Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Fakta Unik Suku Sasak, Masyarakat Adat Pulau Lombok

4 min read
4 Fakta Unik Suku Sasak, Masyarakat Adat Pulau Lombok
potret dua pria Sasak yang sedang melakukan ritual Peresean (commons.wikimedia.org/Ketut Mardita)

Sasak adalah kelompok suku terbesar di Pulau Lombok. Mereka berbicara bahasa Sasak, sementara sebagian juga menggunakan bentuk bahasa Bali dengan ciri khas Sasak. Suku Sasak adalah orang pertama yang tinggal di Lombok sebelum kekuasaan asing dimulai. Dari abad ke-18 hingga 1895, Bali menguasai pulau itu sebelum Belanda datang.

Sebagian besar orang Sasak tinggal di bagian tengah Lombok. Mereka terutama bekerja sebagai petani, menanam padi, kopi, sayuran, dan pandan. Sebagian tinggal di desa kecil dengan hanya beberapa keluarga, sementara sebagian lainnya tinggal di desa besar dengan banyak penduduk. Rumah-rumah mereka dibangun di sekitar kampu, tempat keagamaan di mana upacara komunitas diadakan. Yuk, simak fakta unik tentang suku Sasak berikut ini, guys!

  1. 1. Sejarahnya masih samar

    Seorang nenek Sasak tengah menenun kain tradisional dengan alat tenun dalam potret aktivitas sehari-hari.
    potret seorang nenek Sasak yang sedang menenun (commons.wikimedia.org/Trisno Utomo Cibodas)

    Sejarah awal suku Sasak tidak sepenuhnya diketahui sebelum kelompok Hindu Jawa tiba pada abad ke-14. Indoneo menjelaskan bahwa beberapa percaya bahwa para pemukim dari Kepulauan Melayu mencapai Lombok sekitar tahun 100 SM. Setelah kerajaan Hindu Jawa mengalami kemunduran pada abad ke-16, Islam menyebar. Hal ini menyebabkan munculnya kepercayaan Wetu Telu, yang mencampur Islam dengan tradisi lokal, Hindu, dan Buddha.

    Selama berabad-abad, Sasak hidup di bawah sistem feodal yang dipimpin oleh penguasa lokal yang bersaing. Konflik yang sering terjadi memudahkan Bali untuk menginvasi Lombok pada abad ke-17 dan memerintah selama sekitar 150 tahun. Pada masa ini, mereka memperkenalkan kepercayaan Hindu dan metode pertanian baru, termasuk sistem irigasi subak dan sawah terasering. Selain itu, dibawakan pula tarian tradisional, pura, dan sistem kasta ke Lombok.

  2. 2. Menganut dua bentuk agama

    Potret prosesi pengantin adat Sasak di Lombok Tengah sebagai bagian dari tradisi pernikahan masyarakat Sasak.
    potret prosesi pengantin Sasak di Lombok Tengah (commons.wikimedia.org/Midori)

    Sebagian besar orang Sasak menganut Islam, tetapi mereka juga mempertahankan beberapa adat istiadat sosial tradisional, termasuk pembagian kasta. Mereka mempraktikkan dua bentuk Islam yang disebut Wetu Telu dan Wetu Lima, ungkap Britannica. Wetu Lima mengikuti praktik umum umat Muslim yaitu salat lima kali sehari. Wetu Telu menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi lokal, dan para pengikutnya biasanya tinggal di desa-desa kecil.

    Para pengikut Wetu Lima biasanya tinggal di desa-desa yang lebih besar. Pemimpin desa dipilih dari tokoh-tokoh Muslim dan tokoh agama tradisional. Penyebaran Islam juga memperkuat sistem keluarga patrilineal Sasak. Akibatnya, laki-laki memperoleh peran yang lebih kuat dalam kepemimpinan keluarga, warisan, dan kendali atas kegiatan ekonomi.

  3. 3. Identitasnya berkaitan erat dengan tari dan drama

    Potret Gendang Beleq, alat musik tradisional berupa gendang besar dari Lombok yang digunakan dalam pertunjukan budaya.
    potret Gendang Beleq (commons.wikimedia.org/Ezagren)

    Budaya Sasak tidak hanya tentang pertanian, perikanan, agama, atau tenun. Tari dan drama juga merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari dan tradisi mereka. Salah satu tarian yang paling populer adalah Gandrung, yang juga terkenal di Pulau Jawa dan Bali. Tarian ini awalnya dipentaskan untuk menghormati dewi padi Hindu Dewi Sri, tetapi saat ini merupakan tarian yang menceritakan percintaan.

    Gendang Beleq adalah salah satu pertunjukan tradisional paling terkenal dari masyarakat Sasak. Pertunjukan ini menampilkan dua gendang besar yang dimainkan dengan iringan grup gamelan berbaris. Di masa lalu, pertunjukan ini digunakan untuk menyemangati para prajurit Sasak sebelum pertempuran. Saat ini, Gendang Beleq sering ditampilkan dalam acara budaya dan upacara tradisional.

  4. 4. Menganut konservatisme Muslim

    Potret seorang penari tradisional Sasak dalam dokumentasi budaya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
    potret seorang penari tradisional Sasak (commons.wikimedia.org/Trisno Utomo Cibodas)

    Sebagian besar penduduk Sasak menganut agama Islam. Karena itu, makanan yang dilarang dalam Islam, seperti daging babi, jarang ditemukan di Lombok. Pengunjung juga harus menghormati adat istiadat setempat selama kunjungan mereka. Salah satu aturan penting adalah menghindari penggunaan tangan kiri saat memberi atau menerima sesuatu, karena dianggap tidak sopan.

    Turis hendaknya menggunakan tangan kanan saat menyapa orang atau memberi dan menerima barang. Pakaian renang diperbolehkan di pantai, tetapi lebih sopan untuk menutupi tubuh dengan pakaian atau sarung sebelum meninggalkannya. Wanita non-Muslim dari negara lain tidak diwajibkan mengenakan penutup kepala di tempat umum. Namun, memilih untuk menutupi kepala sering dianggap sebagai tanda penghormatan terhadap adat istiadat setempat.

    Suku Sasak merupakan bagian penting dari sejarah dan budaya Lombok, dengan tradisi, kepercayaan, seni, dan kehidupan sehari-hari yang unik. Mempelajari warisan mereka membantu orang untuk lebih memahami pulau ini dan kekayaan warisan budayanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More