Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Doomscrolling Jadi Lebih Bermanfaat? Ini 7 Konten Edukasi Pilihannya
ilustrasi sedang menonton konten (Pexels.com/Ron Lach)
  • Konten edukasi dapat membuat waktu scrolling lebih bermanfaat melalui format ringan seperti cerita, ilustrasi, eksperimen, animasi, dan video singkat.
  • Pilihan topik mencakup sains sehari-hari, sejarah, literasi keuangan, bahasa asing, keterampilan praktis, teknologi serta kecerdasan buatan, hingga psikologi dan pengembangan diri.
  • Informasi dari media sosial perlu diperiksa lewat sumber kredibel, tanggal publikasi, dan perbandingan sumber, terutama untuk keuangan, teknologi, sejarah, serta psikologi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Waktu luang biasanya identik dengan rebahan sambil membuka media sosial. Niat awalnya cuma mau melihat satu atau dua video, tetapi tahu-tahu sudah hampir satu jam berlalu. Sebenarnya gak ada yang salah dengan menikmati hiburan, tetapi sesekali kamu juga bisa menyelipkan konten yang membuat waktu scrolling terasa lebih bermanfaat.

Konten edukasi sekarang gak selalu berbentuk video pembelajaran yang serius dan penuh istilah rumit. Banyak kreator menyampaikan informasi melalui cerita, ilustrasi, eksperimen, animasi, sampai video singkat yang ringan. Kalau kamu sedang ingin menambah wawasan tanpa merasa sedang belajar, beberapa jenis konten berikut bisa menjadi pilihan.

1. Konten tentang sains sehari-hari

ilustrasi seseorang memegang HP (pexels.com/cottonbro studio)

Pernah penasaran kenapa es batu bisa mengapung, kenapa langit berubah warna saat sore, atau kenapa makanan tertentu lebih cepat basi? Pertanyaan sederhana seperti ini ternyata bisa menjadi pintu masuk untuk memahami berbagai konsep sains. Konten yang membahas fenomena sehari-hari juga biasanya terasa lebih dekat karena kamu bisa langsung melihat contohnya di sekitar.

Jenis konten ini cocok ditonton ketika kamu ingin belajar sesuatu tanpa harus membuka buku pelajaran. Penjelasan yang disertai ilustrasi atau eksperimen sederhana biasanya membuat informasi lebih mudah dipahami. Bonusnya, kamu mungkin jadi lebih sering memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya gak pernah terpikirkan.

2. Konten sejarah yang dikemas sebagai cerita

ilustrasi seseorang bermain HP (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Sejarah kadang terasa membosankan kalau hanya berisi tanggal dan nama tokoh. Namun, ketika disampaikan dalam bentuk cerita, konflik, atau fakta menarik, sejarah bisa terasa jauh lebih hidup. Kamu bisa menemukan kisah tentang tokoh, kerajaan, penemuan, perang, budaya, hingga peristiwa yang mengubah kehidupan masyarakat.

Konten seperti ini cocok untuk kamu yang suka storytelling. Daripada sekadar menghafalkan tahun, kamu bisa memahami hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Pastikan saja informasi yang disampaikan kreator memiliki sumber yang jelas, terutama jika topiknya berkaitan dengan sejarah yang masih diperdebatkan.

3. Konten literasi keuangan

ilustrasi seseorang bermain HP (pexels.com/Thirdman)

Waktu luang juga bisa digunakan untuk memahami cara mengelola uang. Kamu bisa menonton konten tentang membuat anggaran, menabung, mengatur pengeluaran, memahami utang, sampai mengenali berbagai risiko keuangan. Topiknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena hampir semua orang berhadapan dengan keputusan finansial.

Namun, jangan langsung mengikuti semua tips yang muncul di media sosial. Konten keuangan sebaiknya dijadikan bahan untuk menambah wawasan, bukan satu-satunya dasar mengambil keputusan. Cek kembali informasi dari sumber yang kredibel sebelum menerapkannya, terutama kalau menyangkut investasi, pinjaman, atau produk keuangan tertentu.

4. Konten bahasa asing

ilustrasi seseorang bermain HP (freepik.com/freepik)

Belajar bahasa asing gak harus selalu duduk dengan buku dan menghafalkan kosakata. Kamu bisa menonton video percakapan sehari-hari, pronunciation, vocabulary, atau penjelasan ungkapan yang sering digunakan penutur asli. Bahkan video pendek beberapa menit bisa membantu kamu mengenali kata dan ekspresi baru.

Supaya gak cuma menjadi tontonan, coba ulangi beberapa kalimat yang kamu dengar. Catat satu atau dua ungkapan yang menurutmu berguna, kemudian coba gunakan dalam percakapan atau tulisan. Cara sederhana ini membuat waktu menonton terasa lebih interaktif dan membantu kamu mengingat materi lebih lama.

5. Konten keterampilan praktis

ilustrasi seseorang bermain HP (pexels.com/Callum Hilton)

Gak semua pembelajaran harus berkaitan dengan teori. Konten yang mengajarkan keterampilan praktis seperti memasak, berkebun, memperbaiki barang sederhana, fotografi, membuat kerajinan, atau menggunakan aplikasi juga bisa menjadi pilihan edukatif. Kamu bisa langsung mencoba apa yang baru saja dipelajari.

Jenis konten ini cocok untuk kamu yang lebih mudah belajar melalui praktik. Misalnya, setelah menonton tutorial menanam sayuran di pot, kamu bisa langsung mencoba menggunakan wadah yang tersedia di rumah. Jadi, waktu luang gak berhenti pada aktivitas menonton, tetapi berlanjut menjadi pengalaman baru.

6. Konten teknologi dan kecerdasan buatan

Ilustrasi bermain hp (pexels.com/Bruce mars)

Perkembangan teknologi membuat banyak hal berubah dengan cepat. Konten yang membahas aplikasi, keamanan digital, kecerdasan buatan, produktivitas, atau tren teknologi bisa membantu kamu memahami perubahan tersebut. Pengetahuan seperti ini juga bisa berguna dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.

Meski begitu, pilih konten yang gak hanya mengejar sensasi. Teknologi berkembang cepat sehingga informasi lama bisa saja sudah gak relevan. Biasakan mengecek tanggal publikasi dan membandingkan informasi dari beberapa sumber sebelum mempercayai klaim yang terdengar terlalu bagus.

7. Konten psikologi dan pengembangan diri

Ilustrasi seseorang memegang ponsel (pexels.com/cottonbro studio)

Kalau kamu ingin memahami diri sendiri atau cara berinteraksi dengan orang lain, konten psikologi dan pengembangan diri bisa menjadi pilihan. Topiknya beragam, mulai dari komunikasi, kebiasaan, produktivitas, hubungan sosial, sampai cara mengelola waktu. Konten semacam ini bisa menjadi bahan refleksi ringan di tengah rutinitas.

Namun, jangan menganggap semua konten psikologi di media sosial sebagai diagnosis atau kebenaran mutlak. Banyak istilah psikologi yang digunakan secara terlalu sederhana untuk membuat video lebih menarik. Jadikan konten tersebut sebagai bahan belajar dan refleksi, bukan sebagai dasar untuk memberi label kepada diri sendiri atau orang lain.

Waktu luang sebenarnya bisa diisi dengan banyak hal, termasuk menonton konten edukasi yang tetap ringan dan menghibur. Sains, sejarah, keuangan, bahasa asing, keterampilan praktis, teknologi, hingga psikologi bisa menjadi pilihan sesuai minat dan kebutuhanmu. Kamu gak perlu mengubah semua waktu santai menjadi sesi belajar karena beberapa menit sehari pun sudah cukup untuk menemukan informasi baru.

Yang terpenting bukan seberapa banyak video yang berhasil kamu tonton, tetapi apa yang kamu dapatkan setelahnya. Kalau satu video membuat kamu mencoba sesuatu, memahami konsep baru, atau melihat masalah dari sudut pandang berbeda, berarti waktu luangmu sudah menghasilkan sesuatu. Jadi, sebelum lanjut scrolling tanpa tujuan, coba pilih satu konten yang bikin kamu berkata, 'Oh, ternyata begitu!'

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article