Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Echoism, Kondisi saat Seseorang Takut Menerima Pujian
ilustrasi tidak mau menerima pujian (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Echoism adalah kondisi psikologis saat seseorang takut menerima pujian karena merasa tidak pantas, sering kali menolak apresiasi dan menyembunyikan diri demi kenyamanan orang lain.
  • Kondisi ini merupakan kebalikan ekstrem dari narsisme, di mana individu sangat takut terlihat egois atau pamer sehingga cenderung mengalihkan pujian kepada orang lain.
  • Akar echoism biasanya berasal dari pola asuh masa kecil yang menekan ekspresi diri, dan pemulihan dimulai dengan belajar menerima pujian secara netral serta membangun ruang aman bagi diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menerima pujian atau apresiasi atas sebuah pencapaian sering kali terdengar menyenangkan bagi sebagian besar orang. Namun, praktiknya tidak selalu mudah bagi semua individu. Ada kalanya, seseorang justru merasa sangat cemas, tidak nyaman, atau bahkan ketakutan yang ketika usaha mereka diakui dan dipuji oleh orang-orang di sekitarnya. Di tengah interaksi sosial, dorongan untuk langsung menolak atau menyembunyikan diri sering menjadi hal yang tanpa sadar mulai muncul.

Ada orang yang awalnya dikira hanya bersikap rendah hati, tetapi lama-kelamaan penolakan mereka terhadap pujian terasa ekstrem hingga cenderung menyalahkan diri sendiri. Padahal, ketakutan emosional ini bisa memengaruhi kenyamanan psikologis mereka dalam jangka panjang. Kondisi unik ini dikenal dalam dunia psikologi dengan istilah Echoism. Yuk, simak pembahasan mengenai apa itu fenomena echoism, apakah kamu salah satunya?

1. Memahami arti kata echoism yang diadopsi dari mitologi Yunani

ilustrasi echoism (pexels.com/Vie Studio)

Banyak orang langsung fokus mengaitkan sifat ini dengan rendah hati yang berlebihan, tetapi lupa menelusuri akar istilah ilmiahnya secara jelas. Melansir laman Psychology Today, istilah echoism pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikolog klinis dari Harvard Medical School bernama Dr. Craig Malkin. Penamaan ini diambil dari kisah mitologi Yunani kuno tentang seorang peri bernama Echo.

Dalam cerita tersebut, peri Echo menerima kutukan yang membuatnya tidak lagi mampu berbicara dengan suaranya sendiri, melainkan hanya dapat mengulangi ucapan terakhir yang disampaikan oleh orang lain. Sifat inilah yang mendefinisikan seorang echoist di dunia nyata. Mereka adalah individu yang merasa tidak memiliki hak untuk menyuarakan keinginan, ekspektasi, atau ruang bagi diri mereka sendiri di tengah publik. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk menjadi "gema" yang mengaburkan keberadaan diri mereka demi kenyamanan orang lain.

2. Merupakan kebalikan ekstrem dari sifat narsistik

ilustrasi echoism (usplash.com/Priscilla Du Preez)

Ada kalanya kita sulit membedakan mana batasan yang sehat antara menghargai diri sendiri dan bersikap sombong. Di dalam spektrum psikologi, jika narsisme berada di ujung kanan sebagai sifat yang haus akan pujian dan validasi, maka echoism berada di ujung kiri sebagai kebalikan ekstremnya.

Melansir laman Verywell Mind, seorang echoist memiliki ketakutan yang luar biasa jika dirinya dinilai sebagai sosok yang egois, pamer, atau narsistik oleh lingkungan sekitarnya. Ketika mendapatkan pujian, otak mereka akan langsung mengaktifkan mode waspada secara spontan. Mereka menganggap bahwa menerima pujian akan membuat mereka terlihat menonjol, dan menonjol di mata mereka adalah sebuah kesalahan yang bisa memicu penolakan sosial. Akibatnya, mereka selalu berusaha mengembalikan atau mengalihkan pujian tersebut kepada orang lain secepat mungkin.

3. Sering kali berakar dari trauma pola asuh masa kecil

ilustrasi echoism (usplash.com/Tamara Govedarovic)

Beberapa karakter kepribadian saat dewasa tidak terbentuk begitu saja, melainkan merupakan akumulasi dari pengalaman masa kecil. Melansir Psychology Today, sains psikologi membuktikan bahwa fenomena echoism sebagian besar berakar dari pola asuh orangtua yang memiliki kepribadian narsistik atau emosional yang tidak stabil.

Saat tumbuh dewasa, anak-anak ini biasanya dilarang untuk mengekspresikan opini, prestasi, atau kesedihan mereka karena dianggap mengganggu dominasi orangtua. Untuk bertahan hidup di dalam rumah, si anak belajar mematikan kebutuhan emosionalnya sendiri agar orangtua mereka tetap merasa senang. Ketika anak tersebut beranjak dewasa, kebiasaan menolak apresiasi ini terbawa ke dunia kerja maupun hubungan pertemanan, karena mereka merasa tidak layak untuk menjadi pusat perhatian, bahkan untuk hal-hal baik sekalipun.

4. Merasa cemas secara fisik dan mental saat diapresiasi

ilustrasi echoism (usplash.com/Yuris Alhumaydy)

Banyak orang mengira penolakan seorang echoist hanyalah bagian dari strategi basa-basi sosial agar terlihat sopan. Namun, perubahan ini biasanya disadari sebagai bentuk kecemasan yang memengaruhi kondisi fisik dan mental mereka secara langsung.

Dilansir laman Healthline, ketika mendengar kalimat pujian yang tulus, seorang echoist bukan merasa senang, melainkan akan merasakan gejolak stres emosional yang cukup tinggi. Kadar hormon kortisol mereka bisa meningkat, memicu rasa canggung, detak jantung yang sedikit lebih cepat, hingga dorongan kuat untuk mengalihkan topik pembicaraan. Mereka merasa bahwa setiap pujian membawa sebuah beban ekspektasi baru yang berat atau menganggap diri mereka sedang menipu orang lain (imposter syndrome).

5. Pentingnya membangun ruang aman untuk pemulihan diri

ilustrasi echoism (usplash.com/Sasha Freemind)

Seiring berjalannya waktu, memelihara sifat echoism tanpa penanganan yang tepat bisa membuat seseorang rentan terjebak dalam hubungan yang toksik dan manipulatif. Tanpa adanya batasan diri (boundaries) yang jelas, seorang echoist akan terus-menerus dimanfaatkan oleh orang lain karena mereka tidak pernah berani menolak atau menuntut hak mereka yang sah.

Langkah sederhana untuk memulihkan diri adalah dengan mulai belajar menerima pujian kecil secara netral, misalnya dengan cukup mengucapkan kata "terima kasih" tanpa perlu menambahkan kalimat yang merendahkan kemampuan diri sendiri. Menyadari bahwa mengapresiasi kerja keras diri sendiri bukanlah sebuah dosa atau kesombongan adalah fondasi awal yang sangat krusial. Dengan begitu, kamu bisa mulai mengambil kembali hak suaramu yang sempat hilang.

Fenomena echoism yang membuat seseorang takut menerima pujian bukan hanya soal memilih bersikap rendah hati, tetapi tentang menjaga pengalaman trauma masa lalu dan kecemasan emosional dalam setiap interaksi sosial. Konsistensi kecil untuk mulai menghargai diri sendiri setiap hari sering kali lebih berpengaruh dalam memulihkan kesehatan mental daripada menunggu sebuah pencapaian besar yang sesekali muncul. Yuk jadikan ruang dirimu sebagai tempat yang nyaman dan mulailah belajar menerima apresiasi dengan senyuman, karena kamu berhak dihargai atas segala usaha terbaik yang telah kamu lakukan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article