UOB bersama Ruangguru Kenalkan Coding & Literasi Keuangan ke Siswa SD

UOB Indonesia berkolaborasi dengan Ruangguru lewat program UOB My Digital Space untuk memperkenalkan coding dan literasi keuangan kepada siswa SD di berbagai provinsi di Indonesia.
Program ini bertujuan mempersempit kesenjangan digital, membangun kemampuan berpikir logis, serta menanamkan kebiasaan menabung dan pengelolaan uang sejak dini bagi generasi muda.
Dalam kegiatan di SDN Bekasi Jaya I, UOB menyerahkan donasi laptop dan menghadirkan sesi inspiratif yang mendorong anak-anak belajar teknologi secara kreatif dan disiplin menghadapi era digital.
Siapa di sini yang masih sekolah, atau punya adik, keponakan, bahkan anak yang tiap hari masih pakai seragam? Nah, IDN Times penasaran deh kalau ditanya soal cita-cita, jawaban anak-anak zaman now tuh masih “dokter” dan “polisi”, atau sudah mulai kepikiran jadi ahli coding dan programmer? Kalau kamu termasuk yang tertarik sama dunia teknologi sejak dini, pas banget, kamu lagi baca artikel yang tepat.
Baru-baru ini, IDN Times main ke SDN Bekasi Jaya I, Bekasi Timur, untuk melihat langsung kegiatan school outreach dari UOB Indonesia yang berkolaborasi dengan Ruangguru. Kegiatan ini merupakan bagian dari program UOB My Digital Space, yang merupakan bagian dari inisiatif regional bertujuan untuk mempersempit kesenjangan digital serta menghadirkan akses pembelajaran berkualitas bagi generasi muda.
Di Indonesia, komitmen ini hadir melalui UOB My Digital Space bermitra dengan Ruangguru, platform EdTech dengan jangkauan luas di Indonesia. Dilaksanakan selama lima tahun, program ini dirancang untuk membuka akses perangkat dan pembelajaran digital bagi 90.000 pelajar di 500 sekolah yang tersebar di 38 provinsi. Jadi, anak-anak dikenalkan dengan skill digital yang relevan buat masa depan. Wih, menarik ya? Tapi semenarik apa sih?
1. Inspirational talk Xaviera Putri: pintar itu soal cara berpikir

Oke kita lanjut ke sesi selanjutnya dong. Ini dia yang paling ditunggu-tunggu, please welcome: Xaviera Putri yang dikenal sebagai sosok muda inspiratif yang berbagi cerita tentang proses belajar dan bertumbuh di tengah perubahan zaman. Menurut Xaviera, pintar itu gak selalu lahir dari pola tiger parents. Sejak kecil, ia justru tumbuh dekat dengan keluarga dan punya cara unik untuk melatih pola pikirnya, salah satunya lewat pet family dari boneka-boneka kesayangan yang diberi nama, hubungan, sampai ulang tahun. Dari sana, ia belajar connect the dots. Kemampuan bahasa Inggrisnya pun terasah dari kebiasaan membaca buku, bahkan ia kerap ‘bernegosiasi’ dengan orangtua merangkum isi bacaan lewat sinopsis supaya bisa dibelikan buku tersebut.
Seiring waktu, Xaviera menyadari bahwa dunia sudah berubah dan semuanya serba digital. Ia baru mulai belajar coding di awal SMA, tapi dari situlah ia memahami pentingnya computational thinking. Seperti pesan sang profesornya, kita diberi masalah lalu diminta berpikir runtut sebelum mengambil keputusan. Ya, sesederhana mengatur uang jajan agar cukup untuk makan dan minum. Baginya, coding akan terus berkembang, tapi yang paling penting adalah kemampuan beradaptasi dan cara berpikir yang kuat. Biasakan bertanya, bukan hanya ke orang lain, tapi juga ke diri sendiri. “Kalau merasa capek, itu tandanya kamu sedang tumbuh,” ucap sang peserta Clash of Champions Ruangguru itu.
Soal prinsip hidup, Xaviera mengaku lebih percaya pada disiplin dibanding motivasi. Menurutnya, orang yang bekerja keras bisa mengalahkan orang pintar selama disiplin itu dijaga. Ia menekankan disiplin waktu di mana membagi jam belajar dan istirahat secara konsisten sejak SMA, serta disiplin mental, termasuk menjaga ibadah. Dengan fondasi itu, Xaviera percaya seseorang bisa melangkah lebih jauh dan bertahan menghadapi tantangan apa pun. Dua jempol deh!
2. Literasi keuangan dan teknologi: fondasi penting generasi masa depan

Kita lanjut ke sesi selanjutnya yakni “Literasi Keuangan” yang dipaparkan oleh perwakilan dari UOB Indonesia. Lewat sesi bertajuk #YukNabung: Belajar Mengelola Keuangan Sejak Dini, para siswa diajak memahami pentingnya kebiasaan menabung sejak usia sekolah. Pada kesempatan ini, UOB juga memperkenalkan produk Simpanan Pelajar (SimPel), sebuah tabungan khusus yang dibuat atas nama anak-anak sendiri dan dilengkapi dengan buku tabungan, sehingga mereka bisa belajar mengelola uang secara mandiri sejak dini.
Lalu, apa hubungannya teknologi dan juga literasi keuangan? Nah, kalau ini menarik banget nih buat kita bahas. Secara eksklusif, Luke Ariefiandi Nugraha selaku Head of Strategic Communications and Brand, UOB Indonesia, mengungkapkan bahwa UOB memiliki tiga pilar: art, children, dan education di mana UOB memiliki komitmen untuk membangun masa depan ASEAN, termasuk Indonesia.

“Kami ingin generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Karena itu, penguasaan teknologi menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki sejak dini. Melalui UOB My Digital Space, kami tidak hanya fokus pada coding, tetapi juga literasi digital dan computational thinking—kemampuan berpikir logis dan terstruktur yang berguna, bukan hanya untuk pemrograman, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan teknologi, termasuk memahami risiko seperti penipuan digital, agar anak-anak lebih waspada dan bijak dalam memanfaatkan teknologi,” ucapnya.
3. Seremonial UOB My Digital Space: donasi laptop untuk generasi melek digital

Setelah kedua sesi tersebut, UOB Indonesia bersama Ruangguru secara simbolis memberikan laptop untuk sekolah yang mereka sambangi. Tujuannya jelas, untuk membakar semangat sekaligus mempersiapkan generasi muda yang melek finansial dan digital.
“Sebagai bank, kami selalu berpikir dalam perspektif jangka panjang. UOB My Digital Space merupakan inisiatif UOB Group yang pertama kali dimulai pada 2020, bertepatan dengan masa pandemi, saat kebutuhan pembelajaran jarak jauh mendorong kami untuk memberikan dukungan berupa perangkat laptop. Seiring perayaan 90 tahun UOB Group pada tahun lalu, inisiatif ini pun dikembangkan menjadi program yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada dukungan fisik, tetapi juga pada upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan. Karena itu, UOB My Digital Space dirancang sebagai program berkelanjutan selama lima tahun, sebagai wujud komitmen jangka panjang UOB dalam mendukung pendidikan dan pengembangan keterampilan digital,” jelas Luke.
4. Anak sekolah dasar bisa coding, literasi keuangan jadi lebih seru dan kreatif

Last but not least, IDN Times benar-benar dibikin speechless. Awalnya sempat bertanya-tanya, apakah materi coding bisa diberikan kepada anak sekolah dasar? Nyatanya, bisa dan mereka mampu! IDN Times pun secara eksklusif menyaksikan langsung kelas coding di SDN Bekasi Jaya I ini, bahkan melihat beberapa siswa tampil percaya diri mempresentasikan proyek yang mereka kerjakan sendiri.
“Jadi justru lewat program coding ini, mereka bisa menemukan kesenangan saat belajar. Tadi kita lihat sendiri, mereka bisa pilih ceritanya, pilih gambarnya, jadi imajinasi dan kreativitasnya jalan. Tapi di saat yang sama, kita juga mengajak mereka untuk tetap belajar. Menurut saya, ini cara yang lebih efektif di zaman sekarang. Apalagi tadi saat mereka diminta pegang handphone, kelihatan fokus, gak ada yang sibuk ngobrol, karena dari awal mereka sudah dilatih untuk mengembangkan ide dan berpikir sendiri,” tutup Luke.
Wow, ada yang bisa tandingi ini? Inspiratif banget ya! (WEB/AD)