Ilustrasi belajar (unsplash.com/Photo by Eliott Reyna)
Semakin sering menggunakan ChatGPT, semakin penting kemampuan untuk memeriksa hasilnya. AI bisa memberikan jawaban yang terdengar masuk akal tetapi ternyata keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai konteks. Risiko ini menjadi lebih serius jika ChatGPT digunakan untuk tugas akademik, laporan profesional, informasi hukum, kesehatan, keuangan, atau pekerjaan yang membutuhkan data akurat.
Karena itu, biasakan meminta sumber ketika membutuhkan informasi faktual, lalu buka dan periksa sumber tersebut secara langsung. Jangan hanya percaya pada daftar referensi yang diberikan AI. Untuk tugas sekolah atau kuliah, gunakan ChatGPT sebagai alat untuk memahami materi dan mengembangkan ide, tetapi tetap kerjakan bagian analisis dan kesimpulan dengan pemikiran sendiri sesuai aturan institusi pendidikan.
"Membahas langkah-langkah dan elemen-elemen kunci yang perlu diperiksa, ketika berupaya mengatur GenAI berdasarkan pendekatan yang berpusat pada manusia-pendekatan yang memastikan penggunaan yang etis, aman, adil, dan bermakna," demikian laporan UNESCO dalam "Guidance for generative AI in education and research".
ChatGPT bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk belajar dan bekerja selama digunakan secara aktif dan kritis. Kuncinya bukan seberapa sering kamu meminta AI membuat sesuatu, tetapi seberapa baik kamu mengarahkan, mengevaluasi, dan memanfaatkan hasilnya.