Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Kebiasaan Selama SMA yang Masih Sering Dilakukan Mahasiswa Baru

5 Kebiasaan Selama SMA yang Masih Sering Dilakukan Mahasiswa Baru
ilustrasi maba (pexels.com/Yusuf Çelik)
Intinya Sih
  • Mahasiswa baru sering masih membawa kebiasaan SMA, seperti menunggu informasi dan mengandalkan orang lain.

  • Banyak maba masih berpikir bahwa kampus hanya soal kelas dan nilai, padahal aktivitasnya jauh lebih luas.

  • Proses adaptasi di kampus menuntut kemandirian yang lebih besar dalam mengelola tanggung jawab pribadi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Masa transisi dari SMA ke dunia kuliah sering kali tidak terasa sedrastis yang dibayangkan. Banyak mahasiswa baru (maba) datang ke kampus dengan kebiasaan yang sudah melekat sejak sekolah, baik karena merasa nyaman maupun karena belum terbiasa dengan lingkungan baru. Hal tersebut sebenarnya wajar karena perubahan cara belajar, pergaulan, hingga tanggung jawab tidak terjadi dalam semalam.

Menariknya, ada beberapa kebiasaan yang tanpa sadar masih terbawa hingga semester awal dan sering ditemui di berbagai kampus. Berikut beberapa kebiasaan yang masih sering dilakukan mahasiswa baru. Apa saja?

1. Menunggu informasi datang tanpa mencarinya lebih dulu

ilustrasi maba
ilustrasi maba (pexels.com/Andy Barbour)

Saat SMA, hampir semua informasi penting biasanya disampaikan langsung oleh wali kelas atau guru. Jadwal ujian, tugas, hingga pengumuman sekolah cenderung sudah tersusun rapi sehingga siswa hanya perlu mengikuti arahan yang ada. Kebiasaan tersebut sering terbawa ketika memasuki dunia kuliah.

Akibatnya, sebagian mahasiswa baru masih terbiasa menunggu kabar dari teman atau ketua kelas sebelum mengambil tindakan. Padahal, tidak sedikit informasi kampus yang hanya diumumkan melalui portal akademik, surel, atau grup tertentu. Ketika terlambat mengecek informasi, risiko yang muncul bukan hanya ketinggalan tugas, melainkan juga urusan administrasi yang lebih penting. Perbedaan kecil ini sering menjadi penyesuaian pertama yang cukup mengejutkan bagi banyak maba.

2. Menganggap semua teman sekelas akan selalu bersama

ilustrasi maba
ilustrasi maba (pexels.com/Yan Krukau)

Lingkungan SMA membuat siswa bertemu kelompok yang sama hampir setiap hari selama bertahun-tahun. Situasi tersebut menciptakan kebiasaan untuk bergerak bersama, mulai dari belajar, makan siang, hingga mengikuti kegiatan sekolah. Tidak heran jika pola itu masih terbawa saat awal kuliah.

Pada kenyataannya, kehidupan kampus jauh lebih cair. Teman satu kelas belum tentu mengambil mata kuliah yang sama pada semester berikutnya. Ada yang aktif organisasi, bekerja paruh waktu, atau memiliki kesibukan lain di luar kampus. Karena itu, mahasiswa baru yang masih berharap semua orang selalu berjalan bersama sering merasa heran ketika lingkar pertemanan mereka cepat berubah. Padahal, kondisi tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan kampus.

3. Datang ke kampus hanya saat ada jadwal kuliah

ilustrasi maba
ilustrasi maba (pexels.com/Yusuf Çelik)

Ketika masih sekolah, alasan utama datang ke lingkungan pendidikan memang untuk mengikuti pelajaran yang sudah dijadwalkan. Setelah bel pulang berbunyi, sebagian besar aktivitas selesai sampai hari berikutnya. Cara pandang seperti ini masih cukup sering ditemukan pada mahasiswa baru.

Padahal, kampus menawarkan banyak ruang yang tidak selalu berkaitan dengan jadwal kelas. Ada seminar, lomba, komunitas hobi, kegiatan sukarelawan, hingga program pengembangan diri yang sering berlangsung di luar jam kuliah. Mahasiswa yang hanya datang, lalu pulang, biasanya melewatkan banyak pengalaman yang sebenarnya bisa menjadi nilai tambah selama masa studi. Ini bukan soal harus mengikuti semua kegiatan, melainkan memahami bahwa kehidupan kampus jauh lebih luas daripada ruang kelas.

4. Mengukur prestasi dari nilai saja

ilustrasi maba
ilustrasi maba (pexels.com/George Pak)

Sejak SMA, nilai rapor sering menjadi ukuran yang paling mudah dilihat untuk menilai pencapaian seseorang. Kebiasaan membandingkan hasil ujian pun kerap terbentuk tanpa disadari. Ketika menjadi mahasiswa baru, cara pandang tersebut sering masih bertahan.

Di kampus, pencapaian seseorang bisa hadir dalam bentuk yang lebih beragam. Ada yang unggul dalam penelitian, aktif memimpin organisasi, mahir membangun jaringan profesional, atau memiliki portofolio yang kuat sejak awal kuliah. Nilai akademik tetap penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan pengalaman selama menjadi mahasiswa. Perspektif ini biasanya baru disadari setelah melihat banyak teman berkembang melalui jalur yang berbeda-beda.

5. Mengandalkan orangtua untuk mengurus hal-hal kecil

ilustrasi ngobrol dengan orangtua
ilustrasi ngobrol dengan orangtua (pexels.com/Julia M Cameron)

Selama SMA, banyak urusan masih dibantu oleh orangtua, mulai dari mengingatkan jadwal kegiatan hingga menyiapkan berbagai kebutuhan administrasi. Karena sudah terbiasa, sebagian mahasiswa baru masih membawa kebiasaan tersebut ketika memasuki dunia kuliah. Hal ini terlihat dari urusan sederhana yang sebenarnya sudah bisa ditangani sendiri, misalnya mengurus dokumen kampus, mencari informasi beasiswa, atau memahami prosedur administrasi tertentu.

Kampus secara tidak langsung menjadi tempat belajar mengelola banyak hal secara mandiri. Bukan berarti maba harus melakukan semuanya sendirian tanpa bantuan siapa pun. Namun, pahamilah bahwa tanggung jawab pribadi semakin besar. Proses inilah yang sering menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama tahun pertama kuliah.

Menjadi maba bukan berarti harus langsung meninggalkan seluruh kebiasaan lama dalam waktu singkat. Sebagian kebiasaan memang masih terbawa karena merupakan bagian dari proses penyesuaian yang alami. Dari beberapa kebiasaan di atas, mana yang paling sering kamu temui di lingkungan kampus?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More