Asep Kambali, Sejarawan Indonesia, menjelaskan fun fact kemerdekaan yang mungkin Gen Z belum mengetahuinya. (IDN Times/Maura Thirza A)
Ada sejumlah cerita di balik Proklamasi yang mungkin gak sering dibahas di kelas. Salah satunya, kemerdekaan Indonesia tidak bisa begitu saja disebut sebagai hadiah dari Jepang. Memang ada peran Jepang dalam konteks politik menjelang kemerdekaan, tetapi tetap ada perjuangan dan desakan dari bangsa Indonesia sendiri untuk mewujudkannya.
Fun fact lain adalah pelaksanaan proklamasi tidak memiliki kepanitiaan, berlangsung dengan sederhana. Tiang bendera yang digunakan disebut berupa bambu bekas jemuran, sementara bendera Merah Putih dijahit Fatmawati ketika sedang hamil tua. Bahkan, momen bersejarah tersebut berlangsung pada bulan Ramadan. Setelah merumuskan naskah hingga dini hari, Mohammad Hatta sempat sahur dengan menu sederhana berupa roti, telur, dan ikan sarden.
Cerita lainnya datang dari tokoh-tokoh di balik naskah Proklamasi. Sayuti Melik berperan mengetik naskah tersebut, sedangkan S.K. Trimurti merupakan salah satu tokoh perempuan yang ikut berjuang melalui aktivitas pers dan pergerakan
“Sayuti Melik dan Ibu S.K. Trimurti sampai sekarang belum jadi pahlawan nasional, nah ini tugas negara untuk menetapkan mereka sebagai pahlawan nasional karena sangat berjasa bagi negeri ini,” ujar Asep Kambali. Menurut Asep, tokoh-tokoh seperti ini juga penting untuk terus dikenalkan agar generasi muda tidak hanya mengingat nama-nama yang paling populer dalam sejarah.
Menelusuri jejak Proklamasi gak hanya soal berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ada cerita tentang keputusan, perjuangan, kesederhanaan, sampai orang-orang yang bekerja di balik momen besar tersebut. Buat Gen Z, mengenal cerita-cerita ini bisa menjadi cara lain untuk melihat kemerdekaan dengan lebih dekat, bukan sekadar sebagai perayaan yang datang setiap 17 Agustus. Sebab, seperti yang diingatkan Asep, kemerdekaan yang dinikmati hari ini punya sejarah panjang yang layak untuk terus diingat.