Edukasi agar Anak Tak Melakukan Bullying pada Teman Minoritas, Toleran

Anak sudah masuk sekolah lagi di tahun ajaran baru. Baik anak baru masuk kelas satu atau hanya naik kelas, ia akan bertemu dengan begitu banyak teman. Tidak semuanya kawan lama. Mungkin juga ada siswa pindahan.
Sementara anak yang baru tahun ini masuk ke jenjang pendidikan SD, SMP, atau SMA otomatis semua kawannya juga baru. Di sekolah-sekolah umum, perbedaan antarsiswa lebih mencolok. Akan ada kelompok mayoritas dan minoritas. Hal tersebut dapat terbentuk karena perbedaan agama, suku, atau latar belakang ekonomi orangtua.
Berbahaya sekali apabila adanya kelompok mayoritas dan minoritas ini tidak diantisipasi dengan baik oleh pihak sekolah maupun orangtua. Kamu dan pasangan mesti melakukan edukasi pada anak yang berada di kelompok mayoritas agar tak melakukan bullying terhadap kawannya yang minoritas. Berikut langkah-langkahnya.
1. Orangtua perlu terlebih dulu punya mindset positif tentang perbedaan

Sering kali anak sebenarnya netral saja soal teman-temannya. Ia masih terlalu polos untuk meributkan perbedaan di antara mereka. Terpenting bagi anak ialah mereka bisa seru bermain dan belajar bersama.
Justru orangtua yang kerap tanpa sadar menularkan pandangan negatifnya terkait kelompok siswa minoritas di sekolah anak. Misalnya, etnis tertentu dikaitkan dengan sifat pelit. Lalu orangtua melarang keras anak meminjam apa pun dari kawannya yang beretnis tersebut. Daripada maksud anak ditolak mentah-mentah dan membuatnya kesal.
Maka dari itu, wajib untukmu serta pasangan terlebih dahulu membersihkan pikiran dari pandangan yang tidak terbukti kebenarannya terkait orang lain yang berbeda dari kalian. Orangtua harus meyakini sepenuh hati bahwa perbedaan itu indah. Hal tersebut tak perlu dipermasalahkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Penjelasan terus-menerus pada anak tentang toleransi

Memang sekolah juga akan mengajarkan tentang toleransi terhadap perbedaan. Akan tetapi, pendidikan pertama dan utama tetap di rumah. Anak memercayai perkataan ayah serta ibunya.
Kalau hanya mengandalkan nasihat guru perihal toleransi dan di rumah gak pernah ditekankan bisa sia-sia. Beri tahu anak arti toleransi berikut bentuk-bentuk perilakunya. Pastikan kamu dan pasangan kasih contoh yang relevan dalam keseharian anak bersama kawan-kawannya.
Misal, temannya non-muslim. Semua siswa membawa bekal makan siang. Tentu gak apa-apa kawannya yang non-muslim membawa bekal nasi dengan lauk daging babi. Jangan lantas anak serta teman-teman yang beragama Islam seperti marah padanya.
3. Aksi nyata orangtua dan anak merangkul siswa serta wali murid minoritas

Setelah anak diberi penjelasan yang baik mengenai toleransi terhadap kawan minoritas, waktunya masuk ke tindakan nyata. Tidak cukup cuma ajaran secara lisan. Kamu sebagai salah satu orangtua murid wajib untuk memperlakukan semua wali murid lainnya dengan baik.
Kalau ada arisan orangtua siswa misalnya, seluruhnya perlu diajak. Keputusan untuk ikut arisan atau gak memang ada di tangan masing-masing orang. Namun, jangan sampai orangtua dari kelompok minoritas tak dilibatkan.
Begitu pula anaknya atau murid minoritas yang menjadi kawan anakmu dapat diajak pulang bareng bila rumahnya searah. Anakmu pun bisa mengajaknya satu kelompok ketika ada tugas atau ingin belajar bersama. Jika teman minoritas yang harus mendekati kawan mayoritas satu per satu buat mendapatkan tempat dalam pergaulan tentu lebih memayahkan dan kadang sungkan. Kelompok mayoritas kudu merangkulnya.
4. Beri tahu anak bahwa siapa pun dapat menjadi minoritas di lingkungan berbeda

Hari ini anakmu termasuk kelompok mayoritas di sekolahnya. Itu membuat situasi cenderung menguntungkannya. Rasanya ia seperti memiliki kekuatan yang lebih besar di lingkungan sekolah.
Akan tetapi, di waktu dan tempat berbeda anak dapat gantian menjadi kelompok minoritas. Contohnya, saat anak mengikuti kompetisi mewakili sekolahnya. Ternyata lawannya didominasi siswa-siswa yang berbeda suku dan agama darinya.
Begitu juga apabila kelak anak dewasa lalu berkuliah di luar negeri, misalnya. Anak menjadi kelompok minoritas di negara lain. Ajak anak membayangkan seandainya sebagai kelompok minoritas, dia diperlakukan dengan buruk oleh teman-temannya. Pasti menyakitkan sekali. Oleh karenanya, anak kudu belajar menghargai setiap orang tak peduli termasuk kelompok mayoritas atau minoritas.
5. Siapkan sanksi seandainya anak tetap melakukan perundungan

Ketegasan orangtua penting untuk mengendalikan perilaku anak di mana pun. Meski kamu dan pasangan sudah kompak selalu menasihati anak di rumah supaya tidak melakukan perundungan pada kawan minoritas, realitasnya dapat berbeda. Di sekolah ia tetap melakukannya.
Boleh jadi ini tak lepas dari pengaruh teman-teman dekatnya. Bila anak gak ikut melakukan bullying dan malah membela kawan minoritas nanti dia dijauhi bahkan dibenci. Bisa juga anak merasa aman dari pengawasanmu.
Apa pun itu, sanksi harus tetap dijatuhkan. Jika tidak, kecenderungan anak untuk mengulangi perbuatan buruknya amat besar. Jangan kamu dan pasangan mengutuk aksi perundungan, tapi tidak berani menghukum anak sendiri yang jelas bersalah. Sanksinya bisa berupa potong uang saku bahkan meniadakannya sampai beberapa waktu.
Di mana saja dan apa pun yang membuat seseorang termasuk minoritas tidak dibenarkan untuk merundungnya. Terlebih di lingkungan pendidikan. Ajari serta beri anak contoh untuk selalu berperilaku baik pada seluruh temannya.








![[QUIZ] Apakah yang Diam-diam Menguras Energimu?](https://image.idntimes.com/post/20250526/screenshot-2025-05-26-202516-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-5a44734b85c8b188169eddc8560450aa.png)

![[QUIZ] Kamu Lebih Takut Kehilangan Orang Lama atau Sulit Menerima Orang Baru?](https://image.idntimes.com/post/20250110/pexels-timur-weber-8559962-5d6f08b51929b8e333126ddaadc00dcf-762f58fd6f05abd17ca34afc7abffec0.jpg)

![[QUIZ] Kamu Tipe yang Mengejar Kepastian atau Pilih Memendam Perasaan?](https://image.idntimes.com/post/20250404/1000364572-8e6cdbaa65f4e71fa923a95a4e3ce8a4-8ba1a3a484596e7419cd493aaff26824.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kamu sedang Terjebak Hubungan yang Tidak Sehat?](https://image.idntimes.com/post/20250426/hubungan-toxic-cover-image-50bc9cb60838c5875f508ad207ab0b0d-d19386cbdb33e3bc15efd05818de5d10.jpg)
![[QUIZ] Kuis Gambar Ini Temukan Apa Pemicu Overthinking Terbesarmu?](https://image.idntimes.com/post/20250526/1000257441-1758a0692afbc8274363a550b6365bae-7a6ee3e898cdcd72553f08b80e5681ae.jpg)







