah dengan segala tantangan dan ketidaknyamanannya. Marni masih percaya pada roh leluhur dan kepercayaan kuno, tetapi begitu gigih memastikan masa depan Rahayu lebih baik dari dirinya. Di sisi lain, Rahayu tak suka dengan pendekatan dan pilihan hidup ibunya. Namun di balik konflik antargenerasi itu, ada satu yang menyatukan keduanya, yakni sosok musuh bersama yang datang seenak jidat dan mengusik hidup mereka.
5. The Killing Season (Geoffrey B. Robinson)

The Killing Season punya kemiripan dengan The Jakarta Method, yakni mengulik hal-hal yang tidak pernah kita dengar di buku teks pelajaran tentang Peristiwa 1965. Robinson mengupas bukti-bukti soal kekerasan terorganisasi sampai dukungan asing dalam aksi-aksi penghilangan paksa para aktivis sayap kiri Indonesia kala itu. Namun, tak sampai di situ, ia juga menyertakan bab yang menyoal bagaimana rezim Orde Baru berusaha mensanitasi keterlibatan mereka dalam berbagai kejahatan kemanusiaan tersebut.
Kalau pengetahuanmu soal Peristiwa 1965 masih terbatas pada buku teks pelajaran masa sekolah, bolehlah perkaya diri dengan baca beberapa literatur di atas. Ini caramu membebaskan diri untuk membuat argumen sendiri dan tentunya keluar belenggu narasi yang belum utuh.